Dubes Negara Sahabat Sambangi Rumah Belajar Miranda

Dubes Negara Sahabat Sambangi Rumah Belajar Miranda
RUMAH Belajar Miranda yang dibidani pebisnis Maya Miranda Ambarsari pada akhir Februari 2016 menggelar “Motivation Days with The Ambassadors” dihadiri berbagai kalangan. Bahkan, nampak hadir Duta Besar (Dubes) Irak untuk Indonesia Abdullah Hasan Salih dan Dubes Paraguay untuk Asia Tenggara, Cesar Esteban Grillon. [caption id="attachment_102599" align="alignright" width="441"]Maya Miranda Ambarsari dan suami berfoto bersama guru dan staf Rumah Belajar Miranda. Maya Miranda Ambarsari dan suami berfoto bersama guru dan staf Rumah Belajar Miranda.[/caption] Saat Obsessionnews.com menyambangi kegiatan yang digelar di Rumah Belajar Miranda di bilangan Villa Sawo, Cipete Utara, Jakarta Selatan, delapan siswa menyambut sembari memegang bendera kecil dari berbagai negara, di antaranya Indonesia, Irak dan Paraguay. Acara dibuka dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an dan sari tilawah oleh dua siswi. Menariknya di acara tersebut  Grillon membagikan kisah hijrahnya dari semula seorang nonmuslim menjadi muslim. Dubes Paraguay untuk Asia Tenggara ini juga tak menduga ia akan menemukan dan terpilih menjadi seorang muslim di tempat ia ditugaskan. Dari sejumlah negara Asia Tenggara, Grillon merasa langsung cocok begitu mendarat di Jakarta. Hidup di negara muslim terbesar tentu Grillon sering bertemu dan berinteraksi dengan muslim, termasuk kawannya seniman dan pemilik sebuah galeri seni di kawasan  Cilandak, Yulie Nasution, yang kini menjadi istrinya. Namun, ketertarikannya terhadap Islam bermula dari sebuah buku yang disodorkan putranya.Grillon mengaku selektif memilih buku. Tapi, sebuah buku tentang Islam tulisan seorang atheis berhasil menarik perhatiannya. [caption id="attachment_102600" align="alignleft" width="337"]Dubes Irak Irak untuk Indonesia Abdullah Hasan Salih (kedua dari kiri). Dubes Irak Irak untuk Indonesia Abdullah Hasan Salih (kedua dari kiri).[/caption] "Saya begitu tersentuh oleh buku itu. Agak mengherankan mengapa si penulis justru tidak menjadi Muslim setelah menulis tentang Islam," kata bapak empat anak ini. Setelah membaca buku itu, ia meminta Yulie mengantarkannya ke sebuah masjid. Yulie mengajaknya ke Masjid Kubah Emas di Depok, Jawa Barat. Ia sengaja membawakan suaminya baju koko dan peci putih.   Saat sedang mengagumi arsitektur masjid yang megah, seorang tukang foto menghampirinya. Dari fotografer tersebut Grillon mengaku terpanggil memeluk Islam. "Ia bertanya 'Tuan, apakah Anda muslim?' Ia bagaikan malaikat yang dikirimkan Allah untuk saya. Ia membimbing saya soal Islam. Di situlah keyakinan saya semakin kuat untuk menjadi seorang muslim," ungkap Grillon. Ikut berbuka puasa di masjid itu, Grillon merasakan kehangatan. Ia mengatakan, orang-orang sangat ramah kepadanya, dan membuatnya tersentuh. “Di Islam, derajat semua manusia itu sama. Apakah dia tukang foto, tukang jengkol, tukang sayur,” ujar Grillon sembari berkelakar. Sejak mengucapkan dua kalimat syahadat, ia berkomitmen akan menunjukkan pada negaranya, bahwa Islam tidaklah seperti yang diberitakan selama ini. Grillon mengakui hal itu pertama kalinya ia merasa begitu mempersiapkan diri untuk bertemu Allah. Di masjid, semua orang sama. Saat sujud untuk pertama kalinya, Grillon merasa sangat bahagia. Ia sujud untuk waktu yang lama. "Allah, Engkau yang menjawab semua pertanyaan saya selama ini. Saya bukan siapa-siapa," ujar Grillon menyampaikan perasaannya saat pertama kali bersujud dalam masjid. Sementara itu Dubes Irak Abdullah merasa senang bisa hadir di  Rumah Belajar Miranda, “Saya mendukung secara moril,” ujarnya. Hal senada juga   diungkapkan Camat Cipete Utara. Ia merasa bangga dan mendukung adanya adanya Rumah Belajar Miranda atau rumah belajar lainnya, karena hal ni merupakan sumbangsih untuk membangun masyarakat di bidang keilmuan. “Ini tidak bertentangan dengan Pancasila, malah ada di Al-Quran, orang hidup harus mencari ilmu. Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang berilmu. Saya pernah berbicara dengan Pak Ahok (Basuki Tjahaja Purnama, Gubernur DKI Jakarta, Red), bahwa masyarakat Jakarta harus penuh otaknya, dompetnya, dan hatinya,” tandasnya. Ditemui usai acara, Maya mengatakan bersyukur Rumah Belajar Miranda bisa mendatangkan tamu VVIP bahkan memberikan kata-kata yang memotivasi. “Hal ini akan membuat anak-anak lebih confident dan termotivasi,” tutur isteri Andreas Reza Nazaruddin itu. Maya berharap nantinya hubungan persahabatan ini bisa berlanjut dengan melakukan sesuatu bersama antar negara. “Ini adalah pembuka jalannya. Setelah ini akan adakan acara lagi bersama dengan duta besar yang lain dengan tema berbeda, seperti kita akan mengajak anak-anak untuk learning coaching bersama Dubes Argentina. [caption id="attachment_102585" align="alignleft" width="345"]rumah miranda -1 Maya Miranda Ambarsari (kedua dari kiri) ceria menyambut kedatangan tamu-tamu penting di Rumah Belajar Miranda.[/caption] Tentang Rumah Belajar Miranda Sukses berbisnis tambang dan properti, Maya menyeimbangkan hidupnya dengan terjun ke bidang sosial. Sejak beberapa tahun lalu, Maya memiliki Rumah Belajar Miranda yang berlokasi di Villa Sawo, Cipete Utara, Jakarta Selatan. Sebagai rumah belajar, tempat ini menjadi wadah bagi kegiatan belajar mengajar, sosial maupun semi sosial,;akni Majelis Ta’lim Ummul Choir (Kelas Pemula, Menengah, dan Mahir, Taman Pendidikan Al Quran Ummul Choir (TPA Kids, TPA Menengah dan Ta’limul Quran lil Aulad), kursus matematika, kursus English Education Porgram (EEP), kursus Calis (Baca Tulis), Taman Bacaan dan Media Library. Saat ini ada sekitar kurang lebih 500 orang yang terlibat kegiatan belajar mengajar. Menurut Maya, kegiatan tersebut memang bukan bagian dari bisnisnya, tetapi merupakan ‘investasi’ akhirat. Tidak tanggung-tanggung, walaupun kegiatan sosial dan semi sosial, Rumah Belajar Miranda dikelola secara profesional dan berlokasi di area perumahan mewah, bertingkat tiga, ruang-ruang kelas yang nyaman maupun tenang, dan menyediakan berbagai fasilitas mumpuni. Selain itu, juga tesedia guru-guru yang memang handal dan berpengalaman di bidangnya. “Saya juga membeli beberapa franchise untuk belajar bahasa Inggris dan matematika lengkap dengan guru-guru yang di-training sesuai standar franchise tersebut,” kata Maya. Anggota pengajian juga belajar pengetahuan umum lainnya untuk menambah wawasan, misalnya mengenai keuangan rumah tangga, cara tampil walaupun sederhana namun tetap menarik, belajar dan praktik berbisnis rumah, bahkan belajar yoga untuk menjaga kesehatan, dan ilmu-ilmu lain yang bermanfaat. “Lebih dari itu, anggota pengajian juga disediakan dana pinjaman tanpa bunga yang sekiranya dibutuhkan sewaktu-waktu. Kalaupun ada yang belum sanggup mengembalikan pinjaman, harus tetap melapor kepada panitia pengurus pengajian. Lewat program ini saya ingin menanamkan, menerapkan, dan menumbuhkembangkan rasa bertanggungjawab akan pinjaman tersebut,” jelas Maya. Lebih lanjut Maya menuturkan harapannya semoga anak-anak Rumah Belajar Miranda bisa bisa bermanfaat di masa depan, “Aku ingin one day anak-anak itu menjadi seseorang, lalu mereka bilang aku dulu pernah belajar di Rumah Belajar Miranda, bangga gitu! Aku tidak ingin anak-anak ketika ditanya mau menjadi apa, mereka jawab enggak tahu. Yang penting disini adalah akhlaq itu akan membawa kebaikan, kalau ada macam-macam godaan di masa yang akan datang mereka tahu disini dibina akhlaqnya, basic-nya sudah ada,” pungkasnya. Menutup pecakapan Maya memaparkan obsesinya, ia kelak ingin memiliki pesantren dan klinik berobat gratis bagi orang-orang tak mampu. (Gia)