Bansor, Antara Hujan dan Perambahan Hutan ?

Bansor, Antara Hujan dan Perambahan Hutan ?
Padang, Obsessionnews - Banjir dan Longsor yang melanda Sumbar pada Minggu dan Senin (7-8/2), menyisakan kepiluan bagi warga korban banjir dan longsor. Meski banjir sudah kering, kepiluan masih menggelanyut. Kenapa tidak, anggota keluarga meninggal, rumah hancur sampai lahan pertanian dan perikanan masyarakat rusak. Tidak sedikit diantaranya terpaksa pindah ke rumah orangtua, karena rumah mereka hancur disapu air. Warga korban banjir yang terpaksa pindah ke rumah orang tuanya adalah Ian. Warga Jorong Batu Bajarang, Taratak Paneh, Kecamatan Sungai Pagu, Kecamatan Solok Selatan ini rumahnya hancur saat banjir terjadi Senin (8/2). Ia bukan sendirian di Jorong itu yang rumahnya hancur. Ada lima kepala keluarga lagi yang rumahnya hancur dan terpaksa pindah, karena sudah tidak ada yang bisa diselamatkan lagi saat banjir datang. Banjir dan longsor yang melanda 10 daerah kabupaten/kota di Sumbar, selain faktor cuaca dimana curah hujan yang tinggi juga faktor manusia. Bansor - Sumbar2 Banjir bandang yang melanda perkampungan Lambak, Kecamatan Panti, Kabupaten Pasaman, misalnya dipengaruhi dua faktor diatas. "Material kayu yang dibawa hanyut oleh air sampai ke perkampungan, mengindikasikan bahwa kejadian ini ada keterkaitan dengan perambahan hutan," kata anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sumbar daerah pemilihan Pasaman, Sabar kepada obsessionnews.com, Senin (15/2). Sabar mengaku sudah menyampaikan kondisi yang terjadi dilapangan, kepada Wakil Gubernur (Wagub) Sumbar Nasrul Abit saat mengunjungi lokasi pada Minggu (14/2). Jika indikasi ada perambahan hutan yang menyebabkan perkampungan Lambak dihantan banjir bandang, penegakan hukum mesti dijalankan. Menurut Sabar, jika penegakan hukum tidak dijalankan, akan dapat mengancam kondisi lingkungan dan pemukiman masyarakat. Penanganan pasca banjir dan longsor, penanganan harus dilakukan secara terpadu. Melaksanakan program reboisasi berikut program pemberdayaan ekonomi masyarakat. Sabar khawatir, jika penanganannya tidak segera dan tepat, akan dapat mengancam ekonomi masyarakat. Masyarakat sangat tergantung dengan lahan pertanian dan kolam, karena hal itu merupakan sumber ekonomi masyarakat. Lahan itu kini terancam kering dan tidak bisa diairi, karena irigasi Batang Tingkarang jebol saat banjir datang. Menurut Sabar, irigasi yang menjadi kewenangan provinsi Sumbar itu bisa mengairi sawah seluas 3.000 hektar. "Setelah jebol akibat banjir, swah dan kolam masyarakat kering karena air sudah tidak bisa mengalir lagi," ujar Sabar. (Musthafa Ritonga)