Politik Transaksional Awal Kehancuran Golkar

Jakarta, Obsessionnews - Dalam waktu dekat ini Partai Golkar akan menyelenggarakan hajatan besar berupa Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) sebagai wadah penyelesaian konflik dualisme kepengurusan Partai Golkar. Wakil Sekjen Partai Golkar Ridwan Hisjam berharap pada pelaksanaan Munaslub nanti, tercipta iklim demokrasi yang terbuka dan transparan, sehingga momentum itu benar-benar bisa menghasilkan ketua umum baru, yang diterima oleh semua kader Golkar. Sebab, jika tidak, besar kemungkinan konflik Partai Golkar akan kembali terulang. "Kalau tidak bukan mustahil, setelah Munas karena dia tidak demokratis, tidak transparan dan tidak adil, pemerintah bisa saja menolak kembali. Atau mereka yang merasa didzolimi dalam Munas itu akan menuntut kembali," kata Ridwan kepada Obsessionnews.com di DPR, Selasa (2/1/2016) Mantan Ketua DPD Partai Golkar Jawa Timur itu meminta kepada semua elite Golkar untuk terbuka, dan menyerahkan proses pemilihan ketua umum ini kepada pemilik suara. "Para elite saling terbuka, serahkan ke pemilik suara untuk berdemokrasi dengan benar. Yang penting itu jangan pakai uang," tuturnya. Ridwan mengingatkan, awal kehancuran Golkar itu karena adanya politik transaksional. Ia merasakan itu saat dipercaya pimpinan penyelenggaraan Munas Golkar di Bali tahun 2004. Saat itu Akbar Tandjung kalah memperebutkan kursi ketua umum dengan Jusuf Kalla. Menurutnya, saat itu kekuasaan dan kapital sangat mendominasi. "Politik transaksional di situlah awal hancurnya Golkar, dalam Munas bali 2004, pasca Akbar Tandjung. Pada saat Akbar Tandjung dikalahkan, pada saat itu betul-betul power-nya adalah kekuasaan dan kapital," ungkapnya. Sejak saat itu, anggota Komisi X DPR ini menyebut Golkar berubah dari pola aslinya. Pada Munas berikutnya kekuasaan dan kapital selalu menjadi senjata utama bagi para calon kandidat. Dampaknya, suara Golkar di DPR semakin turun, dan konflik terus berlanjut sampai saat ini. "Jadi pada saat zaman Bang Akbar kursi Golkar di DPR ada 120 lebih, Pak JK 106, Pak Ical 91. Jadi trendnya selalu turun," terangnya. (Albar)





























