Doni Monardo Dijagokan Dampingi Noorsy Pimpin DKI

Doni Monardo Dijagokan Dampingi Noorsy Pimpin DKI
Jakarta - Nama Doni Monardo (52) sebagai kandidat calon wakil gubernur DKI Jakarta dijagokan untuk mendampingi Calon Gubernur DKI 2017 Ichsanuddin Noorsy yang maju dari jalur independen. Pencalonan Doni ini muncul dalam hasil survey internal yang dilakukan oleh Angkatan Muda Kabah (AMK) untuk mencari sosok calon wakil gubernur yang tepat untuk disandingkan dengan DR. Ichsanuddin Noorsy. Survey dengan menebar 1.000 kuestioner di 44 Kecamatan yang tersebar di DKI Jakarta dengan margin error 1,5 persen. Nama Mayjen TNI Doni Monardo Pangdam XVI/Pattimura yang juga mantan Danjen Koppasus ini menjadi nomor satu karena tegas dan dapat mendisplinkan birokrasi aparatur negara yang ada di dalam Pemprov DKI Jakarta serta dapat membangun komunikasi dengan kalangan-kalangan stakeholder yang ada di Jakarta. Sedangkan untuk Rieke Diah Pitraloka, Politisi PDI P ini terkenal dengan gaya blak-blakan yang pro terhadap rakyat. Dan untuk pak Sjafrie pernah punya sejarah dalam mengamankan Ibukota saat terjadi kerusuhan Jakarta pada tahun 1998 ketika beliau menjabat sebagai Pangdam Jayakarta. Yang terakhir Tantowi Yahya politisi dari Partai Golkar mendapat perhatian karena selalu tampil di layar kaca sebagai pembawa acara. Mayjen TNI Doni Monardo lahir di Cimahi, Jawa Barat, 10 Mei 1963. Doni sejak 25 Juli 2015 ditugaskan sebagai Pangdam Pattimura, pengganti Mayjen TNI Wiyarto. Sebelumnya, ia pernah menjabat sebagai Danjen Kopassus (Komandan Jenderal Komando Pasukan Khusus), serta Dan Paspampres (Komandan Pasukan Pengamanan Presiden). Doni, lulusan Akademi Militer (Akmil) 1985 ini berpengalaman dalam bidang infanteri. Penempatan pertama langsung pada Komando Pasukan Khusus atau Kopassus tahun 1986 sampai dengan 1998. Selama di Kopassus dia pernah ditugaskan ke Timor Timur, Aceh dan daerah lainnya. Pada tahun 1999 hingga 2001, lelaki yang suka kegiatan menembak dan beladiri ini ditugaskan pada Batalyon Raider di Bali. Kemudian ditarik kembali di Paspampres hingga tahun 2004, lalu mengikuti pelatihan counter terrorism yang dilaksanakan di Korea Selatan. Pada tahun 2005 sampai dengan 2006 Doni ditugaskan di Aceh. Setahun di sana, dia kembali ditarik ke Jakarta bergabung dengan Paspampres. Pada tahun 2006 dipindahkan ke Makassar, Sulawesi Selatan, di Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat, atau yang lebih dikenal dengan Kostrad. Salah satu program yang hingga kini dikenang masyarakat Makassar adalah penghijauan beberapa kawasan tandus di Sulawesi Selatan termasuk di sekitar Bandara Hasanuddin. Setelah di Makassar, Doni di promosikan menjadi Dan Grup A Paspampres hingga 2010. Selama bertugas mengawal orang nomor satu di Republik Indonesia ia sudah mengikuti kunjungan Presiden Indonesia ke 27 negara di dunia. Puas di Paspamres, Doni kemudian diberi kepercayaan menjadi Danrem 061 Surya Kencana Bogor. Hanya beberapa bulan menjadi Danrem di Bogor, Doni diberi kepercayaan menjadi Wadanjen Kopassus. Salah satu tugas yang melambungkan namanya adalah ketika ditugaskan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menjadi Wakil Komando Satuan Tugas untuk pembebasan kapal MV Sinar Kudus yang dibajak oleh perompak Somalia. Atas keberhasilan itu pangkat Doni dinaikkan setingkat menjadi Brigadir Jenderal. Bulan April 2012 Doni mengikuti pendidikan PPSA XVIII di Lemhannas. Baru empat bulan di Lemhannas Doni dipromosikan menjadi Danpaspampres. Survey yang dilakukan oleh Wakil Ketua AMK DKI Zaldi Sonata dalam rentang waktu November-Desember lalu ini selain memunculkan nama Pangdam Pattimura juga memunculkan nama nama yang sudah familiar di kalangan masyarakat yang antara lain: Mayjen TNI Doni Monardo= 35 % Rieke Diah Pitaloka= 28 % Letjen (Purn) H. Sjafrie Sjamsoedin= 20 % Tantowi Yahya= 15,5 % Survey AMK ini juga mengagetkan, karena di kalangan internal PPP DKI Jakarta tidak ada yang masuk nama untuk dapat direkomendasikan untuk mendampingi Bang Noorsy maju dalam bursa pencalonan Gubernur DKI Jakarta. “Tidak adanya figur kandidat cagub dari PPP ini dikarenakan partai kami sedang konflik internal,” keluh Zaldi Sonata ditemui di Jakarta, Selasa (12/01/16). (Red)