Wah! Pj Bupati Muna Barat Banting Gobang di Lantai ?

Muna Barat, Obsessionnews - Pelaksana Jabatan (Pj) Bupati dikabarkan membanting gobang atau pin tanda jabatan-nya di lantai. Salah satu masyarakat Muna Barat, La Ode Agus yang mengaku melihat hal itu, sangat menyayangkan arogansi Pj Bupati Muna Barat LM Rajiun Tumada yang membanting pin tanda jabatan-nya karena hal itu dinilai melanggar kode etik. La Ode Agus pun heran dan tak mengerti, mengapa ada pejabat membanting pin jabatannya sendiri. “Ini baru kejadian di Republik ini seorang Pelaksana Jabatan Bupati karena kemarahannya yang begitu besar, kemudian membanting pin tanda jabatannya di lantai. Langkah-langkah yang dilakukan itu, kita anggap sudah menyimpang apalagi melempar gobang itu, bukan main-main kan,” duga La Ode Agus kepada Osessionnews.com, melalui selulernya, Jumat (12/2/2016).
La Ode Agus pun menceritakan kronologis kejadiannya. Tepatnya Rabu (10/2) siang, La Ode Agus mengaku bersama temannya dua orang berkunjung ke kantor Bupati Muna Barat di Lombu Jaya. Sekitar pukul 13:00 WITA, mereka tiba di depan pintu ruangan Pj Bupati Rajiun, tak ada percakapan sebelumnya tapi tiba-tiba Rajiun marah. “Kedatangan kami bukan dalam rangka demo, jumlah kami hanya tiga orang. Kita bertemu di depan pintu ruangannya, belum ada interaksi komunikasi, belum sempat cerita-cerita langsung ada reaksi,” ungkapnya. La Ode Agus juga mengaku tidak mengerti sama sekali, namun menurut dia, dalam pembicaraannya Rajiun sempat menyebut-nyebut soal demonstrasi yang pernah dilakukan Nur Arduk. La Ode Agus semakin tak mengerti sebab aksi yang dilakukan Nur Arduk sebelumnya tidak diketahuinya. “Selama ini saya di Jakarta ada urusan, dan tidak tahu soal aksi itu, saya baru tiba empat hari yang lalu,” aku La Ode. Menurut La Ode, maksud kunjungan dirinya di gedung Bupati Muna Barat tak lain hanya ingin bersilaturahmi. Sebab kata dia, sebelumnya Pj Bupati Muna Barat pernah menanyakan keberadaanya yang selama ini tidak kelihatan. “Akhirnya saya berkunjung dan agendanya silatuhrahmi, minimal cerita-cerita lah, ternyata saya disambut begitu. Saya tidak mengerti tiba-tiba dia melampiaskan kemarahannya kepada saya,” akunya heran. La Ode Agus merasa juga selama ini tidak bermasalah dengan Rajiun, baik secara pribadi maupun sosial. “Saya pikir selama ini tidak bermasalah dengan dia, memangnya saya melakukan langkah-langkah tidak sehat, atau saya melakukan demonstrasi. Nur Arduk demontrasi, dan saya dianggap mungkin berteman dan sama-sama dalam aksi itu,” sanggahnya. Karena menganggap situasi tidak memungkinkan, akhirnya La Ode Agus langsung pamit pulang. Apalagi dia sempat mendengar suara-suara sumbang, “Kalian juga apa, saya juga preman” kemudian membanting gobang itu. “Saya pun langsung pulang dengan mengajak teman-teman saya. Apalagi saya sempat mendengar suara-suara sumbang itu, ini kan bahaya,” kisah La Ode. Ia pun menilai adalah tidak layak diduga seorang pejabat daerah melakukan tindakan intimidasi, tekanan-tekanan fisik kepada masyarakat. Seharusnya, tutur dia, bilamana ada masalah atau ada gerakan-gerakan masyarakat mengritik kebijakan, pemerintah meresponnya dengan melakukan dialog secara tatap muka. “Saya pikir pemerintah berhak untuk mengklarifikasi segala gerakan masyarakat yang melakukan kritik terhadap kebijakan pemerintah,” sarannya. La Ode Agus menduga sikap Pj Muna Barat sudah melanggar kode etik seorang pejabat, sebab pin itu simbol perangkat pimpinan daerah. Ia menilai juga untuk mendapatkan pin tidak sembarang orang namun hanya orang-orang pilihan yang memakai simbol bahan dasar garuda logam berwarna emas itu. Namun La Ode Agus yang juga mantan ketua BEM FISIP Universitas Halu Oleo ini berharap tindakan yang dilakukan Rajiun merupakan kekhilafan. “Mudah-mudahan tindakannya itu suatu kekhilafan, dan mudah-mudahan dia sadar,” harapnya. Meski demikian, La Ode Agus merasa kecewa, dan menilai hal itu bentuk kekhilafan dan kesalahan salah satu pejabat Muna Barat. Ia juga berharap agar Menteri Dalam Negeri (Mendagri) bersikap tegas pada pejabat khususnya di Muna Barat. “Saya harap Mendagri bersikap, sebab hal itu pelanggaran kode etik,” paparnya. Sampai berita ini diturunkan, untuk mengkonfirmasi peristiwa hal ini, obsessionnews.com masih berusaha menghubungi pihak terkait. (Asma)
La Ode Agus pun menceritakan kronologis kejadiannya. Tepatnya Rabu (10/2) siang, La Ode Agus mengaku bersama temannya dua orang berkunjung ke kantor Bupati Muna Barat di Lombu Jaya. Sekitar pukul 13:00 WITA, mereka tiba di depan pintu ruangan Pj Bupati Rajiun, tak ada percakapan sebelumnya tapi tiba-tiba Rajiun marah. “Kedatangan kami bukan dalam rangka demo, jumlah kami hanya tiga orang. Kita bertemu di depan pintu ruangannya, belum ada interaksi komunikasi, belum sempat cerita-cerita langsung ada reaksi,” ungkapnya. La Ode Agus juga mengaku tidak mengerti sama sekali, namun menurut dia, dalam pembicaraannya Rajiun sempat menyebut-nyebut soal demonstrasi yang pernah dilakukan Nur Arduk. La Ode Agus semakin tak mengerti sebab aksi yang dilakukan Nur Arduk sebelumnya tidak diketahuinya. “Selama ini saya di Jakarta ada urusan, dan tidak tahu soal aksi itu, saya baru tiba empat hari yang lalu,” aku La Ode. Menurut La Ode, maksud kunjungan dirinya di gedung Bupati Muna Barat tak lain hanya ingin bersilaturahmi. Sebab kata dia, sebelumnya Pj Bupati Muna Barat pernah menanyakan keberadaanya yang selama ini tidak kelihatan. “Akhirnya saya berkunjung dan agendanya silatuhrahmi, minimal cerita-cerita lah, ternyata saya disambut begitu. Saya tidak mengerti tiba-tiba dia melampiaskan kemarahannya kepada saya,” akunya heran. La Ode Agus merasa juga selama ini tidak bermasalah dengan Rajiun, baik secara pribadi maupun sosial. “Saya pikir selama ini tidak bermasalah dengan dia, memangnya saya melakukan langkah-langkah tidak sehat, atau saya melakukan demonstrasi. Nur Arduk demontrasi, dan saya dianggap mungkin berteman dan sama-sama dalam aksi itu,” sanggahnya. Karena menganggap situasi tidak memungkinkan, akhirnya La Ode Agus langsung pamit pulang. Apalagi dia sempat mendengar suara-suara sumbang, “Kalian juga apa, saya juga preman” kemudian membanting gobang itu. “Saya pun langsung pulang dengan mengajak teman-teman saya. Apalagi saya sempat mendengar suara-suara sumbang itu, ini kan bahaya,” kisah La Ode. Ia pun menilai adalah tidak layak diduga seorang pejabat daerah melakukan tindakan intimidasi, tekanan-tekanan fisik kepada masyarakat. Seharusnya, tutur dia, bilamana ada masalah atau ada gerakan-gerakan masyarakat mengritik kebijakan, pemerintah meresponnya dengan melakukan dialog secara tatap muka. “Saya pikir pemerintah berhak untuk mengklarifikasi segala gerakan masyarakat yang melakukan kritik terhadap kebijakan pemerintah,” sarannya. La Ode Agus menduga sikap Pj Muna Barat sudah melanggar kode etik seorang pejabat, sebab pin itu simbol perangkat pimpinan daerah. Ia menilai juga untuk mendapatkan pin tidak sembarang orang namun hanya orang-orang pilihan yang memakai simbol bahan dasar garuda logam berwarna emas itu. Namun La Ode Agus yang juga mantan ketua BEM FISIP Universitas Halu Oleo ini berharap tindakan yang dilakukan Rajiun merupakan kekhilafan. “Mudah-mudahan tindakannya itu suatu kekhilafan, dan mudah-mudahan dia sadar,” harapnya. Meski demikian, La Ode Agus merasa kecewa, dan menilai hal itu bentuk kekhilafan dan kesalahan salah satu pejabat Muna Barat. Ia juga berharap agar Menteri Dalam Negeri (Mendagri) bersikap tegas pada pejabat khususnya di Muna Barat. “Saya harap Mendagri bersikap, sebab hal itu pelanggaran kode etik,” paparnya. Sampai berita ini diturunkan, untuk mengkonfirmasi peristiwa hal ini, obsessionnews.com masih berusaha menghubungi pihak terkait. (Asma) 




























