Bisa Apa Zidane di Los Blancos?

Zinedine Zidane resmi ditunjuk sebagai pelatih anyar Real Madrid menggantikan Rafael Benitez yang dipecat, Selasa (5/1/2016). Hanya tujuh bulan Benitez menangani Real Madrid sejak ia dibajak dari Napoli. Selama itu pula pelatih yang mempersembahkan tropi La Liga dan UEFA bagi Valencia itu dianggap gagal membawa Los Blancos bersaing di papan klasemen. Sepanjang putaran pertama La Liga, Madrid baru menelan tiga kekalahan, dari Sevilla, Villarreal, Barcelona, dan tersingkir dari Copa del Rey. Terakhir, Los Blancos hanya mendapatkan satu poin saat melawan skuat asuhan Gary Neville. Hasilnya, Madrid tertahan di posisi ketiga klasemen sementara La Liga. Mereka terpaut empat angka di bawah Atletico Madrid dan dua angka di bawah Barcelona yang memiliki tabungan satu laga. Tampaknya, pemecatan Benitez tidak hanya karena rentetan buruk itu. Mantan pembesut Liverpool, Internazionale, dan Chelsea itu juga dikabarkan memiliki hubungan buruk dengan sejumlah pemain kunci dan para Madridista. Zinedine Zidane yang ditunjuk Florentino Perez untuk menggantikan Benitez segera mengambil sikap. Mantan gelandang enerjik Madrid dan Juventus itu yakin dapat kembali mengangkat performa Real Madrid. "Madrid klub terbaik di dunia dengan fans yang juga terbaik. Saya akan berusaha semaksimal mungkin agar klub ini bisa meraih trofi. Saya akan bekerja keras dengan seluruh pemain dan semoga cepat menyatu,” ungkapnya. Dukungan untuknya juga mengalir deras. Utamanya dari rekan-rekannya di era kejayaan Los Galacticos, seperti Luis Figo dan Beckham. Penunjukkannya dianggap tepat karena Zidane dinilai memiliki pengalaman yang cukup dan memahami karakter Real Madrid. Usai pensiun sebagai pemain, mantan pemain termahal dunia itu langsung ditunjuk sebagai penasihat khusus tim utama Real Madrid di era Jose Mourinho. Zidane juga sempat menjadi direktur olahraga sebelum kemudian digeser menjadi asisten pelatih Carlo Ancelotti. Terakhir, ia juga menjabat pelatih Real Madrid Castilla, sebelum ditunjuk sebagai pelatih utama Real Madrid. Meski dinilai cukup berpengalaman dan memahami karakter Los Blancos, namun banyak pihak menyangsikan kemampuan pria berkepala plontos ini. Tak ada prestasi membanggakan yang ditorehnya selama menjadi pelatih. Apalagi Zidane menukangi klub sebesar Real Madrid yang tekanannya tentu berbeda saat ia menjadi pemain. Penerus Tradisi Pelatih-Gelandang? Di balik pro-kontra penunjukkan Zidane itu terselip sebuah harapan. Zidane diharapkan mampu meneruskan tradisi kesuksesan para pelatih yang berasal dari pemain gelandang. Ya, jika kita menoleh sejenak, banyak para pemain gelandang yang sukses ketika berkarir sebagai pelatih. Para pemain gelandang, umumnya jeli melihat ruang. Mereka terbiasa merebut dan menerima bola untuk dialirkan ke pemain lainnya. Secara khusus, gelandang bertahan selalu memiliki peran kontrol terhadap pemain di sekelilingnya. Dia mesti melihat ke depan, belakang, kanan dan kiri. Itu sebabnya dia harus memiliki kesadaran yang sangat baik dan kemampuan untuk membuat keputusan dengan cepat. Kesadaran akan ruang adalah bagian mutlak dari seorang gelandang bertahan, area pandangnya yang teramat luas membuat gelandang bertahan adalah bagian terpenting dalam sebuah tim. Lalu, siapa contoh pelatih sukses yang bisa diikuti rekam jejaknya oleh Zidane? [caption id="attachment_87098" align="alignnone" width="460"]
Carlo Ancelotti[/caption] Carlo Ancelotti. Di awal karirnya bersama Parma dan AS Roma, Don Carlo diplot sebagai gelandang bertahan. Tidak seperti Edgar Davids yang garang, Don Carlo dikenal sebagai tipikal gelandang bertahan stylish dengan pembawaan tenang. Kemudian pada era kejayaan AC Milan di bawah kendali Arrigo Sacchi, Anceloti ditempatkan lebih ke depan sebagai gelandang serang bersama Ruud Gullit. Posisi dan tanggungjawab untuk menjadi benteng pertahanan lapis pertama di lini tengah diserahkan pada Frank Rijkaard. Di eranya sebagai pelatih, Don Carlo mampu menyegel seabrek prestasi. Di empat negara yang berbeda, Don Carlo selalu meraih titel jawara kompetisi utama. Di Italia, setelah hanya mempersembahkan Piala Intertoto bagi Juventus, klub AC Milan dibawanya meraih 1 Scudetto dan Coppa Italy, 2 Piala Champion Eropa, 2 Piala Super Eropa, dan menjuarai Piala Dunia Antaraklub pada 2007. Sukses bersama AC Milan, Don Carlo membesut Chelsea pada musim 2009-2010. Di tahun pertamanya itu The Blues meraih Piala Liga Primer Inggris dan Piala FA. kemudian Piala FA Community Shield setelah menang tipis 1-0 atas Portsmouth di partai final, pada 15 Mei 2010. Pada musim 2011-2012, Ancelotti dipercaya memimpin revolusi di Paris Saint Germain. Hasilnya terlihat musim berikutnya (2012-2013), PSG merajai Liga Prancis. Ancelotti pun terpilih menjadi Manager of The Year 2012-2013 Liga Prancis. Di Spanyol, torehan positif Don Carlo berlanjut saat menukangi Real Madrid. Pada 2013 itu ia menggantikan posisi Jose Mourinho yang hijrah ke Chelsea. Di musim pertamanya, Don Carlo sukses mempersembahkan gelar Copa Del Rey dalam final El Clasico dan La Decima dalam final Derby Madrileno. Pada musim keduanya, Los Blancos diberinya gelar Piala Super UEFA dan Piala Dunia Antarklub serta mengantar klub meraih kemenangan beruntun 22 kali sampai akhir Desember 2014. [caption id="attachment_87099" align="alignnone" width="524"]
Pep Guardiola[/caption] Pep Guardiola. Siapa yang tak terpukau dengan Tiki-Taka? Gaya bermain khas El Barca itu begitu terkenal saat Pep Guardiola mengomandoi Messi Dkk. Pada musim awal kepelatihannya, Barcelona berhasil dibawa Pep menjadi treble winner untuk La Liga, Copa del Rey, dan Liga Champions. Selain itu, Barcelona menjadi tim tersubur di antara jajaran liga-liga terbaik Eropa dengan mencetak sekitar 150 gol di semua kompetisi. Tak berhenti sampai di situ, pada 2009, Pep yang berposisi sebagai gelandang saat menjadi pemain sepakbola, meraih 6 trofi sekaligus di kejuaraan domestik maupun di Eropa. Keenam trofi dimaksud adalah La Liga, Copa del Rey, Piala Super Spanyol, Liga Champions UEFA, Piala Super UEFA, dan Piala Dunia Antarklub FIFA, sekaligus menjadi pelatih terbaik tahun (musim) itu. Pep pun didapuk sebagai pelatih terbaik sepanjang sejarah Barcelona dengan 14 (empat belas) trofi dalam kurun waktu 4 (empat) tahun melatih. [caption id="attachment_87107" align="alignnone" width="640"]
Antonio Conte [/caption] Antonio Conte. Bulan Mei 2011, direktur teknik Juventus Giuseppe Marotta mengumumkan bahwa Antonio Conte akan menjadi pelatih Juventus. Conte menggantikan Luigi Del Neri yang gagal membawa Juventus bersaing dan hanya mampu finish di posisi 7 klasemen akhir Serie A 2011. Conte diikat kontrak oleh Juventus selama dua musim sampai akhir musim 2012-13. Karena menjadi pemain Juventus di sebagian besar karirnya, Conte dicintai oleh pendukung setia Bianconeri. Ia pun disambut dengan meriah oleh para Juventini saat hari penandatanganan kontraknya Bersama Conte, Juventus langsung tampil superior. Bagi tim peraih Scudetto terbanyak di Italia itu Conte mempersembahkan 3 Scudetto berturut-turut sejak 2012, 2013, dan 2014. La Vecchia Signora pun dibawanya memenangkan Piala Super Italia pada 2012. [caption id="attachment_87102" align="alignnone" width="640"]
Luis Enrique[/caption] Luis Enrique. Nama ini seolah menjadi jaminan sukses di Barcelona. Setelah gagal saat menukangi AS Roma, pemain gelandang bertahan Barcelona di era 1996-2004 itu meraih banyak prestasi sejak ditunjuk melatih El Barca pada musim 2014-2015. Lucho, demikian pria 45 tahun ini biasa disapa, langsung membawa El Barca memenangkan treble winner. Piala La Liga, Piala Coppa Del Rey, dan Piala Champion Eropa dibawanya untuk memenuhi etalase piala El Barca. Di awal musim 2015-16 ini, El Barca dibawanya menggondol Piala Dunia Antarklub. Atas prestasinya itu, pantas jika Lucho diganjar sebagai pelatih terbaik dunia 2015 versi IFFHS megalahkan Pep Guardiola dan Max Allegri. Sukses Enrique ini membuat dirinya mengikuti jejak Frank Rijkaard dan Guardiola sebagai pelatih Barcelona yang pernah menggenggam status pelatih terbaik dunia versi IFFHS. Selain Carlo Ancelotti, Pep Guardiola, Antonio Conte, dan Luis Enrique masih banyak sederetan nama pelatih sukses yang berasal dari pemain gelandang. Sebut saja pelatih fenomenal El Barca, Johan Cruyff yang menghasilkan 10 trofi selama delapan tahun kepemimpinannya, termasuk empat titel liga sejak tahun 1988 menukangi El Barca. Ada juga nama Diego Simeone, pembesut Atletico Madrid, yang taktiknya sangat ditakuti para pelatih di La Liga. Selainnya, ada nama beken Fabio Capello, Roberto Di Matteo, dan Vicente Del Bosque. Kemudian ada juga nama Frank Rijkaard. Menggantikan Radomir Antic, Rijkaard membawa Barcelona merebut kembali mahkota La Liga pada musim 2004/2005, empat tahun setelah klub itu puasa gelar. Rijkaard pulalah yang disebut-sebut mengembalikan pamor Barcelona di kancah Eropa. Memanfaatkan pemain-pemain yang ada kala itu, macam Ronaldinho dan Samuel Eto'o. Rijkaard sukses mempersembahkan trofi Liga Champions pertama sejak tiga belas tahun terakhir. Nah, kini Zidane tengah berusaha menjadi penerus tradisi itu. Semasa dirinya menjadi pemain, tak satupun penggila bola meragukan kemampuannya. Baik saat membela Juventus maupun Real Madrid. Zidane adalah gelandang paling komplet di zamannya. Zidane adalah sang juara. Zidane tipikal pemain pintar yang tak hanya mampu menjadi play maker tapi juga piawai saat menjadi box to box midfielder. Bersamanya, El Real dan Prancis meraih banyak prestasi. Tapi itu dulu, saat Zidane menjadi pemain. Kini, bisa apa Zidane di Los Blancos sebagai pelatih? Kita tunggu saja! (Fathur)
Carlo Ancelotti[/caption] Carlo Ancelotti. Di awal karirnya bersama Parma dan AS Roma, Don Carlo diplot sebagai gelandang bertahan. Tidak seperti Edgar Davids yang garang, Don Carlo dikenal sebagai tipikal gelandang bertahan stylish dengan pembawaan tenang. Kemudian pada era kejayaan AC Milan di bawah kendali Arrigo Sacchi, Anceloti ditempatkan lebih ke depan sebagai gelandang serang bersama Ruud Gullit. Posisi dan tanggungjawab untuk menjadi benteng pertahanan lapis pertama di lini tengah diserahkan pada Frank Rijkaard. Di eranya sebagai pelatih, Don Carlo mampu menyegel seabrek prestasi. Di empat negara yang berbeda, Don Carlo selalu meraih titel jawara kompetisi utama. Di Italia, setelah hanya mempersembahkan Piala Intertoto bagi Juventus, klub AC Milan dibawanya meraih 1 Scudetto dan Coppa Italy, 2 Piala Champion Eropa, 2 Piala Super Eropa, dan menjuarai Piala Dunia Antaraklub pada 2007. Sukses bersama AC Milan, Don Carlo membesut Chelsea pada musim 2009-2010. Di tahun pertamanya itu The Blues meraih Piala Liga Primer Inggris dan Piala FA. kemudian Piala FA Community Shield setelah menang tipis 1-0 atas Portsmouth di partai final, pada 15 Mei 2010. Pada musim 2011-2012, Ancelotti dipercaya memimpin revolusi di Paris Saint Germain. Hasilnya terlihat musim berikutnya (2012-2013), PSG merajai Liga Prancis. Ancelotti pun terpilih menjadi Manager of The Year 2012-2013 Liga Prancis. Di Spanyol, torehan positif Don Carlo berlanjut saat menukangi Real Madrid. Pada 2013 itu ia menggantikan posisi Jose Mourinho yang hijrah ke Chelsea. Di musim pertamanya, Don Carlo sukses mempersembahkan gelar Copa Del Rey dalam final El Clasico dan La Decima dalam final Derby Madrileno. Pada musim keduanya, Los Blancos diberinya gelar Piala Super UEFA dan Piala Dunia Antarklub serta mengantar klub meraih kemenangan beruntun 22 kali sampai akhir Desember 2014. [caption id="attachment_87099" align="alignnone" width="524"]
Pep Guardiola[/caption] Pep Guardiola. Siapa yang tak terpukau dengan Tiki-Taka? Gaya bermain khas El Barca itu begitu terkenal saat Pep Guardiola mengomandoi Messi Dkk. Pada musim awal kepelatihannya, Barcelona berhasil dibawa Pep menjadi treble winner untuk La Liga, Copa del Rey, dan Liga Champions. Selain itu, Barcelona menjadi tim tersubur di antara jajaran liga-liga terbaik Eropa dengan mencetak sekitar 150 gol di semua kompetisi. Tak berhenti sampai di situ, pada 2009, Pep yang berposisi sebagai gelandang saat menjadi pemain sepakbola, meraih 6 trofi sekaligus di kejuaraan domestik maupun di Eropa. Keenam trofi dimaksud adalah La Liga, Copa del Rey, Piala Super Spanyol, Liga Champions UEFA, Piala Super UEFA, dan Piala Dunia Antarklub FIFA, sekaligus menjadi pelatih terbaik tahun (musim) itu. Pep pun didapuk sebagai pelatih terbaik sepanjang sejarah Barcelona dengan 14 (empat belas) trofi dalam kurun waktu 4 (empat) tahun melatih. [caption id="attachment_87107" align="alignnone" width="640"]
Antonio Conte [/caption] Antonio Conte. Bulan Mei 2011, direktur teknik Juventus Giuseppe Marotta mengumumkan bahwa Antonio Conte akan menjadi pelatih Juventus. Conte menggantikan Luigi Del Neri yang gagal membawa Juventus bersaing dan hanya mampu finish di posisi 7 klasemen akhir Serie A 2011. Conte diikat kontrak oleh Juventus selama dua musim sampai akhir musim 2012-13. Karena menjadi pemain Juventus di sebagian besar karirnya, Conte dicintai oleh pendukung setia Bianconeri. Ia pun disambut dengan meriah oleh para Juventini saat hari penandatanganan kontraknya Bersama Conte, Juventus langsung tampil superior. Bagi tim peraih Scudetto terbanyak di Italia itu Conte mempersembahkan 3 Scudetto berturut-turut sejak 2012, 2013, dan 2014. La Vecchia Signora pun dibawanya memenangkan Piala Super Italia pada 2012. [caption id="attachment_87102" align="alignnone" width="640"]
Luis Enrique[/caption] Luis Enrique. Nama ini seolah menjadi jaminan sukses di Barcelona. Setelah gagal saat menukangi AS Roma, pemain gelandang bertahan Barcelona di era 1996-2004 itu meraih banyak prestasi sejak ditunjuk melatih El Barca pada musim 2014-2015. Lucho, demikian pria 45 tahun ini biasa disapa, langsung membawa El Barca memenangkan treble winner. Piala La Liga, Piala Coppa Del Rey, dan Piala Champion Eropa dibawanya untuk memenuhi etalase piala El Barca. Di awal musim 2015-16 ini, El Barca dibawanya menggondol Piala Dunia Antarklub. Atas prestasinya itu, pantas jika Lucho diganjar sebagai pelatih terbaik dunia 2015 versi IFFHS megalahkan Pep Guardiola dan Max Allegri. Sukses Enrique ini membuat dirinya mengikuti jejak Frank Rijkaard dan Guardiola sebagai pelatih Barcelona yang pernah menggenggam status pelatih terbaik dunia versi IFFHS. Selain Carlo Ancelotti, Pep Guardiola, Antonio Conte, dan Luis Enrique masih banyak sederetan nama pelatih sukses yang berasal dari pemain gelandang. Sebut saja pelatih fenomenal El Barca, Johan Cruyff yang menghasilkan 10 trofi selama delapan tahun kepemimpinannya, termasuk empat titel liga sejak tahun 1988 menukangi El Barca. Ada juga nama Diego Simeone, pembesut Atletico Madrid, yang taktiknya sangat ditakuti para pelatih di La Liga. Selainnya, ada nama beken Fabio Capello, Roberto Di Matteo, dan Vicente Del Bosque. Kemudian ada juga nama Frank Rijkaard. Menggantikan Radomir Antic, Rijkaard membawa Barcelona merebut kembali mahkota La Liga pada musim 2004/2005, empat tahun setelah klub itu puasa gelar. Rijkaard pulalah yang disebut-sebut mengembalikan pamor Barcelona di kancah Eropa. Memanfaatkan pemain-pemain yang ada kala itu, macam Ronaldinho dan Samuel Eto'o. Rijkaard sukses mempersembahkan trofi Liga Champions pertama sejak tiga belas tahun terakhir. Nah, kini Zidane tengah berusaha menjadi penerus tradisi itu. Semasa dirinya menjadi pemain, tak satupun penggila bola meragukan kemampuannya. Baik saat membela Juventus maupun Real Madrid. Zidane adalah gelandang paling komplet di zamannya. Zidane adalah sang juara. Zidane tipikal pemain pintar yang tak hanya mampu menjadi play maker tapi juga piawai saat menjadi box to box midfielder. Bersamanya, El Real dan Prancis meraih banyak prestasi. Tapi itu dulu, saat Zidane menjadi pemain. Kini, bisa apa Zidane di Los Blancos sebagai pelatih? Kita tunggu saja! (Fathur)




























