Warga Padang Resah dengan Keberadaan Gafatar

Warga Padang Resah dengan Keberadaan Gafatar
Padang, Obsessionnews - Para orangtua di Kota Padang, Sumatera Barat (Sumbar) resah dengan keberadaan Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar). Keresahan warga berdampak terhadap kekhawatiran mereka menyekolahkan anak mereka. Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Padang Japeri mengatakan, setelah Gafatar marak dibicarakan, masyarakat sudah mulai resah. Bahkan sempat para orangtua khawatir menyekolahkan anak mereka, karena tanpa sepengathuan bisa dibawa oleh orang yang tidak dikenal. "Akhir-akhir ini masyarakat banyak yang bertanya tentang aliran-aliran yang masuk ke Kota Padang yang mencemaskan mereka, yang mengkhawatirkan mereka, sehingga mereka kurang nyaman melepas anak mereka berangkat sekolah," ujar Japeri usai pertemuan dengan organisasi masyarakat dengan agenda membahas Gafatar di aula Kemenag Kota Padang, Selasa (19/1). Kemenag Kota Padang, Selasa sore menggelar pertemuan dengan organisasi masyarakat seperti Majelis Ulama Indonesia (MUI), Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama (NU) dan Lembaga Kerapatan Ada Alam Minangkabau (LKAAM). Pertemuan dengan agenda menyikapi keresahan masyarakat terhadap keberadaan Gafatar, diikuti Kapolresta Padang, Komisari Besar (Kombes) Polisi Wisnu Andayana, Dandim Padang dan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Padang. Disamping itu, diikuti seluruh kepala madrasah, Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) dan penyuluh Agama di Kota Padang. Menyikapi kondisi yang terjadi di tengah masyarakat, Kemenag Kota Padang memfasilitasi pertemuan. Japeri berharap kepada pihak berwenang dalam hal ini Badan Koordinasi Pengawasan Aliran Kepercayaan Masyarakat (Bakorpakem) menindaklanjuti dan menyelidiki Gafatar. Sementara itu, dilaporkan sebanyak 16 warga Kota Padang, hilang dan diduga bergabung dengan Gafatar. 16 warga dari Kecamatan Kuranji dan Koto Tangah yang hilang adalah masih ada hubungan keluarga. Kapolresta Padang, Komisaris Besar Polisi Wisnu Andayana mengatakan, mereka yang hilang secara bersamaan hingga kini belum diketahui keberadaan mereka. Berdasar informasi yang dikumpulkan, ke 16 warga yang terdiri dari balita, anak-anak dan orang dewasa bahkan sudah di atas 70 tahun ada di Kalimantan atau Sulawesi. Namun demikian, Wisnu Andayana belum berani memastikan apakah mereka berada di Kalimantan atau Sulawesi. temu - ulama padang- Sementara itu, salah seorang warga yang melaporkan anggota keluarganya hilang bernama Deni Hendri. Warga yang tinggal di Perumahan BBI Blok E/9 Tunggul Hitam, Kecamatan Koto Tangah melaporkan isteri bersama dua anaknya yang hilang ke kepolisian. Isteri bersama dua anaknya pergi dari rumah pada Kamis tanggal 7 Januaeri lalu dan baru diketahuinya pada malam hari setelah pilang dari tempat kerja. Isteri Hendri Deni bersama dua anaknya yang hilang bernama Ana Sri Fatiah berusia 25 tahun bersama dua anaknya bernama Farid Rizki Ramdani berusia 5,5 tahun dan Nadin alias Syahila berusia 2,3 tahun. Ia juga tidak mengetahui kemana tujuan isterinya. Kuat dugaan isteri dan anaknya bersama mertua dan kakak iparnya, sebab mertua dan kakak iparnya tidak ada di kampung di Kayu Tanam, Kabupaten Padang Pariaman. Mertua Hendri Deni bernama Nurhayati berusia 55 tahun dan kaka iparnya bernama Ario Putra berusia 30 tahun, keberadaannya juga tidak diketahui dan sama-sama menghilang dengan isteri bersama anaknya. (Musthafa Ritonga)