Pendemo Surya Paloh di KPK Mengaku Dibayar

Jakarta, Obsessionnews - Sekelompok massa yang menamakan diri Aliansi Masyarakat Peduli Uang Negara (AMPUN) berunjuk rasa di depan gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (26/1/2016). Massa datang sambil membawa sebuah mobil komando, sejumlah poster dan spanduk yang berisikan tuntutan mereka. Melalui poster dan spanduk yang dibawakan tersebut, massa menuntut supaya KPK membongkar kasus dugaan pemufakatan jahat antara Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh, Jaksa Agung HM Prasetyo dengan mantan Gubernur Sumatera Utara Gatot Pujo Nugroho dan istrinya Evy Susanti. Demontrasi yang menuntut pengusutan kasus Surya Paloh cs ini rutin dilakukan di gedung KPK. Anehnya massa pendemo yang berasal dari kalangan mahasiswa berbagai kampus dan pemuda kampung ini tak paham dengan isu yang mereka bawakan. Alhadi dari Mahasiswa Jayabaya Jakarta misalnya mengaku hanya diajak senior kampusnya. Tak peduli isunya, yang penting kata dia ada uang transportnya. Alhadi yang merupakan mahasiswa baru itu bersyukur bisa mendapat uang tambahan dari hasil demo bersama teman-temannya. "Itu saya belum tahu juga (kasusnya), hanya karena diajak aja sama teman makanya saya ikut. Katanya sih ada (uang transport)," ungkap Alhadi. Iyan, pendemo dari warga Johar Baru, Jakarta Pusat juga mengatakan kalau dirinya sering mengikuti demo bayaran. Kali ini saja dia dua kali mengikuti momen demo di lokasi berbeda dengan isu yang berbeda pula. Selain di KPK Iyan juga diajak berunjuk rasa di depan kantor Kementerian Pemuda dan Olahraga. "Saya hampir tiap minggu di KPK, abis ini kami mau ke Senayan di Kemenpora," kata pria putus sekolah itu. Demo Surya Paloh ini diduga ada yang mengkoordinir dengan imining-iming uang transportasi. Kerana Rata-rata mereka yang diajak berdemo mengaku diberikan upah dengan nilai yang bervariasi. Untuk massa yang sekedar ikut-ikutan dijatah Rp 30 ribu per orang, sedangkan untuk orator dan koordinator bisa berkisar Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu. "Di bayar Rp 30 tetap, abang mau nambahin gak?. Koordinatornya banyak, banyak makan duitnya," tambah Edo yang mengaku sebagai pengangguran yang tinggal di Johar Baru. Meski dijatah dengan uang sedikit, Edo terpaksa harus menerima saja. Kalau protes dia khawatir tidak akan diajak lagi. "Kita hanya ikut saja, orang pengangguran ini, ngapain juga di rumah, mending ikut biar bisa dapat uang rokok. Bang gak ada rokoknya,? Bagi dong," tutur Edo. Wartawan dari berbagai media yang sudah mengetahui akan hal ini akhirnya memilih tidak meliput demo tersebut. Walaupun pengeras suara yang mereka pakai terdengar begitu keras hingga ke depan gedung KPK tapi para wartawan tak menggubris. Begitu pula ketika perwakilan pendemo ini mendesak mau bertemu dengan pimpinan KPK. Setelah berorasi dan menyampaikan tuntutan mereka secara tertulis kepada pihak KPK, massa kemudian membubarkan diri menuju kantor Kemenpora. Massa berjanji akan kembali mendatangi markas komisi antirasuah itu bila tuntutannya tak digubris. (Has)





























