Tahun Monyet Api, Kue Keranjang Laris Dibeli

Semarang, Obsessionnews - Mendekati masuknya Tahun Baru Cina 2016, sejumlah produsen kue keranjang di Kampung Kentangan, Semarang ketiban rejeki. Salah satunya adalah Ong Eng Hwat. Pembuat kue keranjang generasi ketiga di Kampung Kentangan ini mengaku orderan bertambah dari sebelumnya. “Pesanan kue keranjang saya banyak sekali sekarang. Ya, perayaan Imlek kan tinggal seminggu lagi,” ujar Ong, Senin (1/2/2016). Pesanan yang datang rata-rata berasal dari pelanggan tetap di Kota Semarang, Solo, Bandung, Surabaya dan Jakarta. Satu kilo kue keranjang dihargai sekitar Rp 42 ribu hingga Rp 55 ribu. “Sekilo dapat dua sampai empat biji,” terangnya. [caption id="attachment_93746" align="aligncenter" width="640"]
Sejumlah pekerja membungkus dodol untuk dibungkus plastik di sentra pembuatan kue keranjang Nyonya Lauw, di Tangerang, Banten, Senin (28/1). Penganan khas hari raya Imlek simbol pengharapan makin tingginya kemakmuran dan rezeki itu dipasarkan di kawasan Jabodetabek dengan kisaran harga Rp17.500 per kilogram. (Foto: Edwin B/Obsessionnews)[/caption] Dalam seminggu, ia mengaku mampu membuat 50-70 kilogram kue keranjang. Jumlah itu tergolong banyak bagi perajin kue keranjang rumahan seperti dirinya. Khusus perayaan Imlek, Ong meracik berbagai varian rasa mulai cokelat, vanila, prambors, kacang, durian dan obar-abir. “Obar-abir itu yang paling dicari pembeli. Jadk itu empat rasa jadi satu,” sebutnya. Ong sendiri dikenal sebagai pembuat kue keranjang yang masih memegang resep warisan leluhurnya. Dalam proses pembuatan, ia dibantu tiga sampai empat orang pegawai. Setidaknya butuh 1 ton lebih bahan baku untuk meracik kue lengket tersebut. Bahan utama kue keranjang adalah tepung ketan. Tepung dicampur dengan gula dan air dan diaduk sampai rata. Adonan lalu dimasukan ke cawan cetakan berukuran sedang, dan dimasak hingga 10 jam lamanya.
Kue keranjang mula-mula dibuat dari tepung ketan lalu dicampur gula dan air lalu diaduk sampai rata. Adonan kemudian dimasukan ke dalam cawan-cawan cetakan berukuran sedang. Setelah itu dimasak hingga 10 jam. “Butuh waktu 24 jam untuk membuat kue keranjang,” jelasnya. Disamping On, masih banyak belasan pembuat kue keranjang yang kebanjiran pesanan. Kue keranjang memang menjadi hidangan khas bagi warga Tionghoa, tiap kali merayakan pergantian Tahun Baru Cina. (Yusuf IH)
Sejumlah pekerja membungkus dodol untuk dibungkus plastik di sentra pembuatan kue keranjang Nyonya Lauw, di Tangerang, Banten, Senin (28/1). Penganan khas hari raya Imlek simbol pengharapan makin tingginya kemakmuran dan rezeki itu dipasarkan di kawasan Jabodetabek dengan kisaran harga Rp17.500 per kilogram. (Foto: Edwin B/Obsessionnews)[/caption] Dalam seminggu, ia mengaku mampu membuat 50-70 kilogram kue keranjang. Jumlah itu tergolong banyak bagi perajin kue keranjang rumahan seperti dirinya. Khusus perayaan Imlek, Ong meracik berbagai varian rasa mulai cokelat, vanila, prambors, kacang, durian dan obar-abir. “Obar-abir itu yang paling dicari pembeli. Jadk itu empat rasa jadi satu,” sebutnya. Ong sendiri dikenal sebagai pembuat kue keranjang yang masih memegang resep warisan leluhurnya. Dalam proses pembuatan, ia dibantu tiga sampai empat orang pegawai. Setidaknya butuh 1 ton lebih bahan baku untuk meracik kue lengket tersebut. Bahan utama kue keranjang adalah tepung ketan. Tepung dicampur dengan gula dan air dan diaduk sampai rata. Adonan lalu dimasukan ke cawan cetakan berukuran sedang, dan dimasak hingga 10 jam lamanya.
Kue keranjang mula-mula dibuat dari tepung ketan lalu dicampur gula dan air lalu diaduk sampai rata. Adonan kemudian dimasukan ke dalam cawan-cawan cetakan berukuran sedang. Setelah itu dimasak hingga 10 jam. “Butuh waktu 24 jam untuk membuat kue keranjang,” jelasnya. Disamping On, masih banyak belasan pembuat kue keranjang yang kebanjiran pesanan. Kue keranjang memang menjadi hidangan khas bagi warga Tionghoa, tiap kali merayakan pergantian Tahun Baru Cina. (Yusuf IH)




























