Batik Air-Transnusa, Bukti Manajemen Penerbangan Sipil Tak Profesional

Jakarta, Obsessionnews - Pengamat penerbangan Marsekal TNI (purn) Chappy Hakim menilai, bahwa kecelakaan senggolan pesawat di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Senin (4/4/2016) malam WIB adalah salah satu akibat manajemen dunia penerbangan sipil Indonesia yang masih menyedihkan. Chappy melalui sosmednya hari ini menyebut Bandara Halim Perdanakusuma hanya punya satu runway (landasan pacu), tempat parkir pesawat (apron) yang sempit, serta tak ada taxiway atau jalan penghubung antara apron dengan landasan pacu. Sehingga tak cocok bahkan berbahaya bagi penerbangan komersial. Pada Selasa (5/4/2016) pagi, Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) akan menyelidiki kotak hitam (black box) kedua pesawat yang bersenggolan di Bandara Halim Perdanakusuma itu. Pesawat Batik Air Boeing 737-800 nomor registrasi PK-LBN, nomor penerbangan ID 7703 rute Halim Perdanakusuma- Sultan Hasanuddin Makassar, menyenggol pesawat ATR Transnusa no reg. PK TNJ di landasan pacu Halim Perdanakusuma. Batik, menurut Manajer Humas Lion Air Group, Andy M Saladin sudah mendapat izin untuk lepas landas dari Menara Kontrol Bandara (ATC). Saat proses lepas landas, di landas pacu ada Transnusa yang sedang ditarik traktor ke apron. Kedua pesawat itu bersenggolan, akibatnya sayap kiri ATR rusak parah, ekornya rusak. Batik Air rusak pada ujung sayap sebelah kiri. Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono mengatakan, pihaknya masih dalam tahap pengumpulan data. Selasa pagi akan mendownload rekaman black box, kemudian kembali ke Halim PK untuk menanyakan pada petugas. Selain itu pihaknya akan meminta rekaman percakapan antara menara ATC dengan pilot Batik Air. @BaronPskd





























