MKK Syiarkan Tradisi Keilmuan Ulama Nusantara

Jakarta, Obsessionnews - Ihyau’tturats, menghidupkan tradisi keilmuan ulama Nusantara melalui Musabaqah Kitab Kuning (MKK) tidak sekadar membangun semangat untuk mahir dalam membaca dan memahami karya ulama. Lebih dari itu MKK yang diinisiasi oleh Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar atau Cak Imin ini adalah menghidupkan tradisi pesantren. Yakni tradisi keilmuan ulama yang di dalamnya terdapat spirit keikhlasan, ketekunan, dan ketawadluan. Juga kebiasaan mendo’akan untuk kemaslahatan bangsa ini. “Saya meyakini bahwa spirit ini merupakan asas budaya bangsa Indonesia yang telah lama disemai dan ditanam oleh para ulama. Asas budaya yang kemudian tumbuh menjadi karakter bangsa, meski kini sedikit layu dan memudar,” kata anggota Fraksi PKB DPR Neng Eem Marhamah Zulfa Hiz dalam keterangan tertulisnya yang diterima Obsessionnews.com, Minggu (3/4/2016). Santri dengan kesantriannya dan kiai dengan ketokohannya adalah kontribusi nyata sumber daya berkualitas, khususnya di bidang sosial dan keagamaan. Hal ini dapat dilihat melalui tradisi keilmuannya yang didukung oleh tradisi keagamaan yang kuat. Tradisi keagamaan yang kuat ini bukanlah praktik sosial yang kaku dengan cara pandang yang sempit, melihat benar versus salah, hitam lawan putih. Namun, tradisi keagamaan yang kuat ini adalah praktik keagamaan dengan cara pandang yang belajar dari sifat Rahman Allah dan visi kerasulan SAW, yakni Rahmatan lil ‘alamin, pesan kemanusiaan untuk keadaban. “Saya melihat tradisi keilmuan para ulama justru paling dekat dengan cita-cita proklamasi. Atau bisa jadi cita-cita proklamasi itu adalah masukan dari para ulama. Karena itu pula, saya melihat cita-cita prokalamasi akan semakin mudah diraih oleh karena nilai yang melekat pada tradisi ulama selama ini,” kata Neng. Di antara nilai tersebut, lanjutnya, adalah kejujuran, kebenaran, kesungguhan dan keterbukaan yang bersumber pada hati nurani (Ash-Shidqu). Sikap dapat dipercaya, setia dan tepat janji serta mampu memecahkan masalah sosial yang dihadapi (Al-Amanah wa al-Wafau bi Al-‘Ahdi). Selain itu juga bersikap dan bertindak adil dalam segala situasi (al’adalah) tolong-menolong dalam kebaikan (at-ta’awun), konsisten dalam menjalankan ketentuan yang disepakati (al-Istiqomah), mau bermusyawaroh yang menempatkan demokrasi sebagai pilar utamanya dan persamaan kedudukan setiap warga negara di depan hukum (Al-Musawa). “Inilah mengapa saya menyebutkan bahwa tradisi keilmuan ulama Nusantara adalah spirit dan model pembangunan Indonesia di masa yang akan datang. Bahkan sejak dulu meski kesempatan yang diberikan kala itu masih kecil,” ujarnya. Kitab Ihya Ulumuddin, master peace Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali yang dilombakan ini bukanlah karya di awal karier akademiknya. Justru kitab ini menjadi puncak perjalanan intelektual, mental dan spiritual Imam Al-Ghazali pada tiga fase kehidupannya, yakni sebagai intelektual yang rasional, pribadi yang pernah berkarier di pemerintahan. Kemudian pada masa pensiunnya lebih banyak berkontemplasi dan kembali kepada peran akademiknya yang utuh. Ini dapat dimaknai bahwa kelangsungan dari sesuatu itu adalah karena adanya ruh, spirit, atau dalam tingkat praksisnya adalah mentalitas dan kemampuan praktis. Berbicara ruh, spirit dan semangat pembangunan termasuk peran di dalamnya bukanlah hal baru bagi tradisi ulama. Karena tradisi keilmuan ulama tidak saja pada aspek suprarasional (kehidupan akhirat), tapi juga kemanfaatan hidupnya bagi manusia lainnya (Khairunnas Anfa’uhum linnas) yang juga disebut sebagai bentuk dari kebarokahan ilmu. Dan lagi kaum santri adalah kelompok yang paling cepat beradaptasi terhadap perubahan. “Saya coba memahami bahwa apa yang diinisiasi oleh Cak Imin tentang MKK ini adalah bentuk keta’dzimannya Cak Imin kepada para Ulama,” kata Neng. Menurutnya, selama ini para ulama senantiasa berada di balik panggung kemerdekaan dan pembangunan Indonesia. Beberapa ulama yang kemudian mengambil peran dalam politik, ekonomi dan lain sebagainya mencerminkan bahwa santri sudah semestinya mengambil peran pembangunan secara langsung. Dan tradisi keilmuan ulama Nusantara dapat menjadi spirit sekaligus model pembangunan Indonesia di masa yang akan datang. (arh, @arif_rhakim)





























