Perbaikan Dwelling Time di Tanjung Priok Sudah Dekati Target

Jakarta, Obsessionnews - Perbaikan dweling time (waktu tunggu barang di pelabuhan) di Tanjung Priok, Jakarta Utara, kini mendekati target permintaan Presiden Jokowi, yang kini prosesnya sudah mencapai 3,6 hari atau 78 jam melalui pembenahan di jalur kereta api, pembenahan fisik, bea cukai, hingga ke sistem teknologi informasi (TI). Meski Presiden Jokowi meminta pekerjaan dweling time selesai cepat sampai dua hari, perbaikan persoalan tersebut kini dapat dilakukan selama 3,6 hari. Menurut penasihat senior Menteri Koordinator Maritim, Laksamana Marsetio, kerja keras saat ini sudah dapat terlihat guna mencapai target. “Per 14 Maret penyelesaian dweling sudah capai 3,6 hari, langkah yang digunakan adalah deregulasi perizinan yang selama ini memakan konsumsi dweling time paling tinggi,” jelasnya dalam konferensi pers di ruang rapat Menko Maritim, Jakarta. Senin (14/3/2016) Marsetio menuturkan, saat ini banyak peraturan yang dihapus guna menyederhanakan dweling time tersebut. Beberapa strategi tersebut termasuk pembenahan penyaluran dan pemeriksaan fisik. “Barang datang, kalau masuk jalur merah atau pemeriksaan fisik, paling telat hari berikutnya sudah selesai,”tuturnya. Selanjutnya, importir dapat diberitahukan Pemberitahuan Barang Impor (PBI) kalau pengangkutnya bisa mengajukan pre notification. Peraturan tersebut ada sejak lama, namun importir tidak mau melakukannya. Selain itu, pemeriksaan risk manajemen agar di jalur merah saat ini ada di angka 6 persen, artinya jika terus kena merah diharapkan dapat langsung ke jalur hijau atau kuning. pembenahan dweling time juga dilakukan melalui jalur kereta api yang saat ini pembangunan rel sudah mencapai 95 persen, pihaknya yakin dalam waktu dekat sudah dapat dioperasikan. Terakhir, melalui sistem TI melalui Indonesia National Single Window, di mana dalam waktu dekat pengelola memiliki tugas khusus yakni mengatur trade nett dan port nett. Mengurangi dwelling time harus melihat pelabuhan di sekitar Tanjung Priok, Merak, Banten misalnya ada tiga pelabuhan yang bisa disiapkan menampung container termasuk juga tempat sandar kapal. “Ini akan kita dalami bersama teman di Pelindo dan Perhubungan untuk lihat berapa besar mampu mendukung agar dwelling time bisa berkurang,”pungkas Marsetio. (Aprilia Rahapit)





























