Teater Indonesia Perlu Didukung Pemerintah

Jakarta, Obsessionnews - Pendiri Teater Koma, Ratna Riantiarno mengungkapkan, sekaerang ini teater seperti dianaktirikan, sebab kesenian teater tidak masuk dalam kurikulum pendidikan sekolah. Cuma masuk pada kegiatan ekstrakulikuler. "Teater seperti dianaktirikan. Ada kelompok sekolah mendukung teater, ada juga yang tidak mendukung," ungkapnya di forum seni teater Sharing Session, Jakarta, Sabtu (5/3/2016). Bank BCA berkomitmen mendorong pembentukan karakter generasi muda. Siswa siswi selain diajak nonton pertunjukan karya Teater Koma berjudul ‘Semar Gemar‘, juga dilibatkan sharing session “Seni Teater” ini. Menurut Ratna Riantiarno, melalui teater seseorang bisa membentuk karakter disiplin, dan tanggung jawab yang tinggi, menghargai dan memahami kerja sama kelompok, serta dapat mengetahui banyak hal. "Manfaat seni teater tidak hanya di dunia teater saja seperti seni rupa, tari atau koreo grafi. Tapi manfaatnya jugabisa diperankan dalam berbagai kehidupan sehari-hari, sebab di teater diajarkan disiplin dan memahami banyak hal," tuturnya. Di hadapan siswa siswi 3 SMA Sekolah Binaan Bakti BCA, aktris yang juga aktivis teater juga ini mengatakan dalam mengembangkan teater di Indonesia butuh peran dari pemerintah dan swasta serta orang teater. "Teater itu mengajarkan ilmu pengetahuan, bukan hanya seni. Mengembangkan teater harus ada peran pemerintah, begitu juga orang teater," harapnya. [caption id="attachment_103907" align="aligncenter" width="640"]
Sutradara lakon "Semar Gugat", N. Riantiarno, Sekretaris Perusahaan Bank BCA, Inge Setiawati, dan Aktris, aktivis teater, sekaligus pendiri Teater Koma, Ratna Riantiarno berdiskusi foto bersama siswa-siswi SMAN 3 Kota Serang Binaan Bakti BCA. (Foto: edwin B/Obsessionnews)[/caption] Teater Koma menggelar pertunjukan ke-143 dengan judul Semar Gugat di Gedung Kesenian Jakarta, 3-10 Maret 2016. Semar Gugat karya dan disutradarai N Riantiarno. Sebelumnya sudah pernah dipentaskan pada 1995. Tujuannya, menyampaikan pesan moral mengenai kritik sosial yang kerap terjadi di masyarakat. Di tempat yang sama, Sekretaris Perusahaan Bank Central Asia (BCA) Inge Setiawati mengaku telah secara aktif ikut mendukung langsung Teater Koma yang dianggap aktif melestarikan seni teater di Indonesia. "Seluruh dukungan BCA kepada Teater Koma merupakan komitmen kami dalam melestarikan dan mendukung pengembangan budaya nasional, seni, sekaligus membentuk karakter bangsa Indonesia," katanya. [caption id="attachment_103906" align="aligncenter" width="640"]
Sutradara lakon "Semar Gugat", N. Riantiarno, Sekretaris Perusahaan Bank BCA, Inge Setiawati, dan Aktris, aktivis teater, sekaligus pendiri Teater Koma, Ratna Riantiarno berdiskusi foto bersama siswa-siswi SMAN 1 Gadingrejo Bandar Lampung Binaan Bakti BCA. (Foto: edwin B/Obsessionnews)[/caption] Terbukti BCA telah memberikan dukungan lakon Teater Koma di antaranya Opera Ular Putih, Republik Cangik, Demonstran, Sie Jin Kwie, Sampek Engtay dan Ibu. Gemar Gugat berkisah tentang Kerajaan Amarta yang sedang geger, karena Srikandi meminta mas kawin yang tak wajar kepada calon suami, Arjuna. Saat pesta pernikahan nanti, Arjuna harus memotong kuncung Semar untuk diahadiahkan kepada Srikandi. Permintaan tersebut merupakan penghinaan besar bagi Semar dan keluarganya. Padahal, hal itu merupakan ulah Betari Permoni yang merusak ke dalam tubuh Srikandi. Akhirnya Semar pergi ke kayangan, meminta dikembalikan jadi wujudnya yang rupawan dan menjadi raja Simpang Buwana Nuranitis Asri, dengan gelar Prabu Sanggadonya Lukanurani. Tak lama kemudian dia memutuskan untuk menantang Arjuna dan Srikandi adu sakti. (Asma)
Sutradara lakon "Semar Gugat", N. Riantiarno, Sekretaris Perusahaan Bank BCA, Inge Setiawati, dan Aktris, aktivis teater, sekaligus pendiri Teater Koma, Ratna Riantiarno berdiskusi foto bersama siswa-siswi SMAN 3 Kota Serang Binaan Bakti BCA. (Foto: edwin B/Obsessionnews)[/caption] Teater Koma menggelar pertunjukan ke-143 dengan judul Semar Gugat di Gedung Kesenian Jakarta, 3-10 Maret 2016. Semar Gugat karya dan disutradarai N Riantiarno. Sebelumnya sudah pernah dipentaskan pada 1995. Tujuannya, menyampaikan pesan moral mengenai kritik sosial yang kerap terjadi di masyarakat. Di tempat yang sama, Sekretaris Perusahaan Bank Central Asia (BCA) Inge Setiawati mengaku telah secara aktif ikut mendukung langsung Teater Koma yang dianggap aktif melestarikan seni teater di Indonesia. "Seluruh dukungan BCA kepada Teater Koma merupakan komitmen kami dalam melestarikan dan mendukung pengembangan budaya nasional, seni, sekaligus membentuk karakter bangsa Indonesia," katanya. [caption id="attachment_103906" align="aligncenter" width="640"]
Sutradara lakon "Semar Gugat", N. Riantiarno, Sekretaris Perusahaan Bank BCA, Inge Setiawati, dan Aktris, aktivis teater, sekaligus pendiri Teater Koma, Ratna Riantiarno berdiskusi foto bersama siswa-siswi SMAN 1 Gadingrejo Bandar Lampung Binaan Bakti BCA. (Foto: edwin B/Obsessionnews)[/caption] Terbukti BCA telah memberikan dukungan lakon Teater Koma di antaranya Opera Ular Putih, Republik Cangik, Demonstran, Sie Jin Kwie, Sampek Engtay dan Ibu. Gemar Gugat berkisah tentang Kerajaan Amarta yang sedang geger, karena Srikandi meminta mas kawin yang tak wajar kepada calon suami, Arjuna. Saat pesta pernikahan nanti, Arjuna harus memotong kuncung Semar untuk diahadiahkan kepada Srikandi. Permintaan tersebut merupakan penghinaan besar bagi Semar dan keluarganya. Padahal, hal itu merupakan ulah Betari Permoni yang merusak ke dalam tubuh Srikandi. Akhirnya Semar pergi ke kayangan, meminta dikembalikan jadi wujudnya yang rupawan dan menjadi raja Simpang Buwana Nuranitis Asri, dengan gelar Prabu Sanggadonya Lukanurani. Tak lama kemudian dia memutuskan untuk menantang Arjuna dan Srikandi adu sakti. (Asma)




























