Pendemo Surya Paloh, Tukang Parkir Dibayar Rp50 Ribu

Jakarta, Obsessionnews - Pasca mencuatnya kasus suap bantuan sosial (bansos) di Sumatera Utara (Sumut) yang menjerat Gubernur Sumut Gatot Pujo Nugroho, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) selalu diramaikan dengan aksi demonstrasi oleh sekelompok masyarakat yang tidak jelas lembaganya. Mereka meminta kepada KPK untuk menuntaskan kasus tersebut, dan mengaitkannya kepada pihak lain yang dituding terlibat. Seperti Jaksa Agung HM Prasetyo dan Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh. Kedua orang ini selalu disebut-sebut sebagai pihak yang berada di balik kasus Bansos. Serikat Pemuda Dukung KPK (Serdadu KPK) adalah salah satu kelompok massa yang pernah melakukan unjuk rasa di depan KPK pada Kamis (28/1/2016). Mereka membawa selebaran kertas yang isinya mendesak KPK agar tidak tebang pilih dalam menuntaskan kasus bansos yang disebut melibatkan Surya Paloh. Anehnya, para pendemo ini sebenarnya tidak tahu apa-apa tentang kasus bansos di Sumut. Saat ditanya siapa itu Surya Paloh? dan apa buktinya jika dia terlibat kasus korupsi. Mereka hampir tidak ada yang bisa menjawab. "Apa ya... saya tidak tahu mas, cuman ikut teman-teman saja," kata salah seorang pendemo yang tidak mau disebutkan namanya.
Wartawan Obsessionnews.com kemudian menanyakan lagi, lantas ngapain ikut datang ke KPK kalau tidak tahu apa tuntutannya. "Kita kan cuman disuruh aja mas, sudah ada yang jemput pakai metro mini," katanya. Apakah dibayar? tanya Obsessionnews.com lagi. "Ia kadang-kadang dikasih uang makan sama rokok Rp 50 ribu," jawabnya. Ia mengaku setiap hari kesibukannya ikut demo-demo di KPK tanpa mempedulikan apa itu isu dan tuntutannya. Wajah-wajah mereka terlihat masih muda. Selain ikut demo, pria itu mengaku bekerja sebagai tukang parkir, ada juga yang pengganguran. "Selain itu, sorenya kita markir yang lain juga sama," katanya. Saat itu, massa aksi yang ikut demo terlihat banyak, ada puluhan orang. Pria itu bercerita mereka didatangkan dari kampung yang berbeda-beda. Ia sendiri bersama beberapa kawannya datang dari kampung Johar Baru, Jakarta Pusat. "Beda-beda kampung, gak mesti kenal, tu ada yang dari Tanah Tinggi, terus Tukprok (Tugu Proklamasi)," ungkapnya. Hari pun sudah semakin siang, pemuda itu meminta untuk menyudahi obrolannya. Terlihat mereka sudah diperintah oleh seorang koordinator lapagan (korlap) untuk merapatkan barisan, karena ingin melanjutkan demonya di Kementerian Pemuda dan Olahraga. "Nih, kita sudah disuruh ke Kemenpora, sudah dulu ya," katanya. Demo apa? "Nggak tahu," jawabnya singkat. (Albar)
Wartawan Obsessionnews.com kemudian menanyakan lagi, lantas ngapain ikut datang ke KPK kalau tidak tahu apa tuntutannya. "Kita kan cuman disuruh aja mas, sudah ada yang jemput pakai metro mini," katanya. Apakah dibayar? tanya Obsessionnews.com lagi. "Ia kadang-kadang dikasih uang makan sama rokok Rp 50 ribu," jawabnya. Ia mengaku setiap hari kesibukannya ikut demo-demo di KPK tanpa mempedulikan apa itu isu dan tuntutannya. Wajah-wajah mereka terlihat masih muda. Selain ikut demo, pria itu mengaku bekerja sebagai tukang parkir, ada juga yang pengganguran. "Selain itu, sorenya kita markir yang lain juga sama," katanya. Saat itu, massa aksi yang ikut demo terlihat banyak, ada puluhan orang. Pria itu bercerita mereka didatangkan dari kampung yang berbeda-beda. Ia sendiri bersama beberapa kawannya datang dari kampung Johar Baru, Jakarta Pusat. "Beda-beda kampung, gak mesti kenal, tu ada yang dari Tanah Tinggi, terus Tukprok (Tugu Proklamasi)," ungkapnya. Hari pun sudah semakin siang, pemuda itu meminta untuk menyudahi obrolannya. Terlihat mereka sudah diperintah oleh seorang koordinator lapagan (korlap) untuk merapatkan barisan, karena ingin melanjutkan demonya di Kementerian Pemuda dan Olahraga. "Nih, kita sudah disuruh ke Kemenpora, sudah dulu ya," katanya. Demo apa? "Nggak tahu," jawabnya singkat. (Albar)




























