Pemprov Jabar Dinilai Abaikan Nasib OTD Jatigede

Pemprov Jabar Dinilai Abaikan Nasib OTD Jatigede
Bandung, Obsessionnews - Gerakan Hejo menilai Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat (Jabar) membiarkan nasib Orang Terkena Dampak (OTD) Waduk Jatigede Sumedang. Hal itu disampaikan Ketua Umum Gerakan Hejo Jabar, Eka Santosa, saat menerima sejumlah OTD waduk Jetigede di sekretariat Jabar Hejo Alam Santosa Pasir Impun Bandung, Minggu (21/2/2016). Agus menejlaskan, Gerakan Hejo selain digagas oleh dirinya dan sesepuh Jabar Solihin GP sejak 25 November 2015 lalu, berkewajiban menjadi jembatan antara pemerintah dan masyarakat terkena dampak. “Selain itu memberdayakan warga Jabar dengan menggelar reboisasi agar hutan tidak gundul, karena area hutan di Jabar hanya tersisa 25 persen yang hijau," tandasnya. Eka menilai, Pemprov Jabar dan Kabupaten Sumedang mengabaikan nasib para OTD ini, sehingga pihaknya menyarankan agar warga OTD Jatigede segera membentuk kelompok-kelompok untuk mempermudah teknis penyediaan bibit ikan dan peralatan yang diperlukan. Gerakan Hejo demo2 Para perwakilan warga OTD Jatigede ini mengaku senang dengan adanya solusi aqua culture yang disarankan pihak gerakan Jabar Hejo. "Merasa memiliki peluang baru untuk berkegiatan ekonomi di tempat relokasi mereka, demi kelangsungan hidup yang lebih sejahtera," tegasnya. Perwakilan OTD yang diantar Dik Tanbih, aktivis dari LSM CADAS (Ciri Aspirasi Dari Abdi Sanagara) mendatangi Alam Santosa. ”Saya merasa dihargai di sini, diberi solusi pula untuk memberdayakan perikanan di Waduk Jatigede dan Pemerintah setempat, seperti biasa abai sama kami," tuturKomarudin, asal Cibogo, yang diamini oleh Iwan Setiawan asal Wado Sumedang. Dijelaskan Dede Kurniasih dan Aden Torsimah asal Cipaku, Kesmawati asal Jemah,Teten Sutendi asal Padajaya, mereka merasa bersyukur dengan penerimaan oleh Gerakan Hejo. ”Masih ada ribuan yang terlunta-lunta seperti kami. Nasib sekolah anak-anak kami, nasib relokasi, dan penggantian pun maih belum tuntas, kemana kami mengadu? Beruntung ada Gerakan Hejo ini,” tambah Aden yang bertahun-tahun memperjuangkan hak-hak dasar para OTD Waduk Jatigede. Gerakan Hejo demo3 Sementara itu pakar perikanan Ir Moh Husen yang juga pakar Perikanan menjabat sebagai Wakil Ketua Bidang Perikanan dan Kelautan Jabar Hejo memberi petunjuk untuk memberdayakan aqua culture . “Kami dorong KJA (Keramba Jaring Apung - red) yang sangat ramah lingkungan. Praktiknya, nanti menghindarkan dampak negatif seperti terjadi di Waduk Cirata, Saguling, dan Jatiluhur," ujar Husen. Di sini, timpal Husen, aturannya ketat, selain itu termasuk jenis ikan harus sesuai dengan eko sistem setempat sehingga berhasil. "Namun untuk pelasanaannya masih harus menunggu setidaknya 1 tahun untuk menyesuaikan kondisi genangan air dan adanya regulasi yang kondusif," tegasnya. KJA di Jatigede memang tidak bisa dibandingkan dengan KJA yang sudah ada di Cirata atau Waduk Jatiluhur. Menurut Husen di Jatiluhur airnya berasal dari Sungai Citarum yang dikenal terkontaminasi beratlimbah pabrik. "Dipastikan produk ikan dengan KJA di Jatigede bisa lebih baik dan kompetitif, karena sumber airnya tidak tercemar limbah,” tandas Husen. Menurut Ahman dari Asosiasi Perikanan Sumedang, masyarakat bisa melakukan kegiatan perikanan dengan memanfaatkan teluk-teluk atau tepian bendungan sistem pemagaran (fence)dengan jaring. Hal ini solusi ramah lingkungan”. Lebih lanjut, Eka Santosa menyarankan agar warga OTD Jatigede segera membentuk kelompok-kelompok untuk mempermudah teknis penyediaan bibit ikan dan peralatan yang diperlukan. (Dudy Supriyadi)