Konyol! Pemuda Tak Peduli Ketahanan dan Kedaulatan Pangan

Konyol! Pemuda Tak Peduli Ketahanan dan Kedaulatan Pangan
Jakarta, Obsessionnews - Komunitas Usaha Pertanian Sentra Usaha Tani dan Agribisnis Nusantara (KUP Suta Nusantara) mengritisi minimnya peran dan partisipasi pemuda dalam ketahanan dan kedaulatan pangan. “Telah menjadi keprihatinan banyak pihak bahwa pemuda enggan berperan dan berpartisipasi dalam ketahanan dan kedaulatan pangan. Kalau ada pun hanya segelintir kelompok pemuda yang terlibat dan peduli dengan ketahanan dan kedaulatan pangan,” ungkap Ketua Umum KUP Suta Nusantara, Dadung Hari Setyo kepada obsessionnews.com, Senin (4/4/2016). Dadung mengingatkan, rendahnya peran partisipatif serta kepedulian pemuda tersebut memang moralitas dan mentalitas nya tengah terjadi degradasi. “Pemuda yang seharusnya menjadi salah satu pilar penting dalam pembangunan pertanian namun kebanyakan pemuda sangat apatis dalam pembangunan pertanian,” bebernya. Hal ini, menurut Dia, banyak faktor yang mempengaruhi. Salah satunya adalah mindset pemuda yang tidak memiliki visi yang pro aktif dalam kehidupan sosialnya. “Artinya, banyak pemuda yang makin tidak peduli dengan masa depannya, masa depan daerahnya, masa depan bangsanya,” paparnya. Ia menilai, kebanyakan pemuda hanya berpikir sesaat, saat ini saja. “Ini adalah krisis sosial di kepemudaan. “Kalaupun ada pemuda yang kreatif, itu pun tidak bertahan lama, kebanyakan hanya 2 - 3 tahun kreatifitasnya pudar,” ungkapnya pula. Dadung HS6 Kondisi tersebutlah, jelas Dadung, yang juga terjadi secara masif di pertanian, pemuda enggan hidup dengan beraktifitas atau berbisnis swadaya mandiri di bidang pertanian. “Sehingga secara generasi baik kuantitas dan kualitas sumber daya pertanian menurun dratis, lahan-lahan di daerah semakin banyak yang tidak tergarap dan menjadi lahan tidur abadi,” tambahnya. Pemuda pun, lanjut Dia, banyak yang menganggur di desa-desa. “Pemuda lebih suka sebagai butuh industri ketimbang jadi petani. Di industri atau buruh bangunan, mereka bisa mendapatkan gaji harian 75 ribu hingga 100 ribu rupiah per hari. Sedangkan jadi petani upahnya 30 sampai 50 ribu rupiah per hari,” tandasnya. Mengapa pemuda berebut menjadi buruh industri atau buruh bangunan? Hal ini, ungkap Dadung, karena kebanyakan pemuda tersebut pendidikan dan skill-nya rendah. Terkait hal itu, menurutnya, pemerintah pusat daerah dan sampai desa agar segera memprioritaskan peningkatan kapasitas SDM pemuda, yakni meningkatkan pengetahuan dan skill-nya supaya mereka dapat bekerja berusaha menggunakan media belajar dan alat mesin atau tehnologi terapan yg unggul agar mereka dapat bersaing di dunia usaha pertanian. “Mereka harus dapat bertani dengan baik, mengolah hasil pertanian dengan kualitas yang baik serta mereka mampu meningkatkan pedapatan yang selalu meningkat. Kehadiran pemuda dalam pembangunan sangat dibutuhkan sebagai regenerasi pelaku usaha dalam pertanian,” tuturnya. Dadung HS3 “Sebenarnya kita berharap banyak kepada TNI untuk mendidik pemuda agar memiliki jiwa dan semangat dalam peran dan partisipadi dalam mewujudkan ketahanan dan kedaulatan pangan. Karena TNI sudah sangat lengkap sistem pendidikan dan operasionalnya di lapangan dibanding lembaga-lembaga lain yang kebanyakan kegiatannya dari seminar-seminar ke diskusi-diskusi dan sebaliknya, yang di lapangan tidak nampak,” pinta Dadung. Ia menegaskan, pihaknya sangat mengapresiasi TNI terjun ke lapangan bersama-sama petani serta melatih pemuda bergerak di pertanian dan di beberapa daerah sudah dilakukan KUP Suta Nusantara seperti di Sumatera Selatan dan Jawa Barat dan sebagainya. Namun, tegas Dia, hal itu tidak cukup karena TNI dan petani peralatan pertaniannya sangat terbatas sehingga perlu pihak lain turut serta. “Menurut pendapat saya peran dari Kementerian Pertanian juga sangat cukup tapi lagi-lagi di bawah banyak yang belum siap dan cenderung masih ada yang coba-coba nakal. Masih coba main-mainkan pupuk benih dan sebagainya. Tapi dibanding sebelum-sebelumnya, saat ini sudah lebih baik,” pungkasnya. “Peran pemuda dalam pertanian sebenarnya sangat menjanjikan secara ekonomi. Di Jawa saja, relatif lahan pertanian di desa minimal 500 hektar sampai 1500 hektar. Belum lagi di luar Jawa, bahkan ada yang 5000 hektar. Coba bila potensi tersebut direncanakan dan digarap secara strategis, saya kira potensi tersebut bisa memakmurkan dan mensejahterakan pemuda dan masyarakatnya!” serunya. Dadung HS4Ironis Dadung menilai, ironis sebenarnya peran partisipatif pemuda saat ini. Seharusnya, mereka membangun kopetensi di era yang penuh dengan kompetisi. “Sayangnya, Pemuda di tingkat atas lebih suka bermain di bidang politik, bermain politik praktis karena mereka kebanyakan belum cukup untuk menguasai ilmu-ilmu perpolitikan dan karena terbawa oleh trend sosial atau komunitas kekinian mereka mengadu nasibnya di kancah politik, al hasilnya banyak di kalangan pemuda menjadi korban perpolitikan,” paparnya. Ia mengungkapkan, tidak sedikit pemuda yang kesandung dengan masalah korupsi dan asusila di lingkungan politik. “Seharusnya peran pemuda di politik melakukan perubahan yang lebih baik, semboyan politik potong satu generasi itu hanya slogan, justru pemudanya yang terpotong secara generasi?” bebernya. Dadung HS2 “Dan sangat strategis bila para pemuda yang berkiprah di politik guna melihat dan terjun di lapangan untuk bersama-sama belajar dengan para petani, mendedukasi petani, sehingga peran-peran partisipatif pemuda tersebut dapat menjadi investasi berpolitik,” terangnya. Tapi, menurut Dadung, hal ini nampaknya sulit bagi pemuda karena pemuda di level atas cenderung suka sebagai pemain (beraktifitas untuk organisasi lsin) dibanding sebagai pelaku. “Pemuda harus menjadi pelaku (beraktifitas untuk dirinya dan masyarakat) secara politis sehingga muncul leadership-leadership baru di kalangan pemuda. Dan saat ini pembangunan pertanian di lapangan membutuhkan keleadershipan pemuda dalam mewujudkan ketahanan dan kedaulatan pangan,” ajaknya. (Red)