Dirut BRI Asmawi Syam Tangguh Beraksi Di Tengah Turbulensi

Dirut BRI Asmawi Syam Tangguh Beraksi Di Tengah Turbulensi
Jakarta, Obsessionnews - Tak salah jika Asmawi Syam ditunjuk pemerintah sebagai Direktur Utama (Dirut) Bank Rakyat Indonesia (BRI). Karena sebagai bankir yang merintis karier dari bawah, ia paham betul bagaimana merawat dan membesarkan BRI. Terbukti, ketika terjadi kelesuan ekonomi nasional di tahun 2015, karateka Sabuk Hitam Dan VI ini justru mampu meningkatkan kekuatan BRI sehingga tak hanya mampu bertahan tapi juga mendongkrak performa. Penunjukannya sebagai Plt Dirut BRI pada Januari 2015 tentu menjadi momen tak terlupakan bagi alumnus Magister Manajemen, Universitas Padjajaran, Bandung, ini. Karena tak berselang dua bulan, ia sudah mendudukui posisi tertinggi di bank Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ini secara definitif. Tentu, itu merupakan buah dari dedikasi dan loyalitasnya meniti karier di Bank BRI. Ya, Asmawi memulai kiprahnya di BRI sejak tahun 1980 melalui program Calon Staff (CS) atau yang saat ini dikenal dengan Program Pengembangan Staff (PPS). [caption id="attachment_98516" align="alignleft" width="320"]Asmawi Syam memulai kiprahnya di BRI sejak tahun 1980. Asmawi Syam memulai kiprahnya di BRI sejak tahun 1980.[/caption] Pengalaman dan pemahamannya tentang BRI ditambah ilmu dari berbagai pendidikan dan pelatihan yang diikutinya membuat ia piawai dalam menjalani perannya sejak menjadi pegawai hingga direksi. Betapa tidak, selama di BRI ia sudah mengikuti pelatihan dan pendidikan di berbagai negara, seperti State Owned Enterprise to World Class Competitors, Creative, Innovative, and State Owned Firms (Filipina), Card and Payment dari European Financial, Management Marketing EFMA (Paris), Asia Pacific Strategic CRM in Banking and Financial Services (Kuala Lumpur), Strategic Leadership dari Mastercard International (Bangkok), World Congress on IT Information (Australia), Asset and Liability Management, Credit Risk Management & International Banking (Brussel). Perpaduan pengalaman dan pendidikan alumni S1 Fakultas Ekonomi Universitas Hasanuddin ini, yang diterapkannya saat memimpin. Kebetulan di tahun pertama kepemimpinannya, terjadi kelesuan ekonomi yang mau tak mau berimbas ke berbagai sektor. Termasuk sektor perbankan. BRI pun memahami itu. Tapi, lagi-lagi, di sinilah keandalan Asmawi Syam yang juga merupakan lulusan terbaik Sekolah Staff dan Pimpinan Bank angkatan XXIII Institute Bankir Indonesia di uji. Meskipun perekonomian Indonesia mengalami perlambatan, BRI dapat mempertahankan kinerja yang baik dan tetap tumbuh ditahun 2015 lalu. Sebut saja misalnya, pinjaman yang tumbuh 13,9% yoy atau Rp 68 T naik dari Rp 490.4T ke Rp558,4 T. Perlambatan ekonomi yang disertai dengan depresiasi Rupiah serta masih rendahnya harga komoditas, diakui Asmawi telah menciptakan tantangan tersendiri bagi Bank sebagai penyalur pinjaman. Meskipun demikian BRI berhasil menjaga kualitas pinjaman dengan tingkat NPL 2.02% di akhir tahun 2015. Sementara itu, pertumbuhan pinjaman yang stabil, diikuti dengan membaiknya kualitas pinjaman, serta rasio CASA yang meningkat, menyebabkan profitabilitas bank terjaga dengan baik. BRI mencatatkan laba sebesar Rp. 25,2 T atau tumbuh 4,3% dibandingkan dengan tahun 2014. Satu hal lagi yang membuat BRI tetap tangguh beraksi di tengah turbulensi ekonomi, diakui Asmawi tak lepas dari strategi bisnis BRI yang selalu fokus pada sektor UMKM (baik dari sisi pendanaan maupun pembiayaan). Untuk itu, penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang menjadi bagian dari upaya pemberdayaan UMKM, terus ditingkatkan. Selain sebagai agent of development yang mendukung kinerja pemerintah saat ini, BRI bertekad untuk ikut menyejahterakan para pengusaha kecil dan menengah. Tercatat, di Bulan Januari 2016, BRI telah meyalurkan KUR (KUR Mikro dan KUR Ritel) sebesar Rp. 5,63 T kepada lebih dari 285 ribu debitur. Karena itu, sekalipun kelak memasuki pasar Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) dan akan menyentuh sektor perbankan, Asmawi dan jajarannya sudah mempersiapkan diri. Ia sudah punya jurus jitu untuk itu. “Inisiatif integrasi ekonomi di kawasan ASEAN melalui MEA membawa tantangan yang harus disikapi dengan optimis. Namun optimisme tidak cukup, harus dibarengi dengan kerja keras dan kerja cerdas,” tegasnya. Dari sisi BRI, walaupun integrasi kegiatan perbankan akan dilakukan di tahun 2020, lanjutnya, BRI telah menyiapkan berbagai strategi untuk menghadapi MEA. “Sebagai bank yang berfokus dan setia melayani bisnis UMKM, human capital dan teknologi menjadi backbone bisnis BRI. Kami akan terus berinovasi dengan kedua hal ini sebagai fundamentalnya,” ungkapnya. Misalnya dari aspek human capital, BRI mempersiapkan soft dan hard competency karyawan untuk dapat bersaing pada level global. Di mana BRI saat ini mentransformasi training center menjadi BRI Corporate University. “Selain itu, kami berinvestasi jangka panjang dengan mengirimkan karyawan- karyawan terbaik kami setiap tahun untuk melanjutkan studi pasca sarjana di universitas terkemuka di Amerika Serikat, Inggris dan Australia,” bebernya. Kemudian dari aspek inovasi teknologi, BRI fokus pada proses bisnis yang semakin efisien, cepat, akurat dan menjangkau yang belum terjangkau. Karena itulah BRI akan meluncurkan BRIsat pada pertengahan 2016 ini. Melalui teknologi ini BRI akan menjangkau mereka yang belum terlayani untuk menjawab tantangan inklusi keuangan Indonesia. Sejumlah langkah bisnis pro rakyat juga dilakukan BRI seperti program BRILink, penerbitan Kartu Izin Usaha Mikro dan Kecil (IUMK), yang merupakan kartu debit co-branding BRI dengan Kementerian Dalam Negeri, Kementrian Koperasi dan UKM, dan Kementerian Perdagangan, digunakan sebagai ID Pelaku Usaha Mikro dan Kecil (PUMK). Untuk tahun ini, BRI sudah mempersiapkan berbagai layanan baru untuk mempertahankan competitive advantage yang saat ini sudah dimiliki. Target tersebut sesuai dengan prinsip kerjanya yakni apabila diberi amanah dan tanggung jawab maka akan selalu berusaha keras jauh melebihi harapan pemberi amanah. “Hari ini saya diberi amanah dan tanggung jawab sebagai Dirut BRI, sebagai dirut saya bertanggung jawab membesarkan BRI, tapi bagi saya adalah salah apabila saya hanya bertanggung jawab membesarkan BRI tanpa rakyat Indonesia merasakan manfaat kehadiran BRI,” tegas karateka yang hidupnya tidak pernah dipisahkan dari olahraga ini. Satu hal yang ia akan wariskan kepada BRI kelak adalah mencetak pemimpin-pemimpin BRI masa depan yang jauh lebih baik dari kapasitas yang saya miliki saat ini. Dengan menanamkan nilai nilai kepemimpinan yang pantang menyerah, memiliki kebanggaan yang luar biasa terhadap perusahaan serta menjunjung nilai nilai integritas yang tinggi dalam mengemban amanah. “Itu akan menjadi kebahagiaan yang tidak ternilai harganya bagi saya. Asset yang paling berharga bagi sebuah bank bukan gedung yang mewah karena suatu saat gedung mewah bisa menjadi usang dan diruntuhkan untuk dibangun kembali, bukan juga mesin karena suatu saat akan bisa digantikan dengan mesin yang lebih canggih, tetapi manusia yang berintegritas tidak akan tergantikan,” pungkasnya. (Sahrudi/Men’s Obsession)