Jahja Setiaatmadja, "Saya Bukan Super Hero!"

Jahja Setiaatmadja,
Obsessionnews- Menjelang malam Men’s Obsession baru diterima untuk sebuah wawancara khusus dengan Jahja Setiaatmadja. Bukan karena enggan diwawancarai, tapi lantaran kesibukannya yang sangat luar biasa di hari itu yang membuat alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia ini harus pintar-pintar membagi waktu. Dalam hitungan jam saja sudah terlihat beberapa kali sejumlah tamu silih berganti memasuki ruang kerjanya. Sampai kemudian ia masuk ke ruang tunggu tamu dan mempersilakan kami untuk wawancara. “Maaf, maaf ya, baru bisa wawancara nih..hehe” sapanya dengan wajah yang masih tetap sumringah. Balutan kemeja tenun ikat motif batik yang menjadi kesukaannya membuat penampilan Jahja tampak bersahaja. Selepas Maghrib, memang merupakan waktu yang tepat untuk bisa wawancara panjang dengan bankir papan atas ini. Banyak hal ia tuturkan, terutama tentang pencapaian yang ia raih sepanjang kurun waktu perjalanan karirnya. Diselingi minum teh, wawancarapun mengalir. Berikut wawancara kami dengan sosok murah senyum ini. Perjalanan karir Anda sebagai bankir telah menorehkan banyak pencapaian, baik bagi diri Anda maupun BCA. Bicara tentang achievement tentu kita bicara tentang perjalanan karir yang panjang yang telah Anda lewati. Dan untuk melewatinya, tentu tidak sedikit tantangan dan kendala yang harus Anda hadapi. Nah, bolehkah kami tahu kendala dan tantangan apa saja yang telah Anda lewati dan kemudian Anda bisa mengatasinya? Kalau bicara kendala dan mengatasinya, pertama dalam soal membagi waktu. Begini ya, artinya setiap orang kan punya waktu yang terbatas, kemampuan juga terbatas, sebab itu saya coba membagi waktu baik untuk bekerja, kesehatan, artinya kalau Anda baca riwayat hidup saya, saya kan juga golf, berenang setiap hari, disamping juga setiap minggu saya pergi ke gereja. Ya keseimbangan daripada lahir-bathin, itu satu. Saya sadar waktu dari hari Senin sampai Jumat, kita full. Pulang sampai malam tak apa-apa, tapi di segi lain kalau dikatakan cukup, waktu yang ada itu kurang, tetapi kita sebagai management harus bisa me-manage waktu kita sendiri supaya yang ada itu tercukupi. Kemudian di luar itu, kendala saya terkait masalah kemampuan. Terus terang saya orang akuntansi, karena itu bidang-bidang seperti IT, promosi, dan hal lain yang di luar kemampuan saya terkadang saya harus masih belajar. Sebab itu kemarin, agak surprise juga waktu diangkat menjadi Markeeter of The Year (penghargaan dari Mark Plus-red) sebelumnya kan Pak Jonan (Ignas Jonan mantan Dirut PT KAI yang kini Menteri Perhubungan-red), Pak Arief Yahya (Mantan Dirut PT Telkom yang sekarang menjabat Menteri Pariwisata-red), itu menteri-menteri semua. Saya dipilih padahal saya bilang sama Pak Hermawan Kertajaya (CEO Mark Plus-red) waktu beliau sampaikan, saya bilang saya bukan orang marketing, beliau (Hermawan Kertajaya-red) bilang tapi Bapak nyata. Produknya nyata dan konsumen juga menyambut baik, ini terobosan-terobosan baru, katanya. Nah saya pikir benar juga. Artinya Bapak memang seorang CEO yang juga marketer karena mampu memasarkan produk BCA dengan baik.. Begitulah, seperti produk KPR (Kredit Pemilikan Rumah-red) kita, KKB (Kredit Kendaraan Bermotor-red) kita. Untuk KPR, sewaktu saya diangkat Presdir BCA, nilainya masih kecil sekali itu tahun 2010, tapi sekarang sudah di luar BTN yang subsidi kita nomor satu. Lalu untuk KKB tahun ini bisnis mobil lesu, tapi KKB kita naik. Karena kita bikin program, itu ide saya juga, saya bilang kita bikin saja orang kredit satu mobil bisa dapat 3, lalu ada undian akhir tahun dan ternyata dari 1,8 triliun Rupiah itu langsung meningkat 2,1-2,2 triliun Rupiah, permintaan kredit kita. Jadi memang marketing kita efektif dan baik, untuk digital dan dari segi product knowledge-nya tak bisa saya kembangkan sendiri, kumpulan staf menolong saya, tetapi bagaimana kita menyampaikannya ke masyarakat jadi kendala tadi adalah tetap kita harus bisa me-manage waktu yang terbatas, kedua dari knowledge itu yang saya bilang saya harus tahu output-nya yang penting tetapi detail. Anda tanya soal IT, saya juga nggak terlalu mengerti, tetapi at least saya harus tahu. Makanya salah satu yang kita jaga adalah team work, saya nggak pernah mengatakan saya super hero, saya bukan super hero, saya juga masih banyak kelamahan dan kekurangan justru tim saya yang memperkuat saya sehingga as a team kita bisa berhasil sukses. [caption id="attachment_102661" align="aligncenter" width="640"]Jahja Setiaatmadja (kedua kiri) saat menerima penghargaan yang diserahkan Manajer Gallup Singapura dan Asia Tenggara Chee Tung Leong. Jahja Setiaatmadja (kedua kiri) saat menerima penghargaan yang diserahkan Manajer Gallup Singapura dan Asia Tenggara Chee Tung Leong.[/caption] BCA sudah menjadi Bank swasta nasional terbesar saat ini. Apakah Anda sudah merasa puas dengan kondisi sekarang? Ini pertanyaan yang sulit. Artinya begini, kalau dari dulu memang bank swasta terbesar. Tapi filosofi saya yang penting bukan terbesar atau terhebat, tetapi berapa besar kita bisa memberikan kontribusi kepada ekonomi masyarakat, mendukung ekonomi, memberikan kemudahan untuk transaksi pembayaran. Karena kalau Anda amati, kita bersyukur di Indonesia ini kalau kita transfer uang nggak itu nggak kena fee. Paling kena 5 ribu rupiah. Tapi coba Anda transfer ke Sydney, Perth, Australia, itu kita bisa dikenakan minimal 600 ribu Anda harus bayar. Jadi bayangkan, kalau kita tidak bisa menolong memberikan network yang bagus, maka berapa besar masyarakat harus mengeluarkan dana jika ini dimonopoli bank asing. Jadi, justru itu yang harus kita pertahankan. Saya sebetulnya cukup gembira kalau bisa memberikan yang terbaik untuk masyarakat. Kalau harus ingin jadi nomor satu, wah itu ibarat pohon puncaknya selalu goyang, ditiup kiri-kanan, mendingan di tengah-tengah dikit lah. Anda masih belum puas? Saya belum puas dalam arti kita belum bisa memenuhi pelayanan ke seluruh pelosok negeri, kita masih masih terbatas di kota dan kabupaten besar. Nah tapi kita mulai dengan program Laku Pandai, Simpel (Simpanan Pelajar-red). Step kedua untuk bisa melayani seluruh masyarakat agar seluruh masyarakat Indonesia bankable. Kemudian untuk generasi kedepan, mereka akan terbiasa dengan digital bahkan nanti nggak perlu lagi terlalu banyak menggunakan fisik. Katakan 15-10 tahun dari sekarang semua itu harus dengan digital, dengan gadget semua bisa dikerjakan. Karena itu BCA memulai dengan KlikBCA yang sangat efisien. Jika kelak Anda pensiun dari BCA, legacy apa yang akan Anda tinggalkan? Yang saya inginkan bahwa BCA ini bisa terus berkembang tanpa tergantung pada figur seseorang, ini yang coba kita siapkan. Maka saya selalu mendengungkan bahwa team work, team work, team work. Memang kalau team work sudah berjalan maka korporasinya intinya akan terus berjalan siapapun dirutnya atau pimpinannya. Culture kita kan mulai dari recruitment itu ada yang namanya Bank Development Program itu semua bank ada, dipilih dari lulusan universitas yang bagus dididik kira-kira setahun, mereka tuh siap. Tetapi saya yakin bank itu tidak semuanya butuhkan orang yang pinter atau sangat hebat, tapi orang yang kerjanya juga giat dan betul-betul tekun. Oleh sebab itu kita ada program mendidik dari siswa SMA yang keluarganya tidak mampu memasukkan ke universitas, itu kita rekrut. Sekarang sudah ada bidang marketing, accounting, dan lainnya. Mereka itu dididik seperti silabus di universitas dan lamanya tiga tahun. Begitu mereka selesai mereka tidak diikat kerja. Kalau mereka bilang terima kasih dan ingin berkarir di tempat lain, monggo silahkan. Tetapi, kalau mereka kerja di BCA, kita akan stratakan dengan S-1, meskipun mereka tidak punya ijazah, tapi saya yakin sudah dididik tiga tahun sama seperti universitas. Mereka kerja di bank lain atau tempat lain ya pegang ijazah SMA doang. Ternyata mereka masuk dan menjadi karyawan yang loyal dan sejauh ini pengalaman kami, ternyata mereka itu luar biasa, saya sendiri berasal dari keluarga tidak mampu dan kita bekerja lain dengan orang yang mungkin hidup sudah semuanya terpenuhi. Fight spirit itu beda, sebab itu lulusan-lusan ini fighting spiritnya luar biasa. Mereka adalah pekerja yang tekun dan keras. [caption id="attachment_102666" align="aligncenter" width="600"]Jahja Setiaatmadja: Kalau team work sudah berjalan maka korporasinya intinya akan terus berjalan siapapun dirutnya atau pimpinannya. Jahja Setiaatmadja: Kalau team work sudah berjalan maka korporasinya intinya akan terus berjalan siapapun dirutnya atau pimpinannya.[/caption] Disamping itu, kita juga ada rekrutmen yang kita istilahkan ‘win-win’ karena saya pernah bertemu Menteri Tenaga Kerja, saya bilang “Pak kita ini ada sekitar 8000 tenaga kerja semacam magang karena universitas di Indonesia itu banyak tiap tahun, tapi yang siap kerja nggak banyak”. Kadang-kadang waktu interview saja bahasa tubuhnya sudah tidak meyakinkan, kalah sebelum berperang, nah mereka itu kita didik dan rekrut untuk tiga tahun bekerja di BCA. Sesudah itu kita terminate itu, ternyata laris kaya pisang goreng. Tapi di kita memang hanya tiga tahun dan mereka kebanyakan hanya sebagai teller, CSO jadi memang win-win. Lalu apa yang kita dapat? Kita selalu dapat tenaga muda, enerjik, penuh vitalitas, nggak bosan. Bayangkan kalau teller, mohon maaf kalau dia kerja sampai 25 tahun sebagai teller apa enggak bosan. Jadi pikir kasihan juga pada akhirnya, mereka kasihan, kita juga kasihan. Bayangkan gajinya kalau sudah 30 tahun jadi berapa, padahal gaji sekitar 5-6 juta rupiah pasti di atas UMR itu bisa, kalau sudah 30 tahun sudah 30 juta untuk kasir, jadi buat kita juga rugi. Cuma kalau saya tidak melakukan program ini, saya setiap tahun rekrut 250 orang cukup karena program ini setiap tahun 2500-3000 orang saya rekrut karena ini setiap tiga tahun mutar. Tetapi saya senang, setiap tiga tahun ada tenaga kerja siap pakai dan ini bisa dimanfaatkan dimana-mana. Saya bilang ini win-win, saya nggak bilang kita malaikat, tapi hasilnya positif untuk mereka. Dan kita multitalent. Itukah makna keberhasilan dalam pandangan Anda? Artinya gini, kita melihat dari wilayah yang lebih luas tak hanya mencari profitnya BCA berapa, itu salah satu, tapi di lain itu ya kita juga harus mencoba melihat apa yang bisa kita lakukan seperti tadi. Contoh misalnya CSR kita, memang ada medical, poliklinik, katarak, donor darah itu juga biasa. Nah yang rada unik, kita sudah berhasil membentuk beberapa daerah wisata jadi kita lihat potensinya bagus, salah satunya Goa Pindul, dekat Solo, nah itu pertama kali tim saya datang, waduh masyarakatnya belum sadar, jadi kebersihan belum bisa mengelola dengan baik kalau ada turis diserbu orang ramai-ramai, nah kita didik masyarakat disana seperti cara menata keuangan, kebersihan. Kalau WC semua bagus tersedia orang senang. Lalu jangan terlalu mengganggu turis datang, nah itu kita coba mengatur seperti itu dan sekarang berkembang. Kita senang. Ada beberapa lokasi lainnya. Dan ini salah satu ya kita bisa berbuat sesuatu untuk masyarakat disana.Umumnya pemimpin sukses memiliki tokoh inspirator, Anda punya tokoh inspirator itu? Banyak orang yang punya panutan, saya melihat banyak tokoh atau yang diidolakan. Ada yang positif dan negatif. Saya tidak punya tokoh idola, tapi saya melihat jadi diri saya sendiri dengan segala kekurangan dan kelebihan, saya agak beda dengan ada orang yang mengidolakan. Pokoknya orang yang berhasil saya coba belajar kunci suksesnya. Kalau dari yang pengalaman saya, ini lebih mikro misalnya waktu saya di Kalbe Farma, saya melihat owner-nya hidup sangat sederhana, nggak berwah-mewahan. Waktu saya kerja di Indomobil, saya lihat Pak Subronto Laras sebagai Dirut, beliau sangat merakyat, ke pabrik, menyapa karyawan, itu karyawan betul-betul senang dengan beliau. Saya pikir itu bagus sebagai pimpinan kita nggak boleh ada di belakang meja lalu terlalu birokratis. Sebenarnya, apa filosofi Anda dalam memimpin? Filosofi saya adalah mencari keseimbangan, memberikan kesempatan ke bawahan juga harus berani memberikan ide-ide susulan. Dan yang paling penting kita harus berani bertanggungjawab apapun yang kita putuskan. Jadi jangan sampai “hal bagus itu saya, hal jelek itu dia”. Karena setiap pemikiran dan ide saya, saya selalu lontarkan tolong dikaji dan olah lagi karena belum tentu apa yang saya lontarkan belum tentu sempurna, jadi mereka yang menyempurnakan. Jahja - 8Kurang lebih 25 tahun Anda mendedikasikan diri di dunia perbankan, kalau boleh bisakah Anda berikan tips sukses sebagai professional perbankan? Pesan singkat begini, jangan berharap bahwa kita berhasil secara instan. Anak muda sekarang selalu mengharapkan kesuksesan secara instan. Kita jangan hitungan dalam bekerja di luar job desk kita, saya kerja lebih harus ada lebih. Kita tidak boleh hitung-hitungan, setiap ada tambahan kerja itu investment untuk diri kita, itu dibayarnya dikemudian hari. Pengalaman itu segalanya apalagi perbankan begitu banyak bidang, ketika kita dipercaya di bidang baru, kita harus senang jangan memikirkan tambahan. Dan begini bagaimanapun di perbankan itu bukan sekadar ilmu, tetapi sikap kita bagaimana kita team work. Kita harus bisa memberikan ide harus bisa menerima ide juga. Jangan hanya mau didengarkan, kalau kita mau ngomong sendiri atau hanya mau didengarkan tidak jalan team work. Jadi take and give itu harus ada. Satu hal ringan, dalam setiap penampilan Anda lebih sering terlihat mengenakan batik. Ada kesan khusus dengan busana tersebut? Hahaha..batik? Saya sangat senang. Saya menyukai batik-batik koleksi ‘Asmaragama’, kemudian senang juga dengan motif ‘Parang Kencana’ dan ada beberapa koleksi ‘Aleira’. Saya biasanya membeli bahannya saja kemudian saya menjahitnya di Plaza Indonesia, disitu ada penjahit langganan saya dan sudah sangat cocok. Dia spesial desainnya itu bagus. Itu yang terbanyak. Kemudian juga ke Irwan Tirta banyak yang sudah jadi. Terakhir, apa obsesi Anda? Saya orangnya nggak terlalu ngoyo, artinya pada tingkat seperti sekarang, kita coba maintenance apa yang sudah didapat. Saya tidak berpikir mendapatkan hal atau pekerjaan yang lebih lagi. Saya sudah relatif puas dengan apa yang sudah ada tinggal di maintenance. ***