Blok Natuna Tersimpan Cadangan Gas Bumi 222 Triliun

Blok Natuna Tersimpan Cadangan Gas Bumi 222 Triliun
Jakarta, Obsessionnews - Anggota Komisi XI DPR RI Heri Gunawan memprediksi persoalan Indonesia dengan Kapal Coast-Guard China perairan Natuna apabila tidak segera diatasi maka, kedepan bisa menjadi bom waktu. Sebab, ‎ia menyebut Natuna memiliki kekayaan alam luar biasa. Berdasarkan data yang ia miliki Blok Natuna D-Alpha, misalnya, tersimpan cadangan gas dengan volume 222 triliun kaki kubik (TCT). Cadangan itu tidak akan habis hingga 30 tahun mendatang. Sementara itu, potensi gas yang recoverable di Kepulauan Natuna sebesar 46 tcf (triliun cubic feet) atau setara dengan 8,383 miliar barel minyak. Lebih jauh, jika digabung dengan minyak bumi, terdapat sekitar 500 juta barel cadangan energi hanya di blok tersebut. “Jika diuangkan, kekayaan gas Natuna bernilai mencapai Rp6.000 triliun. Nilai itu sama dengan 3 kali lipat APBN saat ini. Tercatat, beberapa perusahaan asing seperti Petronas (Malaysia), ExxonMobil (AS), Chevron (AS), Shell (Inggris-Belanda), StatOil (Norwegia), ENI (Italia), Total Indonesie (Perancis), dan China National Petroleum Corporation (China) pernah bercokol di situ dan ikut menikmati untung besar,” katanya, Jumat (25/3/2016) Karena itu, ia meminta Pemerintah Indonesia harus berani bersikap tegas untuk melayangkan nota protes ke China. Ia menilai ‎Kapal Coast-Guard Cina yang menghalang-halangi kapal KKP di Wilayah NKRI harus dipandang sebagai bentuk pelecehan terhadap Kedaulatan Republik Indonesia. Heri khawatir bila pemerintah tidak tegas, maka, persoalan ini akan kembali diulang. Negara-negara luar bebas mencuri ikan diperainan Indonesia. "Sikap-sikap Cina seperti itu sangat bisa jadi akan terulang kalau pemerintah Republik Indonesia tidak mengambil sikap tegas dan tuntas. Ini bukan hanya soal kapal ikan yang melakukan illegal fishing tapi ini pencaplokan tersistematis untuk tujuan-tujuan jangka panjang,” ujarnya. Politisi Gerindra ini menduga, China punya tujuan terselubung dalam rangka ingin menguasai perairan Natuna, karena motif penguasaan Sumber Daya Alam. “Jangan berbicara ini adalah urusan negara lain, jangan juga berbicara tidak ikut-ikutan. Kedaulatan Natuna milik Indonesia, kedaulatan laut teritorial Indonesia, Jangan biarkan bangsa asing menginjak-injak wilayah Kedaulatan NKRI walau hanya sejengkal,” katanya.‎‎ (Albar)