Pejabat Jangan Jadi Backing Pencuri Ikan!

Jakarta, Obsessionnews – Menteri Koordinator Kemaritiman dan Sumber Daya, Rizal Ramli, mengungkapkan sekarang kapal asing dilarang memasuki perairan laut Indonesia, karena mencuri ikan (illegal fishing) sangat merugikan negara kita. “Memang banyak yang marah. Karena biasanya kapal asing itu pakai backing uang untuk kekuatannya. Pejabat kita hanya dijadikan backing. Sekarang (hasil laut) kita bagi ke rakyat,” tegas Rizal Ramli dalam 'Sosialisasi Program Kementerian Koordinator Kemaritiman dan Sumber Daya' di Gedung BPPT, Jalan Thamrin, Jakarta Pusat, Kamis (18/2/2016). Menurut Rizal, akibat laut di Indonesia tidak kita kenali maka banyak ikannya dicolong/dicuri oleh orang/nelayan asing. “Laut tidak kita kenali. Banyak (ikan) dicolong orang lain, illegal fishing. Ibu (Menteri) Susi sudah benar, tenggelamkan kapal asing pencuri ikan. Sudah lebih 127 kapal,” jelas Menko Kemaritiman dan Sumber Daya. Rizal sepakat, memang harus dilakukan dengan cara yang kontroversial dengan tenggelamkan kapal. Karena cara-cara konvensional tidak efektif, kapal-kapal yang sudah ditangkap dijual lagi murah oleh pengadilan, dan pelakunya dilepaskan. "Negara lain industri perikanannya hidup dari colongan (maling) di laut kita. Sekarang, dengan memerangi Illegal Fishing, kapal asing ditenggelamkan, banyak mereka (industri perikanan di negara itu) bangkrut, kehilangan bahan baku," bebernya. Rizal pun memuji sikap Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti yang berani menenggelamkan kapal yang melakukan pencurian ikan yang merugikan negara hingga miliaran rupiah. "Cara yang sangat kontroversi tapi harus dilakukan karena cara konvensional nggak jalan, ditangkap, diadili begitu, lalu dilepaskan," ungkapnya. Atas penenggelaman kapal asing yang mencuri ikan, menurut Rizal, manfaatnya sangat dirasakan oleh para nelayan lokal yang jumlah tangkapannya jauh lebih banyak daripada sebelumnya. Lebih lanjut, Rizal Ramli menyatakan berencana memperbanyak pelabuhan ikan di Indonesia guna mendongkrak ekspor ikan yang saat ini masih terbatas di beberapa pelabuhan saja. "Kami akan buka lebih banyak pelabuhan dimana bisa ekspor ikan langsung, nanti dipelajari daerah mana saja. Ini dilakukan supaya nelayan dapat harga lebih baik," jelas Mantan Menko Perekonomian era Persiden Gus Dur. "Ini momentum kita bangun industri perikanan supaya nilai plusnya tinggi. Kepala ikan kaya omega, kita bisa jadi eksportir itu. Selain itu ekor ikan bisa diolah jadi tepung ikan untuk makanan ternak," tambahnya.
Lima Pilar Rizal Ramli mengatakan, pihaknya terus menggenjot program yang memajukan kemaritiman Indonesia, terutama mewujudkan poros maritim yang menjadi target pemerintahan Jokowi-JK. "Kita punya strategi yang diwujudkan dalam lima pilar terkait membangun kemaritiman," terangnya dalam 'Sosialisasi Program Kementerian Koordinator Kemaritiman dan Sumber Daya' di Gedung BPPT, Kamis (18/2). Pilar pertama, jelas Rizal, membangun budaya maritim. Budaya maritim adalah menyadarkan masyarakat Indonesia untuk kembali semboyan masa lalu yaitu ‘di laut kita jaya’ dan ‘nenek moyang kita adalah orang pelaut’. "Dengan membangkitkan kesadaran dan semangat tersebut akan menjadi pondasi pembangunan poros maritim, baik di kawasan Indonesia sendiri maupun untuk kawasan dunia," tandas Menko Kemaritiman dan Sumber Daya. Dalam membangun budaya maritim, lanjut dia, pihaknya telah mencanangkan program cinta laut kepada generasi bangsa. "Laut harus ada second love. Kita harus kembali ke laut," tutur Rizal. Guna mewujudkan cinta laut, Rizal kembali mengungkapkan kalau di setiap musim liburan sekolah pihaknya mengirim sekitar 1.000 orang pemuda, mahaiswa danpelajar SMA mengarungi lautan selama sebulan. "Dengan tinggal selama sebulan di kapal, kita munculkan kesadaran kalau Indonesia memiliki laut yang luas, laut yang kaya sumber maritim dan perikanan," paparnya. Kedua, lanjut Rizal, membangun sumber daya laut lewat industri pelayaran dengan nelayan sebagai pilar. Dalam pilar kedua ini, pemerintah akan membeli 5.000 kapal sedang selama lima tahun mendatang. Kemudian pemerintah melakukan berbagai upaya pencurian akan hasil laut ditindak tegas. "Dalam satu tahun terakhir sudah ada shock therapy berupa penenggelaman kapal-kapal ilegal yang menangkap ikan dan hasilnya luar biasa," tuturnya. Ketiga, pembangunan infrastruktur dan konektifitas antar pulau. Satu tahun terakhir, Jokowi-JK sudah berhasil membangun berbagai infrastruktur yang mempercepat konektifitas. "Konektivitas akan bisa dilakukan manakala pemerintah provinsi menghilangkan gap dengan provinsi yang lain," jelasnya. Keempat, diplomasi maritim digalakkan dan ditingkatkan. Satu tahun terakhir ini semua pihak sudah menjalankan tugas masing-masing dalam peningkatan diplomasi tersebut. "Saya salut dengan TNI AL yang gencar dan cepat menjalankan fungsi itu. Buktinya berbagai event digelar dengan menghadirkan berbagai kekuatan TNI AL di dunia," tambahnya. Kelima, memperkuat pertahanan maritim. Dengan memperkuat kekuatan TNI AL, baik alutsistanya maupun personelnya, agar TNI AL menjadi kekuatan terbesar di Asia Tenggara. Apalagi Indonesia juga memiliki laut yang luas yang bisa mendorong pembangunan industri maritim. "Saat ini momentum yang tepat membangun industri maritim dalam negeri dan kita bisa lepas dari ketergantungan memakai memakai produk maritim dari Eropa," ungkap Rizal. (Red)
Lima Pilar Rizal Ramli mengatakan, pihaknya terus menggenjot program yang memajukan kemaritiman Indonesia, terutama mewujudkan poros maritim yang menjadi target pemerintahan Jokowi-JK. "Kita punya strategi yang diwujudkan dalam lima pilar terkait membangun kemaritiman," terangnya dalam 'Sosialisasi Program Kementerian Koordinator Kemaritiman dan Sumber Daya' di Gedung BPPT, Kamis (18/2). Pilar pertama, jelas Rizal, membangun budaya maritim. Budaya maritim adalah menyadarkan masyarakat Indonesia untuk kembali semboyan masa lalu yaitu ‘di laut kita jaya’ dan ‘nenek moyang kita adalah orang pelaut’. "Dengan membangkitkan kesadaran dan semangat tersebut akan menjadi pondasi pembangunan poros maritim, baik di kawasan Indonesia sendiri maupun untuk kawasan dunia," tandas Menko Kemaritiman dan Sumber Daya. Dalam membangun budaya maritim, lanjut dia, pihaknya telah mencanangkan program cinta laut kepada generasi bangsa. "Laut harus ada second love. Kita harus kembali ke laut," tutur Rizal. Guna mewujudkan cinta laut, Rizal kembali mengungkapkan kalau di setiap musim liburan sekolah pihaknya mengirim sekitar 1.000 orang pemuda, mahaiswa danpelajar SMA mengarungi lautan selama sebulan. "Dengan tinggal selama sebulan di kapal, kita munculkan kesadaran kalau Indonesia memiliki laut yang luas, laut yang kaya sumber maritim dan perikanan," paparnya. Kedua, lanjut Rizal, membangun sumber daya laut lewat industri pelayaran dengan nelayan sebagai pilar. Dalam pilar kedua ini, pemerintah akan membeli 5.000 kapal sedang selama lima tahun mendatang. Kemudian pemerintah melakukan berbagai upaya pencurian akan hasil laut ditindak tegas. "Dalam satu tahun terakhir sudah ada shock therapy berupa penenggelaman kapal-kapal ilegal yang menangkap ikan dan hasilnya luar biasa," tuturnya. Ketiga, pembangunan infrastruktur dan konektifitas antar pulau. Satu tahun terakhir, Jokowi-JK sudah berhasil membangun berbagai infrastruktur yang mempercepat konektifitas. "Konektivitas akan bisa dilakukan manakala pemerintah provinsi menghilangkan gap dengan provinsi yang lain," jelasnya. Keempat, diplomasi maritim digalakkan dan ditingkatkan. Satu tahun terakhir ini semua pihak sudah menjalankan tugas masing-masing dalam peningkatan diplomasi tersebut. "Saya salut dengan TNI AL yang gencar dan cepat menjalankan fungsi itu. Buktinya berbagai event digelar dengan menghadirkan berbagai kekuatan TNI AL di dunia," tambahnya. Kelima, memperkuat pertahanan maritim. Dengan memperkuat kekuatan TNI AL, baik alutsistanya maupun personelnya, agar TNI AL menjadi kekuatan terbesar di Asia Tenggara. Apalagi Indonesia juga memiliki laut yang luas yang bisa mendorong pembangunan industri maritim. "Saat ini momentum yang tepat membangun industri maritim dalam negeri dan kita bisa lepas dari ketergantungan memakai memakai produk maritim dari Eropa," ungkap Rizal. (Red) 




























