Mengantar Sang Dewa Ke Kahyangan di Tahun Monyet Api

Mengantar Sang Dewa Ke Kahyangan di Tahun Monyet Api
Kertas-kertas sutra berwarna kuning dibakar diatas nampan berbahan pohon bambu. Serpihan abunya membumbung tinggi seraya tangan jemaah menggoyang-goyangkan nampah. Begitu selesai, mereka langsung khidmad berdoa, berharap dewa dewi membawa serta doa ke kahyangan.Semarang, Obsessionnews - Pembakaran sutra atau ritual Siang Sin Giu Hok memang menjadi acara puncak pembukaan rangkaian perayaan Imlek yang jatuh pada Senin (8/2/2016) pekan depan. Ritual ini untuk mengantar para dewa pergi ke kahyangan. Ritual dimulai tepat pukul 16.00 WIB sore di Klenthèng Tay Kak Sie, Gang Pinggir Semarang. Mula-mula, Pandita Klenthèng, Pratana memimpin pembacaan sutra Buddhis dan Taoisme dengan diikuti puluhan jemaat. Satu persatu, mereka maju ke depan altar seraya mengatupkan tangan rapat-rapat sambil memanjatkan doa. Sang Pandita kemudian memulai proses berikutnya yakni ritual Siang Sin Giu Hok. Beberapa pengurus pun membakar kertas sutra diatas tampah sembari menggoyangkan wadah agar abu terbang ke angkasa. Sisa abu yang ada dituangkan kedalam wajan di tengah Klenthèng. Klenthèng Tay Kak Sie- Pratana menjelaskan, seluruh abu kertas sutra yang hilang terbawa angin bertujuan mengantar sang dewa naik ke atas. Ia percaya, dewa akan turun kembali ke bumi tepat di akhir perayaan Imlek tanggal 28 Februari 2016 nanti. "Untuk memulai perayaan Imlek, Rabu (3/2/2016) besok akan ada acara bersih-bersih altar di Tay Kak Sie," kata Pratana, Selasa (2/1/2016). Ia berharap, Tahun Monyet Api dapat memberi kedamaian bagi bangsa Indonesia. "Semoga lebih damai dari tahun lalu. Meski bencana alam tetap ada tapi di antara kita jangan ada lagi pertikaian," ungkap pemuka agama Khonghucu tersebut. Sementara Ketua Umum Yayasan Klenthèng Tay Kak Sie, Tantowi Hermawan mengatakan ritual Sin Giu Hok sebagai simbol pembersihan dosa manusia saat pergantian tahun. "Sambil kita hantarkan sang dewa ke langit, kita juga berharap bisa dibersihkan dari dosa-dosa," katanya. Pihaknya juga menyediakan sejumlah sesaji berisi buah-buahan sebagai wujud kelancaran rezeki, keselamatan dan kebaikan bagi umat manusia. Ada pula sesembahan kue wajik yang bermakna kebersamaan yang erat serta kue moho sebagai tanda panjang umur. (Yusuf IH)