Ridwan Kamil Raih Anugerah Kebudayaan PWI

Mataram, Obsessionnews - Wali Kota Bandung M Ridwan Kamil meraih Anugerah Kebudayaan PWI Pusat 2015. Ia adalah satu-satunya kepala daerah yang memerintahkan kepada seluruh kepala dinas untuk mudah diwawancarai oleh wartawan. Penghargaan diserahkan oleh Menteri Koordinator bidang Pembangunan dan Kebudayaan RI Puan Maharani pada acara puncak Hari Pers Nasional (HPN) 2015 di Mataram, NTB, Selasa (9/2/2016). Disaksikan Presiden RI Joko Widodo dan sejumlah Menteri Kabinet Kerja yang ikut menghadiri acara tersebut. Penghargaan tersebut diberikan oleh PWI Pusat kepada Wali Kota Bandung karena dinilai berhasil membangun Kota Bandung menjadi Kota Metropolitan baru berkelas internasional dengan pendekatan kebudayaan berbasis metropolis berpadu dengan tradisi lokal. Didukung dengan iptek disertai dengan penghormatan, pelestarian dan pengembangan memori kolektif kultural sunda, sehingga akan tetap melindungi tatanan moral warganya. Seperti program "Rabu Nyunda". Selain Wali Kota Bandung, ada 7 kepala daerah lainnya yang memperoleh penghargaan serupa, yaitu Bupati Wakatobi (Hugua), Bupati Bupati Purwakarta (Dedy Mulyadi), Bupati Tegal (Enthus Sukamnto), Bupati Banyuwangi (Abdullah Azwar Anas), Wali Kota Sawahlunto (Anas Yusuf), Bupati Belu (Welhelmus Roni), dan Wali Kota Tomonon (Jimmy F Eman). Setelah menerima penghargaan tersebut Wali Kota Bandung mengucapkan syukur atas apresiasi yang diberikan kepada dirinya. [caption id="attachment_96555" align="aligncenter" width="640"]
Puan Maharani dan Ridwan Kamil.[/caption] PWI menilai Pemkot Bandung serius mempersiapkan kebudayaan khususnya budaya sunda sebagai strategi membangun di kota Bandung. "Dua tahun pertama kan strateginya kan rebo nyunda, alhamdulillah sudah populer, tahun ketiga ini mulai pendidikan karakter berbasis kebudayaan sunda, akan dilaunching bulan april ini," ujar Wali Kota Bandung. Ridwan Kamil memaparkan, sekolah-sekolah nantinya akan mewajibkan kegiatan berbasis kebudayaan sunda. "Populer dulu baru keseriusan," ujarnya. Wali Kota Bandung ini juga berharap, di akhir kepemimpinannya selain penampilan berbahasa, kebudayaannya pun makin kokoh, apalagi di era metropolitan tantangannya luar biasa. "Contoh pendidikan karakter yang nanti di launching selain rebo nyunda, ada ekstra kulikuler berbasis budaya sunda," jelasnya. Selain itu Wali Kota Bandung, Ridwan Kamil berharap pers bisa menjadi agen perubahan yang optimisme. Karena rasa optimisme sangat dibutuhkan Kota Bandung dan Indonesia. “Pers itu memberi persimpangan. Apakah akan diarahkan ke pesimisme atau optimisme. Karena pers memberikan sesuatu yang dikonsumsi oleh masyarakat,” katanya. Menurut Ridwan, pers setidaknya memiliki tiga fungsi yaitu informasi, menghibur dan, edukasi. "Pers tidak harus fokus pada informasi. Pers juga harus memberikan edukasi sehingga bisa memberikan pencerahan kepada masyarakat. “Jangan terlalu fokus pada informasi yang pesimis. Apalagi antara judul dengan isi berita tidak nyambung,” kritiknya. “Saya sepakat dengan presiden yang menginginkan agar pers juga bisa membangun optimisme,” paparnya. Namun di sisi lain, Ridwan juga memberikan keleluasaan kepada pers untuk bisa mengakses informasi yang dibutuhkannya. Termasuk telah memerintahkan kepada seluruh kepala dinas untuk mudah diwawancarai oleh wartawan. “Kita tidak anti kritik. Kita ingin dikritisi dengan cara-cara yang baik. Hubungan ini yang harus terus dijaga,” pungkasnya. (Dudy Supriyadi)
Puan Maharani dan Ridwan Kamil.[/caption] PWI menilai Pemkot Bandung serius mempersiapkan kebudayaan khususnya budaya sunda sebagai strategi membangun di kota Bandung. "Dua tahun pertama kan strateginya kan rebo nyunda, alhamdulillah sudah populer, tahun ketiga ini mulai pendidikan karakter berbasis kebudayaan sunda, akan dilaunching bulan april ini," ujar Wali Kota Bandung. Ridwan Kamil memaparkan, sekolah-sekolah nantinya akan mewajibkan kegiatan berbasis kebudayaan sunda. "Populer dulu baru keseriusan," ujarnya. Wali Kota Bandung ini juga berharap, di akhir kepemimpinannya selain penampilan berbahasa, kebudayaannya pun makin kokoh, apalagi di era metropolitan tantangannya luar biasa. "Contoh pendidikan karakter yang nanti di launching selain rebo nyunda, ada ekstra kulikuler berbasis budaya sunda," jelasnya. Selain itu Wali Kota Bandung, Ridwan Kamil berharap pers bisa menjadi agen perubahan yang optimisme. Karena rasa optimisme sangat dibutuhkan Kota Bandung dan Indonesia. “Pers itu memberi persimpangan. Apakah akan diarahkan ke pesimisme atau optimisme. Karena pers memberikan sesuatu yang dikonsumsi oleh masyarakat,” katanya. Menurut Ridwan, pers setidaknya memiliki tiga fungsi yaitu informasi, menghibur dan, edukasi. "Pers tidak harus fokus pada informasi. Pers juga harus memberikan edukasi sehingga bisa memberikan pencerahan kepada masyarakat. “Jangan terlalu fokus pada informasi yang pesimis. Apalagi antara judul dengan isi berita tidak nyambung,” kritiknya. “Saya sepakat dengan presiden yang menginginkan agar pers juga bisa membangun optimisme,” paparnya. Namun di sisi lain, Ridwan juga memberikan keleluasaan kepada pers untuk bisa mengakses informasi yang dibutuhkannya. Termasuk telah memerintahkan kepada seluruh kepala dinas untuk mudah diwawancarai oleh wartawan. “Kita tidak anti kritik. Kita ingin dikritisi dengan cara-cara yang baik. Hubungan ini yang harus terus dijaga,” pungkasnya. (Dudy Supriyadi)




























