Naiknya Harga Pangan Berdampak pada Status Gizi Masyarakat

Bogor, Obsessionnews - Sekretaris Umum Forum Mahasiswa Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor (IPB) asal Sulawesi Selatan (Rumana IPB-Sulsel) Adhyanti menilai meningkatnya sejumlah harga pangan di pasaran sekarang ini jelas berdampak pada daya beli masyarakat. Bahkan, pada konsumsi rumah tangga bisa berakibat pada perubahan status gizi masyarakat. “Bukan saja berdampak pada daya beli masyarakat, namun akan terjadi perubahan status gizi masyarakat,” ungkapnya pada Obsessionnews.com, Selasa (9/2/2016) Adhyanti prihatin terhadap melonjaknya harga komoditas seperti daging sapi, daging ayam, harga beras, jagung dan bahan pokok lainnya yang terjadi sejak akhir Desember 2015 lalu. “Kalau harga naik maka masyarakat miskin yang paling rentan terkena dampak peningkatan harga pangan ini. Misalnya warga miskin yang sebagian besar terkonsentrasi di desa dan berprofesi sebagai petani maupun peternak,” tuturnya. Melalui hasil diskusi panel Rumana IPB-Sulsel yang digelar di Bogor 5 Februari 2016 bertema “Melonjaknya Harga Pangan, Apa yang Harus Dilakukan?” dianalisis bahwa fakta kenaikan harga beberapa jenis komoditas disinyalir terjadinya kesemrawutan dan mispersepsi data terkait ketersediaan dan konsumsi pangan masyarakat. “Kami menilai juga ada perbedaan pandangan antara Kementerian Perdagangan dengan Kementerian Pertanian terkait kebijakan impor sapi maupun beras,” katanya menduga. Melalui diskusi panel tersebut, mereka juga menduga adanya permainan kartel perusahaan pengelola pangan bagian dari biang kerok kenaikan pangan. Masifnya konversi lahan pertanian industri, krisis lingkungan termasuk krisis air dan el-nino, rendahnya posisi tawar petani, minimnya infrastruktur pertanian seperti waduk dan irigasi, serta arus urbanisasi dianggap bagian faktor pencetus ketidakstabilan harga pangan. Mengimbangi konsumsi jangka pendek, Adhyanti menyarankan masyarakat agar konsumsi pangan seperti daging diganti dengan mengonsumsi ikan. Sedangkan konsumsi beras dapat diganti dengan konsumsi umbi-umbian. “Kalau solusi jangka panjang perlunya interkoneksi sektor terkait validasi data, reorientasi kebijakan pertanian berbasis keunikan karakteristik wilayah masing-masing. Perlunya advokasi kelompok petani terkait penguasaan teknologi tepat guna untuk peningkatan produksi, serta pentingnya konsistensi penerapan dan pengawalan UU,”sarannya. Diketahui, harga daging sapi saat ini mencapai Rp120.000 hingga Rp140.000 per kg, yang sebelumya harganya hanya berkisal Rp100.000 per kg. Sedangkan harga daging ayam ras meningkat sekitar 7,32% sedangkan beras mengalami peningkatan sekitar 0,62 sampai 1,03% terhitung Desember 2015. (Asma)





























