Gara-gara Disebut Aliran Sesat, Rumah Dibakar

Jakarta, Obsessionnews - Ribuan anggota Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) diketahui telah bermukim di Kalimantan Barat (Kalbar) sejak 2014. Umumnya mereka datang dari Pulau Jawa. Bisa dikatakan, mereka berani bersepekulasi untuk tinggal di Kalbar. Mengapa demikian, karena mereka rela meninggalkan, keluarga, dan pekerjaan mereka di tanah Jawa. Sementara di Kalbar, pekerjaan mereka belum pasti. Lantas bagaimana ribuan anggota Gafatar itu hidup. Kapolda Kalbar Brigjen Arief Sulistyanto mengatakan, umumnya para pengikut Gafatar yang barada di Kalbar seperti di Mempawah mereka hidup dengan cara bertani dan bercocok tanam. Ada dua camp atau pemukiman di Mempawah yakni di Desa Moton dan Desa Pasir. "Mereka bertani dan bercocok tanam. Mereka hidup bersama dalam kamp dengan membentuk kelompok tani yang hidup secara eksklusif, kurang berinteraksi dengan warga masyarakat," kata Arief, Jumat (22/1/2016). Dalam camp-camp itu, ada tanah ribuan hektar yang sengaja disiapkan oleh Gafatar untuk anggotanya. Setiap camp itu ada ketua kelompok. Setiap hari ketua kelompok itu memimpin kegiatan Gafatar, baik dalam hal bertani maupun kegiatan religi. "Mereka melaksanakan apel pagi setiap hari sebelum berangkat ke lahan pertanian," tuturnya. Gara-gara Disebut Aliran Sesat Sebenarnya, kehidupan ribuan anggota Gafatar di Kalbar umumnya hanya bertani dan bercocok tanam biasa. Sayangnya, begitu diberitakan dan disebut bahwa Gafatar adalah sebagai aliran sesat, akhirnya mereka diserang warga dan rumah-rumahnya dibakar. Awalnya, warga suku asli atau sudah lama tinggal Mempawah merasa biasa, tidak curiga dengan kedatangan mereka. Sebab, dianggap sebagai pendatang yang ingin mencari kehidupan baru. Namun, setelah mengetahui bahwa mereka adalah kelompok Gafatar yang disebut sebagai organisasi sesat. Warga ramai-ramai mengusirnya. Bahkan, camp-camp Gafatar dibakar. Masyarakat minta kepada pemerintah, untuk mengembalikan anggota Gafatar tempat asalnya. (Albar)





























