Tiga Ketum ini Mampu Bawa Golkar di Tingkat Atas

Tiga Ketum ini Mampu Bawa Golkar di Tingkat Atas
Jakarta, Obsessionnews - Partai Golkar nampaknya sangat kokoh seperti pohon beringin yang batangnya besar dengan akar yang kuat. Saking kokohnya, sampai-sampai badai reformasi tahun 1988 tidak mampu menumbangkan Golkar. Meski Presiden Soeharto sebagai tokoh sentral Golkar saja lengser. Namun seiring berjalannya waktu, Partai Golkar telihat semakin keropos tercabut dari akar-akarnya. Hal itu ditandai dengan drama perebutan kekuasaan antara kubu Aburizal Bakrie dan kubu Agung Laksono. Lebih dari setahun konflik Golkar tidak menemukan ujung pangkal. Memang partai politik tanpa konflik ibarat sayur tanpa garam, kurang 'sedap' - begitu kata orang Madura. Di Golkar sendiri bukan kali ini saja terjadi konflik dalam perebutan kursi ketua umum. Dampaknya sudah empat partai yang lahir dari rahim Golkar, yaitu PKPI, Hanura, Gerindra dan Nasdem. Kini di usianya yang semakin tua, Golkar ingin kembali menata dan menemukan jati dirinya sebagai partai yang kokoh, dengan mengadakan musyawarah nasional luar biasa (Munaslub). Agenda ini sudah disepakati oleh kedua kubu, Agung Laksono dan Aburizal sebagai media rekonsiliasi. Jika dilihat dari sejarah, sejak reformasi suara Golkar cenderung menurun dibanding pada masa Orde Baru. Diawali saat Golkar dipimpin Akbar Tandjung pada pemilu 1999, Golkar hanya meraih 120 kursi di DPR kemudian pada Pemilu 2004 suara Golkar sempat naik menjadi 128 kursi di DPR. Di era Jusuf Kalla pada Pemilu 2009 turun menjadi 106 suara. Pemilu 2014 di bawah Aburizal suara Golkar merosot hingga tinggal 91 kursi di DPR. Hal ini berbeda ketika Golkar dipimpin oleh tokoh-tokoh Jawa Timur waktu itu, seperti Amir Murtono pria kelahiran Nganjuk yang menjabat Ketua Umum Golkar pada tahun 1973 -1983. Di bawah kepemimpinannya Pada Pemilu 1997 Golkar sukses meraih 232 suara dari 360 suara atau 62,11 persen. Kemudian berlanjut, Pemilu 1982 Golkar kembali memenangkan Pemilu dengan meraih 242 kursi di DPR dari 360 kursi atau 64,34 persen. Suara Golkar kembali meningkat setelah dipimpin oleh Sudharmono, Pria asal Gresik yang juga pernah menjabat sebagai Wakil Presiden mendampingi Presiden Soeharto tahun 1988-1993. Letnan Jenderal TNI (Purn) ini memimpin Partai Golkar tahun1983-1988‎ menggantikan Amir Murtono. Di era kepemimpinannya suara Golkar terus mengalami peningkatan. Pada Pemilu 1987 Golkar meraih 299 kursi di DPR dari total 400 kursi atau 73,11 persen. Pada awal terpilihnya Sudharmono sebagai Ketua Umum Golkar banyak menganggap Golkar akan mengalami masa-masa sulit. Hanya mantan Ketua FKP Sugiharto yang optimis Golkar akan berhasil. Pesimistis itu muncul karena para pengamat menilai Sudharmono belum berpengalaman di dunia politik. Ia hanya punya pengalaman dalam dunia militer dan birokrat. "Pak Giarto meramalkan Pak Dhar akan mengatasi karakter para politikus yang duduk di DPP Golkar, termasuk saya yang mempunyai reputasi sebagai orang rewel, vokal, bahkan urakan,'' tulis mantan Sekjen DPP Golkar Sarwono Kusumaatmadja dalam buku Kesan dan Kenangan dari Teman 70 Tahun Sudharmono SH. Pesimis itu akhirnya terbantahkan ketika Golkar mampu memperoleh suara 73,11 persen. Pada tahun 1999-1992 kursi Ketua Umum Golkar beralih ke tangan Wahono yang berasal dari Tulungagung Jawa Timur, meski Pemilu 1992 suara Golkar menurun menjadi 282 kursi di DPR. Namun, Golkar tetap menduduki peringkat atas. Baru ‎ketika Golkar dipimpin oleh Harmoko pada tahun 1993-1998 menggantikan Wahono. Mantan Ketua MPR ini, mampu membawa Golkar meraih 325 kursi dari total 400 kursi di DPR pada Pemilu1997. Pria asal Nganjuk Jawa Timur ini disebut sebagai Ketua Umum Golkar tersukses. Pasalnya, suara Golkar mampu tembus 74,51 persen. Disinilah Golkar mengalami puncak kejayaan. Tahun 1998 reformasi bergulir, saat Harmoko menjabat sebagai Ketua DPR/MPR periode 1997-1999, dua bulan sesudahnya gelombang mahasiswa memintanya untuk mundur. Sejak saat itulah, pasca reformasi suara Golkar terus mengalami penurunan. ‎Tentu dengan adanya Munaslub tahun ini, Golkar tidak ingin suaranya kembali mengalami penurunan. Karena itu, perlu pemimpin yang berkarakter untuk bisa menguatkan pohon beringin. Sebagai provinsi terbesar di Indonesia, para Ketua Umum Partai Golkar dari Jawa Timur itu menjadi salah satu kader yang mampu membawa kejayaan bagi Golkar di masanya. ‎Meski demikian, kedepan, tetap perlu ada kerjasama antar semua kader untuk membangun Golkar ke arah lebih baik. (Albar)