Pesawat TNI AU Jatuh di Rumah Penduduk

Malang, Obsessionnews – Pesawat latih milik TNI AU jatuh di sebuah perkampungan padat penduduk di Jalan Laksamana Adisutjipto, Kecamatan Blimbing, Kota Malang, Jawa Timur (Jatim), Rabu (10/2/2016), sekitar pukul 10.00 WIB. Lokasi jatuhnya pesawat berjarak sekitar 5km dari Lapangan udara TNI AU Abdurrahman Saleh. Seorang pemilik rumah dan pilot serta kopilot pesawat dilarikan ke rumah sakit. Pesawat Embraer EMB 314 Super Tucano yang jatuh dan menyambar sebuah rumah warga tersebut merupakan pesawat serang anti gerilya buatan negara Brasil. Pesawat ini didesain untuk serangan kilat berkemampuan Counter Insurgency (COIN), serangan pendukung serta antisipasi ancaman tingkat rendah. Pesawat Super Tucano pertama kali diperkenalkan pada tahun 2003. Setidaknya 15 negara plus Brasil sendiri menggunakan Super Tucano. Mereka adalah Republik Dominika, Kolombia, Angola, Ekuador, Cili, Burkina Faso, Mauritania, Afghanistan, Amerika Serikat, Senegal, Honduras, Lebanon, Mali, Ghana dan Indonesia. [caption id="attachment_96916" align="aligncenter" width="640"]
Pesawat latih tempur Super Tucano milik TNI AU.[/caption] Dibekali dua kursi pilot dan navigator serta panjang 11,42 meter dan lebar sayap 3,9 meter, pesawat latih ini mampu terbang dengan kecepatan maksimum 590 km/jam. Selain itu, Super Tucano juga memiliki dua senapan mesin di sayap kanan dan kiri, 5 buah cantelan yang bisa dipasang bom jenis Mk 81 dan Mk 82, peluncur roket, dan bom berpemandu laser. Indonesia diketahui memesan 16 pesawat Super Tucano pada akhir Januari tahun 2010 lalu. Marsekal TNI (Purn) Imam Sufaat selaku Kepala Staf TNI Angkatan Udara (AU) menyetujui penggantian pesawat Super Tucano dengan pesawat IV-10 Bronco yang mana sudah habis masa terbangnya di Skadron 21 Malang. Super Tucano pertama tiba di Indonesia pada tahun 2012 beserta sistem pertahanan terhadap serangan darat. Menteri Pertahanan saat itu, Purnomo Yusgiantoro menginginkan agar PT Dirgantara selaku perusahaan pembuat alat militer mampu memproduksi bagian-bagian Super Tucano. Hingga kini, seluruh pesawat berada di pangkalan udara Abdul Rachman Saleh dan memperkuat skuadron sayap kiri kedua TNI Angkatan Udara. (Yusuf IH) [caption id="attachment_96903" align="aligncenter" width="640"]
Warga sekitar mendatangi lokasi jatuhnya pesawat di kawasan Blimbing, Malang. (BBC)[/caption]
Pesawat latih tempur Super Tucano milik TNI AU.[/caption] Dibekali dua kursi pilot dan navigator serta panjang 11,42 meter dan lebar sayap 3,9 meter, pesawat latih ini mampu terbang dengan kecepatan maksimum 590 km/jam. Selain itu, Super Tucano juga memiliki dua senapan mesin di sayap kanan dan kiri, 5 buah cantelan yang bisa dipasang bom jenis Mk 81 dan Mk 82, peluncur roket, dan bom berpemandu laser. Indonesia diketahui memesan 16 pesawat Super Tucano pada akhir Januari tahun 2010 lalu. Marsekal TNI (Purn) Imam Sufaat selaku Kepala Staf TNI Angkatan Udara (AU) menyetujui penggantian pesawat Super Tucano dengan pesawat IV-10 Bronco yang mana sudah habis masa terbangnya di Skadron 21 Malang. Super Tucano pertama tiba di Indonesia pada tahun 2012 beserta sistem pertahanan terhadap serangan darat. Menteri Pertahanan saat itu, Purnomo Yusgiantoro menginginkan agar PT Dirgantara selaku perusahaan pembuat alat militer mampu memproduksi bagian-bagian Super Tucano. Hingga kini, seluruh pesawat berada di pangkalan udara Abdul Rachman Saleh dan memperkuat skuadron sayap kiri kedua TNI Angkatan Udara. (Yusuf IH) [caption id="attachment_96903" align="aligncenter" width="640"]
Warga sekitar mendatangi lokasi jatuhnya pesawat di kawasan Blimbing, Malang. (BBC)[/caption] 




























