Aneh! Ada Desakan Otopsi Bongkar Kuburan Siska

ROSITA P Radjah selaku kuasa hukum keluarga korban meninggal akibat dugaan malpraktik Allya Siska Nadya, menilai aneh, mengapa pihak polisi baru terlihat agresif meminta dilakukan otopsi terhadap jasad Siska. Padahal pada saat laporan itu dibuat ke Polda Metro Jaya lima bulan lalu, polisi tidak pernah menawarkan dilakukan otopsi. "Ini aneh, saat kasus ini sudah ramai diberitakan di media, polisi baru mempermasalahkan otopsi," tuturnya kepada Obsessionnews.com, Sabtu (9/1/2016). Menurut Rosita, otopsi sebenarnya tidak bisa dijadikan alasan bagi polisi untuk menghentikan kasus malpraktik tersebut. Menurutnya, masih banyak cara lain yang bisa dijadikan bukti adanya malpraktik yang menimpa Siska. "Otopsi ini tidak bisa dijadikan alasan kasus in dihentikan, kan masih banyak bukti-bukti lain yang menguatkan, seperti rekam medis, keterangan ahli dari dokter. Kemudian Chiropratctic sendiri yang bermasalah," tandasnya. Ia pun menduga, pihak Polda seperti mencari-cari alasan untuk menyalahkan keluarga korban dengan dalih otopsi. "Kalau otopsi sekarang juga percuma, jenazah sudah menjadi tulang. Bukti-bukti yang lain kan masih ada. Kenapa itu tidak dijadikan sebagai dasar," tuturnya. Rosita berharap polisi bisa bekerja keras untuk menghadirkan dr Randall Cafferty yang menangani terapi Siska untuk dimintai keterangan. Sebab, dokter asal Amerika Serikat itu kini sudah masuk dalam daftar pencarian orang, karena kabur dari Indonesia setelah malpraktik Siska. Kasus malpraktik di klinik Chiropractic First Pondok Indah yang mengakibatkan kematian Siska membuat keluarga korban berduka berat. Ayah korban, Alfian Helmy Hasjim, seolah tak kuasa mengingat kembali kejadian pada 6 Agustus 2015, di mana Siska mendatangi klinik Chiropatric kedua kalinya untuk menjalani terapi sesuai saran Randall Cafferty, di mana Siska mengeluhkan sakit tulang belakang. [caption id="attachment_87915" align="aligncenter" width="640"]
Foto Allya Siska Nadya Almarhum[/caption] Namun apa daya, setelah membayar Rp 17 juta, dan melakukan terapi dengan cara diputar-putar lehernya sampai berbunyi kreeek, pada malam harinya Chica (sapaan akrab Siska) merasa kesakitan yang amat sangat, hingga akhirnya nyawa siska tidak tertolong. "Saya ingat betul ketika putri kami berbaring di kamar, dia menjerit dan meminta tolong karena kesakitan. Chica memegang tangan kami, sambil berucap, tolong mah... tolong pah, Chicha sakit… sakit…," kisah Alfian menceritakan kronologis putrinya itu meninggal dunia. Alfian Helmy Hasjim mencertitakan, pada 20 Agustus 2015 pihaknya melapor ke polisi atas kasus malpraktik anaknya, di pusat layanan masyarakat Polda Metro Jaya, dan 20 hari kemudian baru dilimpahkan ke Reskrimum Polda Metro Jaya Unit I Renata (Remaja, Anak-anak dan Wanita) saat itu ditangani Kompol Ahmad Slamet. “Karena saat itu sitri saya nangis terus dan jenazah anak saya sudah dimakamkan lebih 20 hari, lalu Kompol Ahmad memberi alternatif untuk tidak diotopsi tapi dicari jalan lain karena kasus ini agar masuk ke pengadilan dan kejaksaan,” kisah ayah Siska. Menurutnya, pembuktian malpraktik bisa dilakukan oleh para ahli. Oleh kaerna itu, ditawarkan untuk melibatkan Dokter spesialis Orthopedi (ahli bedah tulang belakang) Dr dr Luthfi Gatam SpOT (K) Spine dari Rumah Sakit Pondok Indah (RSPI) Jakarta Selatan. [caption id="attachment_88081" align="aligncenter" width="640"]
Rosita P Radjah (tengah) dan Alfian Helmy (kanan)[/caption] Cara Cheropractic Bahaya Dr dr Luthfi Gatam SpOT (K) Spine mengatakan, penyakit Allya Siska Nadya tidak bisa sembarangan ditangani. Ia menegaskan, dokter ahli tulang saja masih butuh analisa lebih lanjut dengan CT-Scan dan MRI sebelum ambil tindakan. “Karena di tulang belakang itu sangat sensitif. Bisa menyebabkan ligamen robek, bahkan bisa pecah pembuluh darah yang berujung kematian. Nah, masa’ terapi Chiropractic bisa langsung ambil tindakan sebelum tahu persis masalahnya,” tanya dia keheranan. “Saya sendiri gak ngerti seperti apa itu Chiropractic. Baru setelah nonton di youtube, oh jadi seperti itu ya. Itu bahaya sekali untuk masalah leher yang diderita Allya Siska," ungkap dr Luthfi Gatam, Sabtu (9/1/2016). “Seorang ahli kalau memang benar-benar ahli, tidak mungkin berani melakukan neck manipulation (metode chiropractic) sebelum tahu persis masalahnya,” tandas mantan Ketua Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Orthopaedi & Traumatologi Indonesia, Ketua PASMISS (Pasific Asia of Minimal Invasive Spine Society), dan Ketua MSI (Masyarakat Skoliosis Indonesia) ini. Dari pendapat dr Luthfi Gatam tersebut bisa disimpulkan: 1. Randall Cafferty bukan ahli, karena gegabah langsung melakukan terapi tanpa lebih dulu mendiagnosa. 2. Pecahnya pembuluh darah Allya Siska (ini hasil diagnosa dokter di RSPI) hampir pasti disebabkan oleh penanganan seseorang yang bukan ahli yang lakukan gegabah. 3. Dengan demikian, tidak ada gunanya lagi dilakukan otopsi, karena pandangan pakar kompeten soal itu sudah bisa jadi rujukan. Apalagi,dr Luthfi Gatam pernah menyatakan bahwa otopsi untuk memastikan penyebab kematian karena pecah pembuluh darah terhadap jasad yang sudah berumur 5 bulan, akan sia-sia saja. Karen jaringan lunak jasad sudah tidak ada lagi. [caption id="attachment_87206" align="aligncenter" width="640"]
Kerabat melayat jenazah Allya Siska Nadya[/caption] Polisi Desak Otopsi, Keluarga Allya Merasa Tertekan Alfian Helmy, ayah korban malpraktik di klinik Chiropractic First cabang Pondok Indah Mall (PIM), Jakarta Selatan, kini merasa tertekan. Pasalnya, pihak kepolisian Polda Metro Jaya mendesak keluarga korban agar dilakukan otopsi terhadap jenasah almarhumah Allya Siska Nadya. Padahal, menurut dokter ahli, otopsi hanya akan sia-sia mengingat jasad Allya sudah dikubur selama lima bulan. Kepada obsessionnews, Alfian juga mencoba meluruskan pernyataan Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Krishna Murti, yang dikutip media massa nasional pada Rabu, 6 Januari 2016. Menurut Krishna, ada persoalan yang menghambat proses penanganan kasus Allya. Salah satunya berasal dari pihak keluarga, yang tidak menyetujui tindakan otopsi terhadap jenazah Siska. Alfian menegaskan, pihak keluarga sebelumnya tak pernah menyatakan menolak otopsi. Ketika Allya sudah dinyatakan meninggal pada 6 Agustus 2015 di RS Pondok Indah (RSPI), tak ada seorang pun dari pihak rumah sakit yang menyarankan pihak keluarga agar dilakukan otopsi. “Sebagai orang awam, kami tidak paham, apalagi saat itu kami sangat berduka,” ungkapnya. "Seandainya waktu itu ada yang menghampiri kami untuk menyarankan otopsi demi mencari tahu penyebab kematian Allya Siska, pasti kami setuju. Akhirnya jenasah kami bawa pulang untuk kemudian dimakamkan,” tambahnya. Ia lantas menuturkan, enam hari setelah meninggalnya Allya Siska, tepatnya 11 Agustus 2015, orang tua dan kakak Allya menemui seorang dokter ahli bedah ortopodi di RSPI, Dr dr Luthfi Gatam Sp.OT. Kebetulan, dokter ini pernah menangani Allya Siska sekitar bulan Juli 2015. “Waktu kami sampaikan bahwa Allya sudah meninggal, dokter Luthfi terkejut. Sebab menurut dokter Luthfi, kondisi Siska sebetulnya baik-baik saja, meski ada keluhan sakit di leher,” tuturnya. [caption id="attachment_87870" align="aligncenter" width="640"]
Chiropractic First Pondok Indah disegel aparat.[/caption] Dokter Luthfi kemudian menyarankan Alfian untuk menempuh proses hukum. Alasannya, ilmu chiropractic memang belum jelas, meskipun kliniknya sudah menjamur di mana-mana. Dokter Luthfi juga menyarankan ALfian untuk berkonsultasi dengan Professor Willa, seorang ahli kriminal kesehatan. “Kami pun mulai mengumpulkan data-data dan kami melapor ke polisi pada 12 Agustus 2015.” Pada laporan pertama, status kasusnya masih proses penyelidikan. Baru 15 hari kemudian, penyelidikan naik menjadi proses penyidikan. Alfian mengungkapkan, tak ada permintaan otopsi dari pihak kepolisian selama proses itu. Justru sebaliknya, dalam proses Berita Acara Pemeriksaan (BAP) polisi, seorang penyidik justru menyarankan agar tidak perlu dilakukan otopsi. “Sebagai orang muslim, tentu tidak bagus membongkar kubur. Lebih baik kita cari dalil-dalil lain agar tidak sampai dilakukan otopsi,” kata Alfian menirukan ucapan penyidik. Atas desakan polisi untuk dilakukan otopsi itulah, Alfian dan pihak pengacaranya, hari ini menulis surat ke kepolisian yang pada intinya menyatakan keberatan jika otopsi harus dilakukan. Dalam surat itu, disebutkan bahwa pihak keluarga pada awalnya tidak keberatan jika dilakukan otopsi. Tapi jika otopsi dilakukan setelah berselang lima bulan, maka keluarga berkeberatan. Alasannya, Alfian mengutip pernyataan ahli ortopedi dr. Luthfi Gatam, yang menyebutkan bahwa otopsi atas dugaan kematian akibat pecahnya pembuluh darah (diagnosis dokter di RSPI) hanya bisa dilakukan antara 2-3 minggu setelah jenasah dimakamkan. “Menurut dr. Luthfi, otopsi saat ini tidak akan ada gunanya lagi, karena jaringan di tubuh jenasah sudah tak ada, hanya tinggal tulang belulang,” ungkap Alfian, yang kini mengaku deg-degan dengan adanya tekanan untuk otopsi. Kasus dugaan malpraktik Allya Siska Nadia ini pertama kali diberitakan oleh situs berita Obsessionnews.com, pada Senin, 4 Januari 2015, baru kemudian diberitakan oleh berbagai kalangan media massa. Siska diduga menjadi korban malpraktik di Chiropractic First The Spine & Nerve Clinic Cabang Pondok Indah Mall, Jakarta Selatan, Kamis (6/8/2015) malam. Di klinik chiropractic asing tersebut Siska ditangani dr Randall Cafferty, seorang warga negara Amerika Serikat. Sepulang dari klinik asing tersebut ia mengeluh kesakitan di bagian leher. Jumat (7/8) dini hari orang tuanya membawa Siska ke Rumah Sakit Pondok Indah, Jakarta Selatan. Dokter menyimpulkan telah terjadi pembuluh darah yang pecah di bagian leher Siska. Pukul 04.45 WIB Siska meninggal dunia. Berita kasus malpraktik yang menyebabkan kematian Allya Siska Nadya dalam beberapa hari terakhir ini menjadi perhatian masyarakat Indonesia. Kasus ini pertama kali diberitakan di situs berita Obsessionnews.com, Senin, 4 Januari 2016, pukul 17.43 WIB, dengan judul Allya Siska, Gadis Cantik Wafat Setelah Terapi, kemudian diikuti media-media lainnya. (Tim Obsessionnnews) [caption id="attachment_87436" align="aligncenter" width="600"]
Randall Cafferty kabur keluar dari Indonesia setelah malpraktik Siska[/caption] Seiring kasus Siska, Obsessionnews.com ingin menjaring pendapat Anda sebagai pembaca. Masihkah Anda memilih chiropractic sebagai alternatif pengobatan? Kami persilakan Anda untuk berpartisipasi dalam polling ini. [dyamar_poll id="3"]Baca juga:Allya Siska, Gadis Cantik Wafat Setelah TerapiBayar Pengobatan 17 Juta, Siska Malah MeninggalSalah Terapi di Chiropractic, Nyawa Adikku Melayang 6 JamSiska dan Dunia SosmedKasus Malpraktik Siska, IDI Belum Dipanggil PoldaAnggota DPR ini Nyaris Jadi Korban Tewas Mirip SiskaKasus Siska, DPR Sarankan Pihak Korban Gugat Dinas PariwisataTernyata, Siska Tidak Pernah Mau Merepotkan OrangtuaMeninggalnya Siska Mengagetkan Teman-temannyaKasus Siska, Kejanggalan Klinik First Chiropractic TerbongkarBelajar dari Kasus Siska, Hati-hati Memilih Tempat Berobat!Izin Klinik Kesehatan Masih Amburadul, Nyawa Siska Melayang‘Pembunuh’ Siska Diduga Kabur, Polisi Sudah Proses HukumTerapis ‘Pembunuh’ Siska Tersangkut Kasus Malpraktik di ASAkhirnya, Ketahuan Klinik Siska Meninggal Tak Punya IzinMetode Chiropractic Ternyata Sudah Makan Korban Sejak Lama
Foto Allya Siska Nadya Almarhum[/caption] Namun apa daya, setelah membayar Rp 17 juta, dan melakukan terapi dengan cara diputar-putar lehernya sampai berbunyi kreeek, pada malam harinya Chica (sapaan akrab Siska) merasa kesakitan yang amat sangat, hingga akhirnya nyawa siska tidak tertolong. "Saya ingat betul ketika putri kami berbaring di kamar, dia menjerit dan meminta tolong karena kesakitan. Chica memegang tangan kami, sambil berucap, tolong mah... tolong pah, Chicha sakit… sakit…," kisah Alfian menceritakan kronologis putrinya itu meninggal dunia. Alfian Helmy Hasjim mencertitakan, pada 20 Agustus 2015 pihaknya melapor ke polisi atas kasus malpraktik anaknya, di pusat layanan masyarakat Polda Metro Jaya, dan 20 hari kemudian baru dilimpahkan ke Reskrimum Polda Metro Jaya Unit I Renata (Remaja, Anak-anak dan Wanita) saat itu ditangani Kompol Ahmad Slamet. “Karena saat itu sitri saya nangis terus dan jenazah anak saya sudah dimakamkan lebih 20 hari, lalu Kompol Ahmad memberi alternatif untuk tidak diotopsi tapi dicari jalan lain karena kasus ini agar masuk ke pengadilan dan kejaksaan,” kisah ayah Siska. Menurutnya, pembuktian malpraktik bisa dilakukan oleh para ahli. Oleh kaerna itu, ditawarkan untuk melibatkan Dokter spesialis Orthopedi (ahli bedah tulang belakang) Dr dr Luthfi Gatam SpOT (K) Spine dari Rumah Sakit Pondok Indah (RSPI) Jakarta Selatan. [caption id="attachment_88081" align="aligncenter" width="640"]
Rosita P Radjah (tengah) dan Alfian Helmy (kanan)[/caption] Cara Cheropractic Bahaya Dr dr Luthfi Gatam SpOT (K) Spine mengatakan, penyakit Allya Siska Nadya tidak bisa sembarangan ditangani. Ia menegaskan, dokter ahli tulang saja masih butuh analisa lebih lanjut dengan CT-Scan dan MRI sebelum ambil tindakan. “Karena di tulang belakang itu sangat sensitif. Bisa menyebabkan ligamen robek, bahkan bisa pecah pembuluh darah yang berujung kematian. Nah, masa’ terapi Chiropractic bisa langsung ambil tindakan sebelum tahu persis masalahnya,” tanya dia keheranan. “Saya sendiri gak ngerti seperti apa itu Chiropractic. Baru setelah nonton di youtube, oh jadi seperti itu ya. Itu bahaya sekali untuk masalah leher yang diderita Allya Siska," ungkap dr Luthfi Gatam, Sabtu (9/1/2016). “Seorang ahli kalau memang benar-benar ahli, tidak mungkin berani melakukan neck manipulation (metode chiropractic) sebelum tahu persis masalahnya,” tandas mantan Ketua Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Orthopaedi & Traumatologi Indonesia, Ketua PASMISS (Pasific Asia of Minimal Invasive Spine Society), dan Ketua MSI (Masyarakat Skoliosis Indonesia) ini. Dari pendapat dr Luthfi Gatam tersebut bisa disimpulkan: 1. Randall Cafferty bukan ahli, karena gegabah langsung melakukan terapi tanpa lebih dulu mendiagnosa. 2. Pecahnya pembuluh darah Allya Siska (ini hasil diagnosa dokter di RSPI) hampir pasti disebabkan oleh penanganan seseorang yang bukan ahli yang lakukan gegabah. 3. Dengan demikian, tidak ada gunanya lagi dilakukan otopsi, karena pandangan pakar kompeten soal itu sudah bisa jadi rujukan. Apalagi,dr Luthfi Gatam pernah menyatakan bahwa otopsi untuk memastikan penyebab kematian karena pecah pembuluh darah terhadap jasad yang sudah berumur 5 bulan, akan sia-sia saja. Karen jaringan lunak jasad sudah tidak ada lagi. [caption id="attachment_87206" align="aligncenter" width="640"]
Kerabat melayat jenazah Allya Siska Nadya[/caption] Polisi Desak Otopsi, Keluarga Allya Merasa Tertekan Alfian Helmy, ayah korban malpraktik di klinik Chiropractic First cabang Pondok Indah Mall (PIM), Jakarta Selatan, kini merasa tertekan. Pasalnya, pihak kepolisian Polda Metro Jaya mendesak keluarga korban agar dilakukan otopsi terhadap jenasah almarhumah Allya Siska Nadya. Padahal, menurut dokter ahli, otopsi hanya akan sia-sia mengingat jasad Allya sudah dikubur selama lima bulan. Kepada obsessionnews, Alfian juga mencoba meluruskan pernyataan Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Krishna Murti, yang dikutip media massa nasional pada Rabu, 6 Januari 2016. Menurut Krishna, ada persoalan yang menghambat proses penanganan kasus Allya. Salah satunya berasal dari pihak keluarga, yang tidak menyetujui tindakan otopsi terhadap jenazah Siska. Alfian menegaskan, pihak keluarga sebelumnya tak pernah menyatakan menolak otopsi. Ketika Allya sudah dinyatakan meninggal pada 6 Agustus 2015 di RS Pondok Indah (RSPI), tak ada seorang pun dari pihak rumah sakit yang menyarankan pihak keluarga agar dilakukan otopsi. “Sebagai orang awam, kami tidak paham, apalagi saat itu kami sangat berduka,” ungkapnya. "Seandainya waktu itu ada yang menghampiri kami untuk menyarankan otopsi demi mencari tahu penyebab kematian Allya Siska, pasti kami setuju. Akhirnya jenasah kami bawa pulang untuk kemudian dimakamkan,” tambahnya. Ia lantas menuturkan, enam hari setelah meninggalnya Allya Siska, tepatnya 11 Agustus 2015, orang tua dan kakak Allya menemui seorang dokter ahli bedah ortopodi di RSPI, Dr dr Luthfi Gatam Sp.OT. Kebetulan, dokter ini pernah menangani Allya Siska sekitar bulan Juli 2015. “Waktu kami sampaikan bahwa Allya sudah meninggal, dokter Luthfi terkejut. Sebab menurut dokter Luthfi, kondisi Siska sebetulnya baik-baik saja, meski ada keluhan sakit di leher,” tuturnya. [caption id="attachment_87870" align="aligncenter" width="640"]
Chiropractic First Pondok Indah disegel aparat.[/caption] Dokter Luthfi kemudian menyarankan Alfian untuk menempuh proses hukum. Alasannya, ilmu chiropractic memang belum jelas, meskipun kliniknya sudah menjamur di mana-mana. Dokter Luthfi juga menyarankan ALfian untuk berkonsultasi dengan Professor Willa, seorang ahli kriminal kesehatan. “Kami pun mulai mengumpulkan data-data dan kami melapor ke polisi pada 12 Agustus 2015.” Pada laporan pertama, status kasusnya masih proses penyelidikan. Baru 15 hari kemudian, penyelidikan naik menjadi proses penyidikan. Alfian mengungkapkan, tak ada permintaan otopsi dari pihak kepolisian selama proses itu. Justru sebaliknya, dalam proses Berita Acara Pemeriksaan (BAP) polisi, seorang penyidik justru menyarankan agar tidak perlu dilakukan otopsi. “Sebagai orang muslim, tentu tidak bagus membongkar kubur. Lebih baik kita cari dalil-dalil lain agar tidak sampai dilakukan otopsi,” kata Alfian menirukan ucapan penyidik. Atas desakan polisi untuk dilakukan otopsi itulah, Alfian dan pihak pengacaranya, hari ini menulis surat ke kepolisian yang pada intinya menyatakan keberatan jika otopsi harus dilakukan. Dalam surat itu, disebutkan bahwa pihak keluarga pada awalnya tidak keberatan jika dilakukan otopsi. Tapi jika otopsi dilakukan setelah berselang lima bulan, maka keluarga berkeberatan. Alasannya, Alfian mengutip pernyataan ahli ortopedi dr. Luthfi Gatam, yang menyebutkan bahwa otopsi atas dugaan kematian akibat pecahnya pembuluh darah (diagnosis dokter di RSPI) hanya bisa dilakukan antara 2-3 minggu setelah jenasah dimakamkan. “Menurut dr. Luthfi, otopsi saat ini tidak akan ada gunanya lagi, karena jaringan di tubuh jenasah sudah tak ada, hanya tinggal tulang belulang,” ungkap Alfian, yang kini mengaku deg-degan dengan adanya tekanan untuk otopsi. Kasus dugaan malpraktik Allya Siska Nadia ini pertama kali diberitakan oleh situs berita Obsessionnews.com, pada Senin, 4 Januari 2015, baru kemudian diberitakan oleh berbagai kalangan media massa. Siska diduga menjadi korban malpraktik di Chiropractic First The Spine & Nerve Clinic Cabang Pondok Indah Mall, Jakarta Selatan, Kamis (6/8/2015) malam. Di klinik chiropractic asing tersebut Siska ditangani dr Randall Cafferty, seorang warga negara Amerika Serikat. Sepulang dari klinik asing tersebut ia mengeluh kesakitan di bagian leher. Jumat (7/8) dini hari orang tuanya membawa Siska ke Rumah Sakit Pondok Indah, Jakarta Selatan. Dokter menyimpulkan telah terjadi pembuluh darah yang pecah di bagian leher Siska. Pukul 04.45 WIB Siska meninggal dunia. Berita kasus malpraktik yang menyebabkan kematian Allya Siska Nadya dalam beberapa hari terakhir ini menjadi perhatian masyarakat Indonesia. Kasus ini pertama kali diberitakan di situs berita Obsessionnews.com, Senin, 4 Januari 2016, pukul 17.43 WIB, dengan judul Allya Siska, Gadis Cantik Wafat Setelah Terapi, kemudian diikuti media-media lainnya. (Tim Obsessionnnews) [caption id="attachment_87436" align="aligncenter" width="600"]
Randall Cafferty kabur keluar dari Indonesia setelah malpraktik Siska[/caption] Seiring kasus Siska, Obsessionnews.com ingin menjaring pendapat Anda sebagai pembaca. Masihkah Anda memilih chiropractic sebagai alternatif pengobatan? Kami persilakan Anda untuk berpartisipasi dalam polling ini. [dyamar_poll id="3"]Baca juga:Allya Siska, Gadis Cantik Wafat Setelah TerapiBayar Pengobatan 17 Juta, Siska Malah MeninggalSalah Terapi di Chiropractic, Nyawa Adikku Melayang 6 JamSiska dan Dunia SosmedKasus Malpraktik Siska, IDI Belum Dipanggil PoldaAnggota DPR ini Nyaris Jadi Korban Tewas Mirip SiskaKasus Siska, DPR Sarankan Pihak Korban Gugat Dinas PariwisataTernyata, Siska Tidak Pernah Mau Merepotkan OrangtuaMeninggalnya Siska Mengagetkan Teman-temannyaKasus Siska, Kejanggalan Klinik First Chiropractic TerbongkarBelajar dari Kasus Siska, Hati-hati Memilih Tempat Berobat!Izin Klinik Kesehatan Masih Amburadul, Nyawa Siska Melayang‘Pembunuh’ Siska Diduga Kabur, Polisi Sudah Proses HukumTerapis ‘Pembunuh’ Siska Tersangkut Kasus Malpraktik di ASAkhirnya, Ketahuan Klinik Siska Meninggal Tak Punya IzinMetode Chiropractic Ternyata Sudah Makan Korban Sejak Lama




























