The Untold Story Sang Menteri

The Untold Story Sang Menteri
Obsessionnews – Jalan hidup seseorang adalah rahasia Tuhan. Tak ada yang bisa memastikan, siapa menjadi apa. Sekalipun cita-cita sudah terpatri dan peluang terbuka begitu menanti, namun belum tentu itu merupakan jalan yang harus dilewati. Seperti itulah cerita hidup seorang Pratikno, Menteri Sekretaris Negara RI. Cerita hidup yang unik dan menarik bahkan kadang-kadang miris, adalah episode demi episode yang kemudian mengantarkannya menjadi seorang menteri. Kisah itu sempat ia ceritakan kepada putrinya yang ingin menulis tentang dirinya untuk tugas sekolah. Tapi karena saking sedihnya cerita yang dipaparkan Pratikno, sampai-sampai anaknyapun sempat tidak percaya. “Anak saya tidak percaya, saya dibilang bohong, haha.. Padahal ini sungguh cerita asli, tidak pernah saya cerita ke orang lain selain anak saya dan dalam wawancara ini,” ujar suami dari Siti Faridah ini sembari masih menyisakan senyumnya. [caption id="attachment_113455" align="alignleft" width="292"]Majalah Men's Obsession Edisi April 2016. Majalah Men's Obsession Edisi April 2016.[/caption] Lahir di Desa Dolokgede, Tambakrejo, Kabupaten Bojonegoro, 13 Februari 1962, Pratikno merupakan putra dari pasangan orang tua yang dua-duanya berprofesi sebagai guru. Tapi sayangnya, kondisi pendidikan saat ia duduk di bangku SD sungguh memprihatinkan. Saat Pratikno pertama kali belajar, ruang kelasnya harus bergantian. Minimnya ruang kelas membuat sekolah tak punya tempat untuk menampung buku bacaan yang merupakan sumbangan untuk SD Inpres (Instruksi Presiden) waktu itu.  Rumah Pratikno yang tak jauh dari sekolah akhirnya dijadikan ‘perpustakaan’. Di situlah Pratikno kecil mendapat untung bisa membaca buku setiap hari. “Karena buku pelajaran ditaruh di rumah semua, maka setiap hari saya bebas membaca buku-buku itu,” ceritanya. Itulah pengalaman yang kemudian membentuk Pratikno sebagai sosok yang gemar membaca. Lulus SD, ia harus berjuang lagi untuk sekolah di SMP. Letak sekolah SMP sangat jauh dari rumahnya. Sepeda ontel menjadi moda transportasinya kala itu. “Kalau musim hujan, minta ampun. Licin. Jadi seringnya sepeda saya di atas (diangkat) daripada di bawah (dikayuh),” lagi-lagi ia tertawa. Karena jauhnya lokasi sekolah dengan rumah, Pratikno akhirnya indekos di lokasi terdekat sekolah. Saat itulah ia harus mandiri. Usai solat Subuh, ia harus menanak nasi sendiri dan makan dengan lauk seadanya. Selepas SMP, kecerdasannya mulai terlihat. Ilmu aljabar (berhitung) adalah pelajaran favoritnya hingga sang guru senang dengannya karena pintar dalam ilmu hitung menghitung tersebut. “Saya pinter di aljabar waktu itu tuh, jadi the best two dari lima kelas itu selalu ada saya dan salah satu temen saya namanya Uuk. Saya lupa. Perempuan. Saya nggak tahu ia sekarang dimana. Jadi karena saya dulu terkenal di SMP karena aljabar. Pokonya aljabar, guru saya namanya pak Agus, sayang banget sama saya karena paling pinterlah kalo aljabar,” bebernya.  Pindah ke SMA, sekolahnya lebih jauh lagi. Letaknya 40 km dari rumah. Tepatnya di Kabupaten Bojonegoro. “Saya di titipin ke temannya bapak saya,” tukasnya. Ia harus mengurus sendiri keperluan untuk SMA karena sang ayah sedang sibuk lantaran saat itu tengah mencalonkan diri sebagai Kepala Desa. “Bapak lagi sibuk, jadi ya sudah kita nyari sekolah sendiri, daftar sendiri, diterima masuk SMA jurusan IPA,” ujar Pratikno yang selain suka pelajaran matematika juga fisika. Lulus SMA, Pratikno punya kisah menarik. Ceritanya, ketika akan memutuskan untuk kuliah dimana dan di fakultas apa, ia teringat akan kesuksesan salah seorang sepupu ibunya yang menjadi Sekretaris Daerah (Sekda) Bojonegoro. “Saya biasa panggil Paklek Hartati, jadi Sekda Bojonegoro. Imajinasi saya waktu SMA jadi Sekda itu enak. Rumahnya bagus, terasnya keramik. Mengkilap,” kenangnya. Setiap kali lewat depan rumahnya ia selalu berdecak kagum. Dari situlah keinginannya semakin kuat untuk menjadi Sekda. Untuk itu, sesuai saran ayahnya juga, ia harus masuk fakultas sosial politik. Tapi sang ibu yang selama ini tekun menjadi guru, ingin anaknya menjadi pengajar dan kuliah di Institut Keguruan Ilmu Pendidikan (IKP). “Jadi ini ada persaingan antara bapak dan ibu, kalo bapak saya ingin saya masuk pemerintah, ibu saya ingin saya jadi guru. Tapi gara-gara ada saudara jauh yang jadi Sekda yang saya sering lewat depan rumahnya, lihat terasnya mengkilap itu yang membuat saya berpikir, menjadi Sekda itu bisa punya teras yang mengkilap yang keliatan dari jalan. Nah cita-cita itu ya itu,” terangnya. Akhirnya, meski sempat kuliah di Fakultas Hukum, Pratikno akhirnya menambatkan pilihannya di Ilmu Pemerintahan Fisipol UGM, Yogyakarta hingga mendapatkan S1. Di masa perkuliahan itulah Pratikno kembali menmpa diri. Sampai kemudian ia mendapatkan predikat ‘siswa teladan’ dengan IP tertinggi. “Saya dapat hadiah studi lapangan ke Cilacap dan melakukan riset di Kampung Laut, antara Cilacap dan Nusa Kambangan. Dulu masih di tengah laut, sekarang sudah menyatu dengan daratan pasca gunung Galunggung. Di Kampung Laut itulah saya mulai tertarik riset. Itu yang mengubah hidup saya, yang tadinya cita-cita jadi Sekda, mulai goyang. Cukup menarik juga ternyata jadi peneliti, jadi akademisi,” ucapnya. Suami dari Dra. Ec. Siti Faridah ini kemudian bergabung sebagai pengajar di UGM sejak tahun 1986, setahun setelah ia mendapatkan gelar sarjananya. Tahun 2003, ia ditunjuk sebagai direktur Program Pascasarjana Prodi Ilmu Politik Konsentrasi Politik Lokal dan Otonomi Daerah sekaligus Wakil Dekan bidang Akademik FISIP UGM sejak tahun hingga tahun 2004. Tapi ada cerita miris juga dalam perjalanannya menjadi dosen dimana pada suatu ketika ia harus menjual motor kesayangannya untuk kursus bahasa Inggris dan mengambil S2 di Department of Development Administration University of Birmingham. Maklum, karena sudah bekerja sebagai dosen, tabu rasanya minta uang lagi kepada orang tua. Untungnya lagi, ia masih ada sedikit tambahan uang dari hasil menulisnya sebagai kolumnis di harian Jawa Pos. Aktivitasnya sebagai akademisi itu pulalah yang kemudian mengantarkan Pratikno ditunjuk menjadi moderator debat capres tahun 2009 dan diangkat sebagai tim seleksi anggota KPU dan Bawaslu. Kesuksesan kembali mengantarkan peraih S3 di Department of Asian Studies, Flinders University of South Australia ini ketika civitas akademika UGM menabalkan sebagai Rektor UGM pada Maret 2012. Sebelum pemilihannya sebagai rektor, ia dinobatkan menjadi Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UGM pada tahun 2010. (Naskah: Sahrudi/Men’s Obsession) Kisah hidup Menteri Sekretaris Negara RI Pratikno secara lengkap dapat dibaca di Men’s Obsession Edisi April 2016.