Kalau Sudah Tahu Bakal Meledak, Harusnya Follow Up Agresif

Jakarta, Obsessionnews - Dalam melakukan pengamanan, pihak Kepolisian sepertinya kecolongan. Sebab bukan apa-apa, para pelaku teror sudah menebar ancaman bakal menggelar 'konser' akhir tahun 2015. Meski berhasil digagalkan dengan melakukan penangkapan terhadap beberapa terduga teroris, tapi dalam hitungan belasan hari memasuki 2016, bom tetap saja diledakkan di depan gedung Sarinah Plaza, Jakarta Pusat, pada Kamis (15/1) siang kemarin. "Dalam sistem keamanan sekarang, tidak bisa dijamin aman. Kita tidak punya sistem keamanan yang tidak bisa ditembus," kata pengacara Todung Mulya Lubis yang ditemui obsessionnews.com di sela kerumunan massa aksi damai di sekitar lokasi ledakan, Jumat (15/1). Lantaran teror, dampaknya bisa kemana-mana. Bukan cuma stabilitas keamanan yang terguncang, perekonomian pun bisa dihajar sampai babak belur. Sempat beredar kabar, Amerika Serikat (AS) sudah tahu lebih dulu bahwa bom bakal diledakkan di depan Sarinah Plaza. Disebutkan juga, empat jam sebelum aksi bunuh diri dilakukan, Kedutaan AS sempat memperingati warganya yang berada di Jakarta agar menjauhi lokasi tersebut. Ketika dikonfirmasi media, pihak Kedubes AS membantah habis-habisan kabar tersebut. Todung menilai, kalau memang benar AS sudah tahu lebih dulu, seharusnya Badan Intelijen Negara (BIN) segera meningkatkan koordinasi guna menaikkan tensi kewaspadaan. "Amerika sudah tahu dan BIN juga begitu. Seharusnya ada follow up yang agresif. BIN mestinya tingkatkan koordinasi dengan mereka. Dan kini, ada hal yang harus diperbaiki terkait teror yang agak lemah," jelas Todung. "Setiap menjelang perayaan natal, tahun baru dan pasca tahun baru memang pasti ada ancaman," kata dia. (Mahbub Junaidi)





























