Semangat Kekeluargaan Kekuatan Utama BCA

Bank Central Asia (BCA) memiliki semangat kekeluargaan yang kuat. Semangat kekeluargaan itu ikut andil mengantarkan BCA menjadi salah satu bank terbesar di Indonesia. Bukan hal yang mudah membangun dan menjaga kebersamaan dalam sebuah perusahaan hingga bisa bertahan sampai puluhan tahun. Terutama di saat harus melewati badai kesulitan dan kondisi yang serba tak pasti. Namun, percaya atau tidak, hal itu rupanya tidak terlalu sulit bagi keluarga besar BCA. Melewati masa sulit, tentu bukan pengalaman paling indah. Namun fakta bahwa BCA bangkit dari krisis dan menjadi salah satu bank terbesar dan terbaik di Indonesia menunjukkan kekuatan setiap bagian dari keluarga besar ini. Salah satu kekuatan utama yang dimiliki BCA adalah semangat kekeluargaan. Masih teringat betul, para nasabah berbondong-bondong mendatangi kantor BCA untuk menarik dana. Dalam situasi yang penuh tekanan itu, karyawan BCA bahu-membahu melayani para nasabah yang dilanda kepanikan. Situasi genting justru mendorong inisiatif karyawan. Tak sedikit karyawan yang bekerja di kantor pusat turun tangan tanpa diminta untuk membantu kantor-kantor cabang yang sudah berubah bak pasar malam di alun-alun kota. Yang memiliki kompetensi operasional membantu di counter teller. Bahkan ada pula yang sekadar membantu menyediakan air minum untuk para nasabah yang mengantri. Pokoknya, sebisa mungkin membantu. Sense of emergency semacam itu tak mungkin muncul tanpa semangat kekeluargaan yang kuat. Di masa normal, kekeluargaan itu kemudian menciptakan lingkungan kerja yang nyaman (friendly working environment). Bagaimana BCA membangun semangat kekeluargaan tadi? [caption id="attachment_99968" align="alignleft" width="136"]
Lena Setiawati, General Manager Learning and Development Division BCA.[/caption] “Saya tak paham pasti bagaimana BCA memulainya. Yang jelas modal besar kekeluargaan itu sudah saya rasakan sejak hari pertama bergabung dengan BCA,” kata Lena Setiawati, General Manager Learning and Development Division BCA. Sebagai orang baru saat itu, Lena dirangkul para senior, sehingga mudah baginya untuk beradaptasi dengan lingkungan kerja baru. “Saya dibimbing, didorong, dan didukung hingga berhasil melewati semua dan mencapai posisi saya hari ini,” ujarnya. Dia mengakui di BCA dirinya tak pernah merasa terancam oleh adanya rekan kerja yang akan ‘menjegal’ dan mencelakainya. Ia menyebut politicking di BCA itu sangat minim, untuk tidak mengatakan tidak ada sama sekali. “Cerita dari rekan saya, seorang account officer di cabang, yang dituntut mencapai target tertentu. Ketika rekan sejawatnya mencapai target lebih cepat, tak segan-segan dia membantu rekan saya untuk mencapai tagetnya. Setali tiga uang dengan cerita tersebut, dalam pelaksanaan beberapa program kerja divisi, saya pun didukung oleh rekan-rekan yang lain, bahkan dari luar unit kerja saya,” cetusnya. Di sisi lain, Lena merasa beruntung bekerja pada perusahaan yang memperhatikan betul kebutuhan karyawan. Bahkan pada keluarga karyawan. Bagi BCA, keluarga karyawan adalah bagian dari keluarga besar perusahaan. Selain memfasilitasi kegiatan-kegiatan olahraga dan seni bagi karyawannya, BCA juga kerap memberikan seminar dan pelatihan yang sebetulnya secara langsung tak berhubungan dengan pekerjaan karyawan. Misalnya, BCA secara rutin mengadakan pelatihan mengenai bagaimana cara mengelola keuangan dalam rumah tangga. Pernah juga menggelar seminar tentang parenting, hingga mengundang dokter untuk memberikan nasihat-nasihat kesehatan. Prinsip BCA adalah jika urusan di rumah karyawan beres, niscaya urusan pekerjaan di kantor pun selesai. Dengan kata lain, BCA mengusung konsep worklife balance. “Saya percaya, inilah salah satu karakter utama yang menjadikan BCA menjadi salah satu bank terbaik di negeri ini,” tuturnya. (arh)
Lena Setiawati, General Manager Learning and Development Division BCA.[/caption] “Saya tak paham pasti bagaimana BCA memulainya. Yang jelas modal besar kekeluargaan itu sudah saya rasakan sejak hari pertama bergabung dengan BCA,” kata Lena Setiawati, General Manager Learning and Development Division BCA. Sebagai orang baru saat itu, Lena dirangkul para senior, sehingga mudah baginya untuk beradaptasi dengan lingkungan kerja baru. “Saya dibimbing, didorong, dan didukung hingga berhasil melewati semua dan mencapai posisi saya hari ini,” ujarnya. Dia mengakui di BCA dirinya tak pernah merasa terancam oleh adanya rekan kerja yang akan ‘menjegal’ dan mencelakainya. Ia menyebut politicking di BCA itu sangat minim, untuk tidak mengatakan tidak ada sama sekali. “Cerita dari rekan saya, seorang account officer di cabang, yang dituntut mencapai target tertentu. Ketika rekan sejawatnya mencapai target lebih cepat, tak segan-segan dia membantu rekan saya untuk mencapai tagetnya. Setali tiga uang dengan cerita tersebut, dalam pelaksanaan beberapa program kerja divisi, saya pun didukung oleh rekan-rekan yang lain, bahkan dari luar unit kerja saya,” cetusnya. Di sisi lain, Lena merasa beruntung bekerja pada perusahaan yang memperhatikan betul kebutuhan karyawan. Bahkan pada keluarga karyawan. Bagi BCA, keluarga karyawan adalah bagian dari keluarga besar perusahaan. Selain memfasilitasi kegiatan-kegiatan olahraga dan seni bagi karyawannya, BCA juga kerap memberikan seminar dan pelatihan yang sebetulnya secara langsung tak berhubungan dengan pekerjaan karyawan. Misalnya, BCA secara rutin mengadakan pelatihan mengenai bagaimana cara mengelola keuangan dalam rumah tangga. Pernah juga menggelar seminar tentang parenting, hingga mengundang dokter untuk memberikan nasihat-nasihat kesehatan. Prinsip BCA adalah jika urusan di rumah karyawan beres, niscaya urusan pekerjaan di kantor pun selesai. Dengan kata lain, BCA mengusung konsep worklife balance. “Saya percaya, inilah salah satu karakter utama yang menjadikan BCA menjadi salah satu bank terbaik di negeri ini,” tuturnya. (arh)




























