Uni Eropa di Tahun Paling Sulit

Tahun 2016 akan menjadi tahun paling sulit dalam sejarah Uni Eropa. Predikesi itu dikemukakan oleh Wolfgang Ischinger, ketua Konferensi Keamanan Munich. Dalam wawancaranya dengan koran Die Welt terbitan Jerman, Ischinger mengatakan, “Pada tahun 2015, kami berhasil menyelesaikan beberapa masalah. Kesepakatan nuklir dengan Iran, pemulihan hubungan Amerika Serikat dan Kuba, atau kesepakatan iklim di Paris, semuanya menunjukkan bahwa diplomasi tetap dapat efektif dalam kondisi tersulit sekali pun.” Ischinger menambahkan meski telah diambil langkah-langkah pada tahun 2015 untuk menyelesaikannya, ada dampak-dampak berbahaya bagi Uni Eropa dan dunia. Ketua Konferensi Keamanan Munich menyinggung krisis Suriah dan mengatakan, “Di Suriah, yang pasti kondisinya sangat mengkhawatirkan.” Dampak krisis Suriah setelah lima tahun akhirnya menjerat Eropa. Menyusul krisis yang diciptakan negara-negara Barat di Suriah serta diimplementasikan oleh sekutu regional mereka termasuk Turki dan Arab Saudi, negara-negara Uni Eropa terbanjiri gelombang imigran dari wilayah Timur Tengah khususnya Suriah. Tercatat lebih dari satu juta imigran memasuki Uni Eropa pada 2015. Eropa menilai gelombang imigran terkini sebagai yang terburuk pasca Perang Dunia Kedua. Reaksi sejumlah negara Eropa atas gelombang pengungsi dan imigran itu pada awalnya cukup manusiawi dan terbuka. Namun sebagian lain juga sejak awal sudah menunjukkan sikap negatif terhadap para pengungsi yang putus asa itu. Hungaria termasuk di antara negara-negara yang kasar menanggapi masalah ini. Poin pentingnya dalam hal ini adalah bahwa gelombang imigran kali ini mengguncang Kesepakatan Schengen, salah satu traktat penting di Uni Eropa. Berdasarkan kesepakatan itu, negara-negara anggota traktat dan yang memiliki visa Schengen dapat bebas berlalu-lalang ke semua negara anggota. Akan tetapi gelombang imigran ke Eropa membuat sejumlah negara terpaksa menangguhkan Kesepakatan Schengen. Selain itu, masing-masing negara Uni Eropa berdasarkan sejumlah pertimbangan politik, ekonomi, keamanan, kependudukan dan keagamaan, memiliki perspektif khusus terhadap para imigran dan pencari suaka. Masalah inilah yang mempersulit tercapainya kemufakatan antarnegara Uni Eropa, terkait imigran. Oleh karena itu, negara-negara Eropa tidak dapat mengambil keputusan jangka panjang untuk mengelola krisis pengungsi. Dalam kondisi itu, solusi jangka pendek yang dipilih untuk mengontrol gelombang pengungsi adalah penangguhan Kesepakatan Schengen. Dampak dari krisis Suriah bukan hanya berujung pada peningkatan gelombang pengungsi di Eropa saja. Kelompok-kelompok Takfiri dan teroris di Suriah dan Irak yang beraktivitas dengan dukungan Barat dan dengan bantuan langsung Arab Saudi, Turki, Qatar, Uni Ermirat Arab dan Yordania, telah sedemikian kuat sehingga lepas kontrol serta berubah menjadi ancaman langsung bagi negara-negara Eropa. Pada Desember 2015, mereka melancarkan operasi teror di Paris untuk menunjukkan kemampuan operasionalnya kepada lembaga-lembaga politik dan keamanan Eropa dan Amerika Serikat. Pasca insiden Paris yang menewaskan 130 orang itu, pemerintah Perancis memberlakukan kondisi darurat selama tiga bulan dan menurut rencana akan memperpanjang kondisi darurat itu hingga tiga bulan lagi. Namun hingga kini, negara-negara Eropa enggan menunjukkan tekad serius untuk menghentikan politik dualismenya dalam memanfaatkan terorisme sebagai sarana. Tidak terselesaikannya krisis Ukraina antara Uni Eropa dan Rusia pada tahun 2015 juga masalah lain yang disinggung oleh Wolfgang Ischinger. Rusia adalah jiran terbesar Uni Eropa dan fakta sejarah menunjukkan keduanya tidak mampu saling mengabaikan dengan berbagai alasan historis, politik, ekonomi dan keamanan. Ketegangan antara Rusia dan uni Eropa akan sangat merugikan keduanya. Berbicara tentang solusi untuk krisis yang di hadapan Uni Eropa, Ischinger berpendapat yang diperlukan saat ini adalah Uni Eropa yang kompak dan seorang presiden Amerika Serikat yang kuat. Hingga akhir masa jabatan Presiden AS Barack Obama, tidak bisa diharapkan perubahan apapun mengingat dimulainya kampanye pemilu. Menurut Ischinger, “Kemungkinan kita harus menunggu hingga tahun 2017 untuk menetapkan strategi penyelesaian berbagai kekhawatiran. Dengan kata lain, dunia akan tetap sangat tidak aman dan kita harus berhati-hati, dan Jerman harus membuat Eropa kokoh dan bersatu.” (irib.ir)





























