Unsur Tanah Pertanian di Kawasan Indutri Kini Bermasalah

Unsur Tanah Pertanian di Kawasan Indutri Kini Bermasalah
Bandung, Obsessionnews - Mayoritas tanah pertanian dekat kawasan industri di Indonesia saat ini dalam kondisi rusak dan perlu pemulihan. Demikian disampaikan Dosen Fakultas Pertanian Universitas Pajajaran (Unpad) Bandung Dr Rija Sudirja MT, Rabu (20/1/2016). Rija mengatakan, bahkan kondisinya saat ini tergolong sakit berdasarkan hasil penelitian. "Tanah sakit terutama terjadi pada area industri yang terkena dampak pembuangan limbah," tegasnya. Rija menjelaskan kondisi ini berimbas pada tanaman gagal tumbuh. "Kalaupun tumbuh dan berhasil panen, hasilnya tidak akan sebanyak dan sebaik yang diharapkan," ucapnya. Menurutnya, memang bisa dipanen dengan asupan air itu, tapi mengandung zat toksik yang berbahaya. "Hasil penelitian saya, ada beberapa zat atau logam yang sudah masuk ke jaringan tanaman,” ungkapnya. Ia yang kini mendalami ilmu Kesuburan Tanah dan Nutrisi Tanaman ini menambahkan, jika sudah masuk ke jaringan yang menjadi sumber konsumsi manusia, maka dapat membahayakan bagi kesehatan. Misalnya saja, pada padi, zat berbahaya tersebut sudah masuk pada bulirnya. “Sangat membahayakan bagi kesehatan, lingkungan dan keselamatan makhluk hidup,” tegasnya. Unpad dengan sejumlah tim nya kini tengah melakukan upaya mengatasi hal itu disamping juga tidak mengganggu para petani yang sedang memproduksi. Rija menyarankan penggunaan pupuk multi fungsi sebagai penyedia unsur hara pada tanah dan memperkecil zat Toksik pada tanah. "Kita coba meneliti berbagai bahan yang bisa menyerap zat toksik, kemudian sekaligus juga bahan-bahan yang memang menjadikan nutrisi bagi tanaman,” tandasnya. Ia menuturkan pupuk tersebut sudah teruji di laboratorium dan efektivitas. "Saya sendiri mengkhususkan pupuk ini untuk diaplikasikan pada lahan yang memang sudah tercemar industri tekstil," katanya. Rija mengaku pengembangan terus dilakukan, termasuk upaya untuk memperkaya kandungan pupuk tersebut dengan adanya mikroorganisme. Nantinya akan diperkaya dengan mikroba yang memang mampu mengurai atau mendegradasi senyawa-senyawa toksik yang ada di dalam tanah sehingga mengurangi residunya. Rija berharap Fakultas Pertanian Unpad akan memiliki pabrik mini sebagai tempat mencetak formula dan produk untuk keperluan industri, sesuai dengan kebutuhan dari masing-masing komoditas tanaman. Rija juga menjelaskan terkait bahan organik yang terkandung dalam tanah adalah sebesar 5%. Namun saat ini seperti di Lembang Kabupaten Bandung Barat berkisar 2-3%, begitupum di daerah-daerah yang tingkat pencucian tinggi karena faktor curah hujan. Bahkan sejumlah indikator yang menunjukkan tingkat kerusakan lahan karena alam dan prilaku manusia. “Secara umum, manusia dalam mengelola alam kurang baik terutama untuk lahan yang berkelanjutan," tandasnya. Menurutnya pengelolaan tanah juga harus memiliki nilai tanggung jawab terhadap lingkungan. "Oleh karena itu, pihaknya selalu berupaya untuk mencari cara, agar meningkatkan produksi pertanian juga dapat menjaga lingkungan serta keberlanjutan," ucapnya. Diantara upaya tersebut dibuatnya pompa air tenaga matahari di Kabupaten Kuningan, Subang dan Sumedang yang ramah lingkungan dan menerapkan sistem keberlanjutan. (Dudy Supriyadi)