Pukul Staf DPR, Masinton Dilaporkan ke MKD

Jakarta, Obsessionnews - Anggota Komisi III DPR RI dari Fraksi PDI-P Masinton Pasaribu dilaporkan ke Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) oleh tiga orang perwakilan Lembaga Bantuan Hukum Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan (LBH APIK). Masinton dilaporkan atas tuduhan pemukulan terhadap staf ahlinya, Dita Aditia, yang terjadi pada 21 Januari 2016. Dita sendiri adalah kader Nasdem dan sudah melaporkan kasus ini ke Bareskrim Polri. "Kami berharap MKD dapat memanggil anggota DPR yang kita laporkan dan memberikan sanksi tegas," kata Direktur LBH APIK Ratna Batara Muntini di MKD, DPR, Selasa (2/1/2016) Dalam laporannya, pelapor menunjukan bukti-bukti diantaranya, surat permohonan bantuan yang diajukan Dita kepada LBH APIK, kronologi kasus, dan salinan foto. Salinan foto tersebut menunjukkan mata kanan Dita yang lebam. "Dita hari ini tidak bisa datang karena masih trauma," ujar dia. Laporan tersebut telah diterima pihak sekretariat MKD pukul 14.15 WIB. Pihak MKD memberikan waktu 14 hari untuk melengkapi salinan akta notaris. "Laporan dan berkasnya sekarang kami terima, tetapi kami beri catatan karena belum ada salinan akta notaris lembaga yang diserahkan," kata salah satu pegawai MKD. [caption id="attachment_95061" align="aligncenter" width="640"]
Direktur LBH APIK Ratna Batara Muntini.[/caption] Sementara itu, Koordinator Gerakan Indonesia Bersih (GIB) Adhie M Massardi menilai, tuduhan penganiyaan yang dialamatkan kepada Masinton Pasaribu adalah kekonyolan politik khas Indonesia yang bisa dialami oleh siapa saja yang secara konsisten melawan korupsi dan kekuatan jahat lainnya. "Kasus ini sejak awal saya lihat memang ganjil. Kejadiannya, kalau benar ada, konon pada 21 Januari. Tapi dihebohkannya 10 hari kemudian. Ada aroma insinuasi dan character assassination (pembunuhan karakter) yang menyengat," tandas Adhie M Massardi dalam rilisnya yang dikirimkan via BBM ke Obsessionnews, Selasa (2/1). "Sangat jelas ada pihak yang menggunakan kasus ini untuk merusak reputasi Masinton sebagai aktivis pergerakan dan anggota DPR yang tetap konsisten membela rakyat dan melawan korupsi," tambahnya. [caption id="attachment_95090" align="aligncenter" width="640"]
Dita Aditia.[/caption] Sebagaimana diberitakan, Asisten Pribadi anggota DPR Masinton, Dita Aditia, melaporkan atasannya tersebut ke polisi dengan tuduhan melakukan penganiayaan. Padahal menurut staf Masinton lainnya, Abraham Leo Tanditasik, lebam di mata Dita akibat terkena tangannya. Terkait hal ini, Adhie Massardi menukas, sekarang sudah tidak penting lagi mana yang benar. Karena insinuasi yang dibangun lewat media sosial dan media massa secara berlebihan sudah terlanjur dikonsumsi publik dan oleh sebagian masyarakat dipercaya sebagai kenyataan. "Tapi saya percaya, integritas Masinton Pasaribu cukup tangguh karena dibangun selama belasan tahun di dunia pergerakan, sejak melawan rezim Soeharto (1998), dan nyaris tanpa cacat. Jadi kasus ini terlalu kecil untuk merusak reputasinya," paparnya. "Karena yang dilawan Masinton dkk selama ini adalah kekuatan-kekuatan (jahat) yang besar, antara lain korupsi di Pelindo II yang pernah membuat jenderal polisi terjungkal, maka niscaya masih akan ada serangan balik lain berikutnya. Bisa jadi lebih besar. Cuma karena lebih konyol, pasti tidak bakal dipercaya publik yang merindukan munculnya tokoh-tokoh muda berani, lugas, tapi tetap waras seperti Masinton," tegas Adhie. (Albar) [caption id="attachment_73157" align="aligncenter" width="640"]
Masinton Pasaribu[/caption]
Direktur LBH APIK Ratna Batara Muntini.[/caption] Sementara itu, Koordinator Gerakan Indonesia Bersih (GIB) Adhie M Massardi menilai, tuduhan penganiyaan yang dialamatkan kepada Masinton Pasaribu adalah kekonyolan politik khas Indonesia yang bisa dialami oleh siapa saja yang secara konsisten melawan korupsi dan kekuatan jahat lainnya. "Kasus ini sejak awal saya lihat memang ganjil. Kejadiannya, kalau benar ada, konon pada 21 Januari. Tapi dihebohkannya 10 hari kemudian. Ada aroma insinuasi dan character assassination (pembunuhan karakter) yang menyengat," tandas Adhie M Massardi dalam rilisnya yang dikirimkan via BBM ke Obsessionnews, Selasa (2/1). "Sangat jelas ada pihak yang menggunakan kasus ini untuk merusak reputasi Masinton sebagai aktivis pergerakan dan anggota DPR yang tetap konsisten membela rakyat dan melawan korupsi," tambahnya. [caption id="attachment_95090" align="aligncenter" width="640"]
Dita Aditia.[/caption] Sebagaimana diberitakan, Asisten Pribadi anggota DPR Masinton, Dita Aditia, melaporkan atasannya tersebut ke polisi dengan tuduhan melakukan penganiayaan. Padahal menurut staf Masinton lainnya, Abraham Leo Tanditasik, lebam di mata Dita akibat terkena tangannya. Terkait hal ini, Adhie Massardi menukas, sekarang sudah tidak penting lagi mana yang benar. Karena insinuasi yang dibangun lewat media sosial dan media massa secara berlebihan sudah terlanjur dikonsumsi publik dan oleh sebagian masyarakat dipercaya sebagai kenyataan. "Tapi saya percaya, integritas Masinton Pasaribu cukup tangguh karena dibangun selama belasan tahun di dunia pergerakan, sejak melawan rezim Soeharto (1998), dan nyaris tanpa cacat. Jadi kasus ini terlalu kecil untuk merusak reputasinya," paparnya. "Karena yang dilawan Masinton dkk selama ini adalah kekuatan-kekuatan (jahat) yang besar, antara lain korupsi di Pelindo II yang pernah membuat jenderal polisi terjungkal, maka niscaya masih akan ada serangan balik lain berikutnya. Bisa jadi lebih besar. Cuma karena lebih konyol, pasti tidak bakal dipercaya publik yang merindukan munculnya tokoh-tokoh muda berani, lugas, tapi tetap waras seperti Masinton," tegas Adhie. (Albar) [caption id="attachment_73157" align="aligncenter" width="640"]
Masinton Pasaribu[/caption] 




























