Ini Permasalahan Sebenarnya Ekonomi RI

Jakarta, Obsessionnews - Mau tidak mau, harus diakui kalau perekonomian Indonesia sangat bergantung pada peran asing. Sebabnya, funding banyak sekali dari luar. Inilah makanya saat kondisi global mengalami perlambatan, gerak ekonomi nasional juga terpicu melemah. Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Mirza Adityaswara, pada seminar Arah Kebijakan Moneter dan Fiskal di 2016, di Jakarta, Jumat (29/1), mengatakan kalau funding Indonesia memang banyak datang dari luar. Jadi, suka tidak suka, terlepas dari nasionalisme, global sangat mempengaruhi dalam negeri. Mirza bilang, semua diawali dari kebijakan pemerintah yang men-set up APBN dalam postur defisit. Menurut dia, ini demi menutupi alokasi belanja yang sangat besar sedangkan pendapatan masih 'memble'. Akhirnya, penarikan utang cukup besar dari pihak asing menjadi harus. Dana di dalam negeri sendiri tidak cukup. Bahkan, pemerintah tak bisa melakukan pinjaman dari perbankan lantaran bakal memicu kompetisi dengan bank-bank lain. Jadi, mau tidak mau duit didatangkan dari luar. Lihat saja, Mirza bilang 38 persen surat berharga nasional justru dimiliki asing. Bahkan, dengan posisi utang seperti ini, Indonesia menjadi sangat rentan jika ada goncangan global. Sudah begitu, saat ada gejolak, duit yang tadinya mendekam di dalam negeri bisa tiba-tiba saja keluar. Akibat buruk terhadap perekonomian nasional pun tak bisa dihindarkan. Terutama, pada nilai tukar rupiah sendiri disusul adanya permasalahan utang luar negeri koorporasi swasta. "Penting kita menjaga confidence dan stabilitas flows ini. Belum lagi kalau kita bicara utang luar negeri swasta. Utang luar negeri harus dikelola dengan baik. Utang luar negeri swasta saat ini 167 miliar dolar AS," kata Mirza. Beberapa faktor eksternal yang dapat dengan mudah mempengaruhi perekonomian Indonesia antara lain kebijakan moneter AS. Sebab, dari penarikan stimulus sampai kenaikan suku bunga acuan oleh The Fed mampu memicu pelemahan rupiah serta melorotkan IHSG. Makanya, penting ada upaya menjaga kestabilan ekonomi nasional. Bentuknya, bisa pengendalian inflasi atau defisit transaksi berjalan. Terakhir, Mirza bilang, inilah sebabnya pemerintah dan Bank Indonesia kudu selalu menjaga prudent yakni inflasi harus turun, defisit ekspor-impor (eksim) harus ada dilevel yang bisa didanai. Dan, periode tahun 2013 sampai 2015 adalah masa saat Indonesia menurunkan inflasi, defisit eksim serta utang luar negeri. (Mahbub Junaidi)





























