Bumerang Anjloknya Harga Minyak bagi Saudi

Bumerang Anjloknya Harga Minyak bagi Saudi
Riyadh - Petualangan Arab Saudi di kancah ekonomi dan politik telah membawa konsekuensi negatif. Politisasi harga minyak oleh Saudi memiliki banyak dampak negatif bagi negara itu yang sepenuhnya bergantung pada penjualan emas hitam. Kerajaan Saudi mengambil langkah politis di sektor minyak untuk menyingkirkan rival-rival ekonominya dan meminggirkan mereka dari arena politik. Para pengamat ekonomi dan politik kawasan meyakini bahwa penurunan harga minyak adalah konspirasi Saudi atas instruksi Amerika Serikat dan negara-negara Barat dengan maksud memukul perekonomian Iran dan Rusia. Harga minyak dunia sejak pertengahan tahun 2014 kehilangan nilainya hampir tiga perempat dan sekarang harga minyak mendekati angka 30 dolar per barel. Sejumlah prediksi menyebut bahwa jika harga minyak dunia tetap anjlok, maka tingkat defisit anggaran Saudi akan mencapai 50 persen dari total Produk Domestik Bruto (PDB) negara itu pada tahun 2020. Arab Saudi sebagai produsen terbesar minyak di dunia mulai merasakan dampak anjloknya harga minyak dan terpaksa harus mencari pinjaman dari luar negeri untuk menjamin kebutuhan finansialnya. Saudi menurut berbagai laporan memompa minyak lebih dari 10 juta barel per hari. Negara itu tampaknya akan mengambil pinjaman dari luar negeri untuk menutupi defisit anggaranya yang mencapai 87 miliar dolar. Tahap pertama pinjaman itu ditetapkan sebesar 5 miliar dolar. Makar Riyadh di sektor minyak telah merusak perekonomian produk tunggal negara itu dan memperbesar tekanan terhadap rakyat Saudi. Kondisi ini bisa menyulut pembangkangan sipil melawan rezim diktator Al Saud. Ekonomi Arab Saudi sekitar 80 persen bergantung pada penerimaan ekspor minyak dan penurunan konstan harga minyak dunia telah membuat suram prospek ekonomi negeri Petro Dolar itu. Saudi tidak memiliki industri induk dan pendapatan lain selain mengandalkan penjualan minyak. Anggaran belanja semua pusat dan departemen di Arab Saudi juga bergantung pada uang minyak. Warga Saudi sekarang mulai merasakan kesulitan ekonomi akibat petualangan para penguasa negara kaya minyak itu. Pemerintah Saudi memangkas subsidi untuk menutupi defisit anggaran dan dalam langkah pertama, mereka menaikkan harga air, listrik, dan bahan bakar. Harga bensin di Arab Saudi meningkat lebih dari 50 persen. Kebijakan reformasi Saudi dalam memangkas subsidi dan pelayanan publik berpotensi menciptakan protes sosial di negara itu. Jatuhnya nilai tukar riyal terhadap dolar juga akan mempersulit program wisata warga Saudi ke manca negara. Bersamaan dengan krisis ekonomi, Arab Saudi juga menghadapi tantangan sulit di panggung politik global. Agresi Saudi ke Yaman yang sudah berlangsung lebih dari 11 bulan belum mencapai tujuannya. Keluarga Kerajaan Saudi sudah menghabiskan uang mereka untuk mengintervensi Suriah, Irak, Yaman, Lebanon dan beberapa negara lain di kawasan. (irib.ir)