Koperasi Mahasiswa Dijadikan Basis Kewirausahaan

Bandung, Obsessionnews - Kementerian Koperasi dan UKM mendorong koperasi mahasiswa (Kopma) untuk menjadi basis kewirausahaan, terutama wirausaha di bidang teknologi digital. Dengan tren bisnis e-commerce sedang tinggi, diyakini industry bisnis teknologi digital menjadi usaha masa depan. Sekretaris Kementerian Koperasi (Sesmenkop) dan UKM Agus Muharram mengatakan, koperasi merupakan wadah, bukan saja untuk perekonomian bangsa, tapi juga tempat pembelajaran, pelatihan, dan praktik bisnis. Sehingga yang bergabung dalam koperasi akan mendapatkan keuntungan ganda. Apalagi kalau koperasi itu, adalah Kopma, maka otomatis menjadikan anggotanya belajar sambil langsung praktik. Karena tujuan utama Kopma dibentuk, kata Agus untuk menciptakan jiwa-jiwa wirausaha pada mahasiswa, selebihnya merupakan nilai lebih sesuai keinginan kopma masing-masing. Pernyataan itu dikemukakan Agus dalam seminar bertajuk Tantangan Teknologi dalam Pengembangan Wirausaha Masa Depan yang diselenggarakan Kopma Kokesma ITB dalam rangkaian ITB Cooperative Day di Bandung, Jawa Barat, Minggu (21/2/2016). “Harapan besar dari Kopma akan muncul jiwa-jiwa wirausaha yang berawal dari berkoperasi. Di koperasi terdapat pula market dan industry. Misalnya, anggota yang punya produk kerajinan tangan atau produk apa pun, pasarnya ditaruh di koperasi itu sendiri," ujar Agus. Kalau menyangkut modal, lanjut Agus, sebenarnya factor cash flow saja. Artinya, kalau cash flow-nya ada, bisa jadi modal koperasi untuk mendapatkan akses peminjaman di kredit usaha rakyat (KUR) atau dana bergulir di Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB). Pihak ITB mengklaim, jumlah wirausaha dari kampusnya sebanyak 7 persen dari 3000 jumlah mahasiswanya setip tahun. Tren alumni ITB yang berwirausaha cenderung naik dalam periode tiga tahunan. Tiga tahun lalu, sebanyak 5,2 persen, sekarang sudah 7 persen. "Kami berharap dalam tiga-empat tahun mendatang bisa menembus 10 persen. Ini memang menjadi tantangan karena mahasiswa ITB itu mendapat peluang bekerja di perusahaan minyak yang gajinya ratusan juta per bulan," ucap ekretaris Lembaga Kemahasiswaan bidang Pengembangan Karakter ITB, Bambang Setiabudi. Ahmad Zaki, CEO Bukalapak.com, sekaligus Salah seorang alumni ITB mengingatkan, banyak sekali kesempatan industry bisnis di bidang digital. Sekarang sudah jadi model ekonomi baru dunia. Porsi digital makin besar dan ini milik generasi muda. "Kalau tidak, maka kita tergerus. Apalagi saat ini kita sudah tertinggal jauh. Padahal di Amerika sendiri, kontribusi ekonomi digital menyumbang pada GDP (Gross Domestic Product), yaitu ukuran uang yang beredar di suatu Negara, sebesar 21 persen. Ini empat kali GDP Indonesia." "Antara lain, Microsoft, Facebook, twitter, dan lainnya. Bahkan satu produk handphone yang setiap diluncurkan, itu bernilai tambah 0,5 persen GDP Amerika. Ini prospek untuk menangkap peluang," tambah Zaki. (Has)





























