Pernah Ditodong Daeng Aziz, Krishna Tak Takut Preman Kalijodo

Jakarta, Obsessionnews - Direktur Kriminal Umum (Dirkrimum) Polda Metro Jaya, Kombes Pol Krishna Murti, menyatakan mendukung penuh langkah Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahja Purnama (Ahok) yang akan mengembalikan kawasan Kalijodo, Jakarta, menjadi kawasan hijau atau taman. "Beliau ada hubungan emosional dengan saya.. Bawaannya kalau ktm emosi terus ke saya..*CakLontongModeon* #KMupdates," ujar Krishna, lewat akunnya di Facebook, Selasa (16/2). Baca juga:Ini Target Operasi KalijodoPemrov DKI Persiapkan 'Sikat' Kalijodo Polda-Kodam Jaya Siap 'Sikat' KalijodoKodam-Polda Siap Dukung Ahok Lawan Preman KalijodoAhok tak Gentar Ancaman Preman Kalijodo Pria yang pernah sukses menangani kawasan 'lampu merah' tersebut, waktu lama menjabat Kapolsek Penjaringan (2001-2004), punya segudang cara untuk menjinakkan preman di sana. Bahkan, dia dengan lantang tidak takut sedikit pun dengan ancaman dan gertakan, Daeng Aziz, yang menyebut dirinya tokoh Kalijodo. “Kalau dia melakukan kegiatan ilegal di atas tanah negara, dia harusnya nurut. Itu kan tanah negara, bukan milik dia pribadi,” ujar Krishna. Krishna juga memberi penegasan, bila upaya Pemda DKI itu mendapat perlawanan dari Azis dan kelompoknya, sebagai Dirkrimum Polda Metro Jaya akan mem-back up Polres Jakarta Utara dan menindak tegas. “Kalau melawan, kami tindak tegas. Ini negara punya kewajiban menjaga keamanan dan ketertiban, Pemda melakukan penertiban,” tegas Krishna. Krishna kemudian bercerita saat menjabat Kapolsek Penjaringan saat itu. Krishna saat itu meluluhlantakan kawasan prostitusi dan perjudian di Kalijodo. Gubernur DKI saat itu, Sutiyoso pun mengubah kawasan Kalijodo menjadi taman. “Waktu itu bersih, tidak ada lagi perjudian, prostitusi. PSK-PSKnya kita pulangkan semua,” kisah Krishna. Tetapi, seiring berjalannya waktu, kafe-kafe kembali tumbuh di kawasan Kalijodo. Pemda DKI Jakarta pun akan menertibkan kawasan yang terbagi ke dalam dua zona Jakarta Utara dan Jakarta Barat itu, serta merelokasi warga ke rumah susun. “Kami akan dukung upaya gubernur untuk menertibkan Kalijodo. Tidak masalah itu,” imbuh Krishna. [caption id="attachment_98580" align="aligncenter" width="640"]
Krishna Murti dan Daeng Azis[/caption] Ditodong Pistol Lewat bukunya 'Geger Kalijodo', Krishna bercerita, dirinya pernah ditodong pistol oleh Daeng Aziz, atau Bedul, pimpinan Kelompok Bugis. Peristiwa bermula saat terjadi bentrok antara dua kelompok, Bugis dan Mandar, di kawasan tersebut pada 22 Januari 2002. Situasinya amat menegangkan. Krishna datang besama pasukannya untuk meredam bentrokan. Ia mengejar seorang lelaki yang melepaskan tembakan. Belakangan diketahui ia adalah Bedul. Krishna berseru meminta Bedul menyerahkan senjatanya. Bedul berbalik. Bukannya takut, ia malah menggertak Krishna. “Jangan ada yang mendekat. Teriak dia ke arah saya,” cerita Krishna. Krisnha menimbang, situasinya saat itu tidak menguntungkannya untuk melepaskan tembakan. “Jika pelatuk itu ditarik, tamat juga riwayat saya. Kalaupun melawan dengan mencabut pistol, pasti ia lebih cepat menarik pelatuk,” tutur Krishna. Dalam situasi tersebut, pistol tidak lagi berguna. Ia menggunakan senjata lain: kata-kata. Ia merefleksikan, kata-kata yang ia ucapkan terbukti ampuh meredam amarah Bedul. “Saya ini Kapolsek. Jika kamu tembak saya, saya mati tidak masalah karena sedang bertugas demi bangsa dan negara. Namun, kalau saya mati, Anda semua akan habis!” kata Krishna. “Itu benar, bahwa saya menodongkan pistol. Tapi persoalannya, saya belum tahu itu Pak Krishna adalah Kapolsek Penjaringan,” kata Aziz kepada wartawan. Menurut Aziz, Krishna saat itu tidak menggunakan seragam polisi. “Dia (Krishna) belum kita kenal, tidak pakai seragam polisi,” ucap Aziz memberikan alasannya. (rez)
Krishna Murti dan Daeng Azis[/caption] Ditodong Pistol Lewat bukunya 'Geger Kalijodo', Krishna bercerita, dirinya pernah ditodong pistol oleh Daeng Aziz, atau Bedul, pimpinan Kelompok Bugis. Peristiwa bermula saat terjadi bentrok antara dua kelompok, Bugis dan Mandar, di kawasan tersebut pada 22 Januari 2002. Situasinya amat menegangkan. Krishna datang besama pasukannya untuk meredam bentrokan. Ia mengejar seorang lelaki yang melepaskan tembakan. Belakangan diketahui ia adalah Bedul. Krishna berseru meminta Bedul menyerahkan senjatanya. Bedul berbalik. Bukannya takut, ia malah menggertak Krishna. “Jangan ada yang mendekat. Teriak dia ke arah saya,” cerita Krishna. Krisnha menimbang, situasinya saat itu tidak menguntungkannya untuk melepaskan tembakan. “Jika pelatuk itu ditarik, tamat juga riwayat saya. Kalaupun melawan dengan mencabut pistol, pasti ia lebih cepat menarik pelatuk,” tutur Krishna. Dalam situasi tersebut, pistol tidak lagi berguna. Ia menggunakan senjata lain: kata-kata. Ia merefleksikan, kata-kata yang ia ucapkan terbukti ampuh meredam amarah Bedul. “Saya ini Kapolsek. Jika kamu tembak saya, saya mati tidak masalah karena sedang bertugas demi bangsa dan negara. Namun, kalau saya mati, Anda semua akan habis!” kata Krishna. “Itu benar, bahwa saya menodongkan pistol. Tapi persoalannya, saya belum tahu itu Pak Krishna adalah Kapolsek Penjaringan,” kata Aziz kepada wartawan. Menurut Aziz, Krishna saat itu tidak menggunakan seragam polisi. “Dia (Krishna) belum kita kenal, tidak pakai seragam polisi,” ucap Aziz memberikan alasannya. (rez)




























