Kisah Barongsai dan Presiden Soeharto

Semarang, Obsessionnews – Barongsai dan Liong Naga, permainan yang dimainkan oleh 5-10 orang ini memang menjadi budaya lokal dari etnis Cina. Pembuatannya tak gampang, begitu juga cara memainkannya. Perlu waktu seminggu sampai Barongsai benar-benar berbentuk barang jadi. Tapi, nafas sang naga berulang kali terhenti, kala presiden Soeharto – penguasa Indonesia selama 32 tahun – masih memegang tampuk kekuasaan atas negeri ini. “Saya dan ayah saya baru membuka toko sekitar tahun 1989. Saat itu, Soeharto masih jadi presiden,” ujar Sutikno, perajin Barongsai legendaris yang memiliki bengkel kerja di Jalan Seteran Tengah, Gang I Nomor 11. Pria yang sudah paruh baya ini pun menceritakan bagaimana kisah profesinya yang kala itu, dikecam oleh lembaga eksekutif tertinggi, Presiden. Bermula dari pekerjaan turun temurun, pemilik nama lengkap Sutikno Wiro Utomo ini kemudian sedikit demi sedikit menekuni hingga akhirnya menyukai profesi sebagai perajin Barongsai. “Getuk Nular. Terus temen-temen pada pesen sampai dari luar Jawa pada pesen. Ya sampai sekarang ini,” jelasnya kepada obsessionnews.com sambil sesekali menghirup santai asap rokok. Sutikno menceritakan, ia sempat kewalahan membuat Barongsai di jaman Soeharto. Bagaimana tidak, era Orde Baru yang dikata menjadi era keemasan, nyatanya menjadi jaman kelam bagi etnis Cina. Bermacam aturan rasis bagi etnis Cina dikeluarkan, termasuk larangan penggunaan atribut Cina yang bermula pada tahun 1965, menjadi masalah tersendiri bagi perajin Barongsai. Seperti diketahui, saat Soeharto berkuasa, pemerintah mengasimilasi orang-orang etnis Tionghoa, salah satunya dengan cara tidak mengizinkan pagelaran dalam perayaan hari raya. Padahal, kerajinan Barongsai sangat tergantung pada acara keagamaan seperti Imlek. Sejumlah aturan yang mengekang perkembangan Barongsai di jaman “Pak Harto” diantaranya adalah Instruksi Presiden Nomor 14 tahun 1967 tentang Agama, Kepercayaan, dan Adat-istiadat Cina, Instruksi Presidium Kabinet RI No 37/U/IN/1967 tentang Kebijaksanaan Pokok Penyelesaian Masalah Cina, Instruksi Mendagri No 455.2-360 tentang penataan Klenteng, hingga ujungnya Surat Edaran Menteri Penerangan No 02/SE/Ditjen/PPG/K1968 yang melarang penertiban dan percetakan tulisan/iklan beraksara dan berbahasa Cina. “Namun khusus di Kota Semarang diperbolehkan (Barongsai). Khusus di Kota Semarang boleh main Barongsai,” tuturnya terheran. Dirinya pun tak mengerti mengapa Barongsai bisa dimainkan di kota lumpia. Yang jelas, saat itu ia bersama ayahnya masih aktif membuat Barongsai untuk perayaan Imlek, meski pesanan tidak sebanyak sekarang ini. Dari berbagai sumber yang dihimpun, pemerintahan Soeharto sebenarnya mengijinkan Barongsai untuk tampil di panggung besar Kelenteng Sam Poo Kong Semarang. Dijelaskan pada waktu itu, terdapat 6 perguruan asal berbagai daerah tampil dalam festival Imlek tahunan. Mereka adalah Sam Poo Tong, Hoo Hap Hwee, Djien Gie Tong, Djien Ho Tong, Hauw Gie Hwee, dan Porsigab. “Hingga kemudian era reformasi datang. Tapi Barongsai tidak langsung muncul ke permukaan. Pada waktu presiden Gus Dur (Abdurrahman Wahid) Barongsai mulai leluasa. Waktu itu juga banyak perajin-perajin Barongsai di kota lain bermunculan,” tandasnya. Kini, boneka singa buatan raja Song Wen dalam menghalau ekspansi pasukan gajah Fan Yang ribuan tahun silam telah berkembang pesat di nusantara. Tua muda, semua khalayak menikmati tarian Singa Utara dan Singa Selatan. Tak sedikit pula tarian barongsai diperagakan anggota militer di berbagai daerah. Tentunya, hal itu menunjukkan bukti penerimaan sepenuhnya budaya masyarakat Tiongkok di Indonesia. (Yusuf IH)





























