Change Leaders: Never Stop, Never Quit

Change Leaders: Never Stop, Never Quit
Untuk kesekian kalinya Rhenald Kasali memberikan suguhan kepada pembaca sebuah tema yang sama: CHANGE! Kali ini, dalam bukunya bertajuk “Change Leadership Non-Finito”, Rhenald menekankan pentingnya seorang pemimpin untuk melakukan perubahan. Jika seseorang itu idealnya adalah agent of change, maka apa padanan kata yang pas untuk seorang pemimpin? Tentulah super agen perubahan sebagai pionir yang menggiring dirinya dan setiap yang dipimpinnya ke dalam perubahan yang lebih baik. Alkisah, seperti yang terpapar dalam buku ini, Rhenald yang melakukan perjalanan ke Italia dan Spanyol, menyaksikan sejumlah karya besar yang tidak berhasil dituntaskan para penciptanya dengan beragam alasan. Di antaranya adalah 4 patung karya Michaelangelo yang dikenal dengan nama The Naked Slave. Dalam manajemen perubahan, karya seni itu dikenal sebagai filosofi Non-Finito, atau karya yang tidak selesai. Karya tidak selesai itu bukannya dikritik para ahli, melainkan mereka bangga memajang karya-karya itu di museum. Para pelancong dari berbagai belahan dunia pun ramai-ramai mendatanginya untuk berpose dan membanggakannya. Dari sinilah kemudian muncul sebuah teori untuk dicari tahu penjelasannya: mengapa di negeri yang pemimpinnya banyak membangun karya-karya besar arsitektur yang menjadi ikon dunia itu selalu ditemukan artefak yang tidak tuntas? Jawabnya, setiap pemimpin selalu akan dihadapkan dengan ketidakpastian. Dari perjalanan itulah Rhenald memahami bahwa melakukan perubahan tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Di sana harus ada perubahan tata nilai, perubahan perilaku, dan perubahan mindset. Bagi seorang pemimpin, perubahan seringkali dimaknai sebagai revolusi yang memberi kesan menakutkan. Terlebih bagi para pemimpin yang biasa tinggal di menara gading. Kelompok inilah yang selalu ingin berada di zona nyaman. Sebuah zona yang tak boleh disentuh sebuah perubahan. Sejatinya, zona nyaman merupakan hulu permasalahan. Dalam buku ini Rhenald menyebut zona nyaman sebagai perangkap kenikmatan yang menyesatkan dan bisa mengakhiri hidup seseorang. Teori umum mengatakan, sebagian pejabat yang ‘berkubang’ keasyikan dalam zona nyaman berakhir di penjara. Bahkan sebagian penerus dari kerajaan-kerajaan terkemuka yang dikenal dalam sejarah harus berakhir dengan kehancuran di tangan rakyatnya sendiri. Raja terakhir adalah raja yang ‘menikmati hidup’. Begitupun bagi sebagian pengusaha dari bisnis keluarga yang juga berakhir dengan kebangkrutan di tangan penerus yang terbiasa hidup berfoya-foya. Sementara bangsa-bangsa yang terperangkap dalam zona nyaman selalu mengalami kemunduran karena terlalu asyik menghabiskan warisan alam yang dulunya berlimpah. Penulis buku Conversations with God, Neale Donald Walsch, mengingatkan: “life begins at the end of your comfort zone!”. Bahwa hidup manusia selesai begitu masuk ke dalam zona nyaman.

*****

Non FinitoSecara komprehensif buku terbitan Mizan ini menjabarkan pentingnya seorang pemimpin untuk tidak “tidur” di dalam zona nyaman. Sebaliknya, dia harus segera bangkit untuk memasuki zona baru. Di dalam zona nyaman, seseorang sudah pasti telah mengetahui keadaan di dalamnya, sehingga ia enggan keluar dari zona itu. Sementara di zona baru, semuanya masih serbagelap. Meski ada harapan yang muncul, namun juga banyak ancaman di dalamnya. Dari zona baru inilah kerap muncul kecemasan yang membuat seseorang enggan memasukinya. Hanya orang-orang hebat yang berani masuk ke zona baru. Siapa dia? Merekalah yang mau bekerja keras, punya nyali untuk terus bergerak dan berubah, serta memiliki pandangan jauh ke depan yang bisa melihat masa depan di zona baru. Zona baru inilah wilayahnya para pemimpin perubahan atau change leader. Mereka mau meninggalkan zona nyaman dan menaklukkan zona baru untuk memburu harapan-harapan, tidak hanya untuk dirinya melainkan juga untuk masyarakat yang dipimpinnya. Dengan gayanya yang khas, Rhenald mengajak para pemimpin untuk me-reset intuisi. Selain cara berpikir yang harus di-reset, juga terlalu banyak constraint yang mereka buat sendiri. Terlalu banyak kepentingan yang di-entertain, dan tentu saja terlalu dibiarkan nyaman. Rhenald memandang jika sesungguhnya Indonesia memiliki begitu banyak ‘pemimpin’. Sayangnya bukan ‘pemimpin’ bintang 5 yang dinantikan banyak orang untuk melakukan perubahan, tetapi ‘pemimpin’ bintang 1 yang sekadar senang menduduki jabatan. Meski demikian, toh Rhenald menemukan juga para ‘pemimpin’ bintang 5 itu. Hanya beberapa saja, memang. Dari para ‘pemimpin’ level 5 inilah Rhenald bisa memulai dengan leluasa apa yang dimaksud change leaders dan change leadership itu. Kepada pembaca, Rhenald memaparkan dengan ‘cantik’ rekam jejak mereka. Tentang apa yang menjadi pendorong, sehingga mereka mau berubah, tentang apa yang membuat mereka gagal namun tidak mau menyerah, tentang apa yang membuat mereka mau repot-repot mengajak masyarakat untuk ikut berubah, tentang mereka yang tetap bertahan meski seringkali dihujani kritik dan kecaman. Rhenald menyebut sejumlah nama pemimpin yang memiliki lompatan panjang dalam melakukan perubahan itu. Mereka adalah Awang Faroek Ishak (Gubernur Kalimantan Timur), Joko Widodo (semasa masih menjadi Walikota Solo dan Gubernur DKI Jakarta), Tri Rismaharini (Walikota Surabaya), Abdullah Azwar Anas (Bupati Banyuwangi), Suyoto atau Kang Yoto (Bupati Bojonegoro), dan Ridwan Kami (Walikota Bandung). Bagi bangsa yang masih kental dengan nuansa feodal dan primordial, semua urusan terkait dengan perubahan pada akhirnya terpulang kembali kepada para pemimpinnya. Ia harus berada di depan untuk memberi contoh. Ia juga harus berada di depan untuk menunjukkan jalan perubahan. Itulah change leader! Seorang change leader juga tidak pernah takut akan bahayanya resiko. Ia akan terus berjuang mewujudkan karya dan impiannya, meski ada resiko besar yang menghadang. Sebuah ketidakpastian (non-finito), kekurangan biaya, kurangnya dukungan masyarakat, ketidakpastian perekonomian dunia, ataupun kehabisan waktu, menjadi teman perjuangan seorang change leader. Ia akan bergerak, bergerak, dan terus bergerak untuk berubah dan meraih kesuksesan. Dalam kaidah anak pesantren, perubahan ini kerap dimotivasi oleh sebuah pepatah adiluhung: harrikû fainna fi al-harakah barakah. Bergeraklah terus, karena di dalam gerakan-gerakan itu terdapat keberkahan. Dan pada makna lain, seorang pemimpin perubahan itu never stop, never quit! Akhirnya, untuk mendapatkan kebaikan itu semua tergantung pada setiap individu, pada diri setiap pemimpin. Asal mau berubah, kesuksesan dan kebaikan akan selalu datang. Toh, Tuhan Yang Maha Esa pun telah membuka peluang kesuksesan bagi hamba-Nya yang ingin berubah. Kata Tuhan dalam firman-Nya:  “..sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri..,” (QS. Ar-Ra’d [13]:11). (Imam Fathurrohman) ========================================================================= Judul                     : Change Leadership Non-Finito Penulis                  : Rhenald Kasali, Ph.D Penerbit               : Mizan ISBN                      : 978-979-433-916-9 Terbit                   : Desember 2015 =========================================================================