Air Desa Melimpah, Warga Lakukan 'Nyadran'

Air Desa Melimpah, Warga Lakukan 'Nyadran'
Beragam cara menghormati alam dilakukan masyarakat di seluruh penjuru dunia. Seringkali penghormatan tersebut diwujudkan dalam bentuk ritual atau tradisi turun temurun. Salah satunya datang dari warga Desa Kandri, Kecamatan Gunung Pati, Kota Semarang.Semarang, Obsessionnews – Sebagai ucapan syukur sekaligus penghormatan atas melimpahnya air di desa, ratusan warga Desa Kandri mengadakan selamatan berupa festival Nyadran Kali berbalut kirab tumpeng budaya. Para warga yang datang sedari pagi nampak sumringah mengikuti jalannya acara. Festival dimulai dengan pengurasan sumber mata air kecil di dekat desa. Prosesi pengurasan ini dilakukan tiap setahun sekali agar sumber mata air selalu bersih. Usai menguras, mereka lantas berbaris di gerbang desa, bersiap-siap mengarak tumpeng menuju Sendang Gedhe. Yang menarik, ratusan warga kompak berbusana adat. Seluruh lelaki desa berada di barisan depan bergantian membopong kepala sapi, yang diletakkan di atas nampan bambu. Sementara kaum hawa, berada di bagian belakang seraya membawa daun pisang. Daun-daun ini nantinya digunakan sebagai tempat makan dalam ritual Dhahar Kembul. [caption id="attachment_112314" align="aligncenter" width="640"]Pemuda desa membentangkan MMT di barisan depan Pemuda desa membentangkan MMT di barisan depan[/caption] Tetua adat lantas berdiri tegak di hadapan rombongan. Dengan lantang, ia membacakan doa guna memberkati rombongan menuju Sendang Gedhe. Sepanjang jalan, iringan musik rebana dan tabuhan gong menyemarakkan festival. Sesampainya di dekat Sendang Gedhe, rombongan tidak langsung menuju lokasi. Terdapat serah terima sesaji kepada juru kunci. Usai penyerahan, bersama-sama mereka berjalan ke arah sendang. Disinilah puncak acara tiba. Para ibu-ibu meletakkan daun pisang, membentuk barisan panjang meja makan alami. Satu persatu bekal yang dibawa dikeluarkan, diratakan diatas dedaunan. Hingga kemudian tetua adat memberi aba-aba agar warga duduk dan makan bersama-sama. Tua muda dengan lahap makan dari satu tempat tanpa memandang status jabatan, lebih-lebih usia. Sebuah simbol guyub rukun, khas masyarakat Indonesia yang sudah jarang ditemukan. Camat Gunung Pati, Bambang Pramusinto menjelaskan, sejatinya ritual ini telah ada turun temurun. Pada jaman dahulu, para istri yang sering yang menunggu suami di sawah, menanti di dekat sendang sambil membawa daun pisang. Hingga kemudian, warga beramai-ramai melestarikan tradisi tersebut dengan membuat arak-arakan. “Selain itu, ini wujud rasa syukur kami dimana Sendang Gedhe tidak pernah surut, meskipun musim kemarau datang,” ujar dia kepada Obsessionnews.com, Rabu (31/3/2016). Menurutnya, Sendang Gedhe memiliki banyak manfaat bagi warga. Selain memenuhi kebutuhan sehari-hari, warga juga kerapkali memakai air sendang untuk mengairi sawah ketika musim panas berkepanjangan. “Dan alhamdulillah, karena desa Kandri sudah ditetapkan sebagai desa wisata, festival Nyadran Kali kali ini telah dibayai oleh APBD,” tambah dia. Bambang pun berharap, ke depan festival seperti ini dapat diselenggarakan terus menerus. Selain nguri-uri budaya, festival Nyadran Kali juga dapat menjadi destinasi menarik bagi para wisatawan. (Yusuf IH)