Cerita Sedih Pembina Pramuka Dampingi Eks Gafatar

Jakarta, Obsessionnews - Sebanyak 700 lebih mantan anggota Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) ditampung di markas besar Pramuka, Taman Wiladatika Cibubur Jakarta Timur. Mereka baru saja didatangkan dari Kalimantan Barat oleh pemerintah untuk didata dan dibina. Andalan Nasional Kwarnas Garakan Pramuka Bidang Komunikasi dan Informasi Hariqo Wibawa Satria mengatakan, para mantan anggota Gafatar ini nantinya akan ditempatkan di bumi perkemahan Pramuka selama 3 sampai 4 hari kedepan. "Ya di sini 3 hari aja, pembinaan, terus pulang ke daerah masing-masing," kata Hariqo dilokasi, Rabu (27/1/2016). Menurut Hariqo untuk mengembalikan mental dan pola pikir mantan anggota Gafatar ini memang tidak mudah. Sebab, selama ini mereka sudah terdoktrin dengan ajaran-ajaran yang dianggap menyimpang. Untuk itu perlu pendekatan yang halus, serta perhatian penuh dari pemerintah. Pasalnya, Hariqo mengungkapkan, banyak dari mereka yang masih berkeinginan untuk kembali mencari kehidupan di Kalimantan Barat. "Banyak yang sedih ninggalin Kalbar, tapi apa boleh buat ini keputusan pemerintah," kata Hariqo usai berbincang-bincang dengan para korban. [caption id="attachment_93515" align="aligncenter" width="338"]
Kondisi Anak-anak dari Eks Gafatar di Bumi Perkemahan Pramuka. (Albar/Obsessionnews)[/caption] Direktur Eksekutif Komunikonten, Institut Media Sosial dan Diplomasi menyadari, Gafatar memang membawa persoalan besar bagi pemerintah. Meski masyarakat menganggap Gafatar adalah organisasi sesat. Namun, tetap saja mereka adalah warga Indonesia yang wajib mendapatkan hak-haknya. "Cara Gafatar dalam merektur anggotanya memang salah. Tapi mereka ini adalah warga negara Indonesia, yang tetap harus dilindungi, dan mendapat hak hidup yang aman dan nyaman dari negara," terangnya. Hariqo mengaku sejauh ini sudah banyak mantan anggota Gafatar yang sudah tersadarkan. Artinya, pikiran mereka sudah mulai terbuka dengan masukan-masukan dari para tokoh agama dan psikiater tentang ajaran-ajaran yang benar. "Ya sudah banyak juga yang sadar. Tapi persoalannya kan kalau mereka balik ke kampung halaman, rumah mereka banyak sudah dijual. Ini juga harus dipikirkan pemecahannya karena jumlahnya ribuan," jelasnya. Mantan anggota Gafatar ini umumnya berasal dari Pulau Jawa. Mereka datang ke bumi Kalimantan untuk mencari penghidupan baru dengan membangun permukiman. Aktivitas sehari-hari mereka sebagai petani, bercocok tanam. [caption id="attachment_93518" align="aligncenter" width="640"]
Ratusan Eks Gafatar di Bumi Perkemahan Pramuka. (Albar/Obsessionnews)[/caption] Sejak 2014, gelombang pendatang anggota Gafatar ini semakin deras. Mereka kemudian membangun pemukiman sendiri terpisah dari warga. Seperti misalnya di Mempawah, ada dua kamp atau pemukiman yakni di Desa Moton dan Desa Pasir. "Mereka bertani dan bercocok tanam. Mereka hidup bersama dalam kamp dengan membentuk kelompok tani yang hidup secara eksklusif, kurang berinteraksi dengan warga masyarakat," kata Kapolda Kalbar, Brigjen Arief Sulityanto. Dalam kamp-kamp yang luasnya lebih dari lima hektar, dibangun ada kepala kelompoknya. Dan kepala kelompok ini yang memimpin apel pagi sebelum berangkat menuju ladang. Ratusan orang ada di setiap kamp. Hingga akhirnya soal Gafatar ini muncul ke publik saat dr Rica warga Yogyakarta hilang. Gafatar menjadi pemberitaan di media. Kemudian MUI juga Kejaksaan melihat Gafatar menyimpang. Warga masyarakat pun menjadi ngeh dengan Gafatar dan aktivitas kelompok ini. Sampai puncaknya, ribuan warga turun ke jalan dan melakukan penolakan di Mempawah. Kini ribuan warga anggota Gafatar telah dievakuasi dari Kalbar. Mereka akan dikembalikan ke keluarganya. Ada juga yang dibina oleh tokoh agama dan tokoh masyarakat setempat. (Albar)
Kondisi Anak-anak dari Eks Gafatar di Bumi Perkemahan Pramuka. (Albar/Obsessionnews)[/caption] Direktur Eksekutif Komunikonten, Institut Media Sosial dan Diplomasi menyadari, Gafatar memang membawa persoalan besar bagi pemerintah. Meski masyarakat menganggap Gafatar adalah organisasi sesat. Namun, tetap saja mereka adalah warga Indonesia yang wajib mendapatkan hak-haknya. "Cara Gafatar dalam merektur anggotanya memang salah. Tapi mereka ini adalah warga negara Indonesia, yang tetap harus dilindungi, dan mendapat hak hidup yang aman dan nyaman dari negara," terangnya. Hariqo mengaku sejauh ini sudah banyak mantan anggota Gafatar yang sudah tersadarkan. Artinya, pikiran mereka sudah mulai terbuka dengan masukan-masukan dari para tokoh agama dan psikiater tentang ajaran-ajaran yang benar. "Ya sudah banyak juga yang sadar. Tapi persoalannya kan kalau mereka balik ke kampung halaman, rumah mereka banyak sudah dijual. Ini juga harus dipikirkan pemecahannya karena jumlahnya ribuan," jelasnya. Mantan anggota Gafatar ini umumnya berasal dari Pulau Jawa. Mereka datang ke bumi Kalimantan untuk mencari penghidupan baru dengan membangun permukiman. Aktivitas sehari-hari mereka sebagai petani, bercocok tanam. [caption id="attachment_93518" align="aligncenter" width="640"]
Ratusan Eks Gafatar di Bumi Perkemahan Pramuka. (Albar/Obsessionnews)[/caption] Sejak 2014, gelombang pendatang anggota Gafatar ini semakin deras. Mereka kemudian membangun pemukiman sendiri terpisah dari warga. Seperti misalnya di Mempawah, ada dua kamp atau pemukiman yakni di Desa Moton dan Desa Pasir. "Mereka bertani dan bercocok tanam. Mereka hidup bersama dalam kamp dengan membentuk kelompok tani yang hidup secara eksklusif, kurang berinteraksi dengan warga masyarakat," kata Kapolda Kalbar, Brigjen Arief Sulityanto. Dalam kamp-kamp yang luasnya lebih dari lima hektar, dibangun ada kepala kelompoknya. Dan kepala kelompok ini yang memimpin apel pagi sebelum berangkat menuju ladang. Ratusan orang ada di setiap kamp. Hingga akhirnya soal Gafatar ini muncul ke publik saat dr Rica warga Yogyakarta hilang. Gafatar menjadi pemberitaan di media. Kemudian MUI juga Kejaksaan melihat Gafatar menyimpang. Warga masyarakat pun menjadi ngeh dengan Gafatar dan aktivitas kelompok ini. Sampai puncaknya, ribuan warga turun ke jalan dan melakukan penolakan di Mempawah. Kini ribuan warga anggota Gafatar telah dievakuasi dari Kalbar. Mereka akan dikembalikan ke keluarganya. Ada juga yang dibina oleh tokoh agama dan tokoh masyarakat setempat. (Albar)




























