Jokowi Ajak Pelaku Pasar Modal Optimis

Jokowi Ajak Pelaku Pasar Modal Optimis
Jakarta, Obsessionnews - Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengajak pelaku pasar optimis di tahun 2016 ini. Lantaran, pemerintah sudah menyiapkan aksi untuk menyehatkan ekonomi nasional. Jokowi menyatakan tersebut, saat secara resmi membuka perdagangan pasar modal tahun 2016 di Bursa Efek Indonesia (BEI) pagi ini, 4 Januari 2016. Secara simbolis Jokowi memencet tombol dimulainya transaksi di pasar modal tepat pukul 09.00 WIB, dilanjutkan dengan penandatanganan sertifikat peresmian perdagangan tahun 2016. baca juga:Jokowi: Pos Perbatasan, Pusat Pertumbuhan Ekonomi Baru Inilah Isi Paket Kebijakan Ekonomi VI Jokowi CSIS: 69,1% Rakyat tak Puas Kinerja Ekonomi Jokowi Dalam acara tersebut turut hadir sejumlah pejabat negara diantaranya Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution, Menteri Perdagangan Thomas Trikasih Lembong, Menteri BUMN, Rini Soemarno, Komisioner Otoritas Jasa Keuangan. Lalu Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo, Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama, Walikota Bogor Bima Arya.Selain itu sejumlah direksi perusahaan publik dan BUMN serta para direksi dan komisaris Self Regulatory Organization juga terlihat hadir. Dalam sambutannya, Presiden meminta pelaku pasar modal untuk optimis dan percaya diri menghadapi tahun 2016. “Semua harus optimistis kondisi akan jauh lebih baik di tahun 2016 dibandingkan tahun 2015 lalu,” tandasnya. Optimisme yang diungkapkan Jokowi dilandasi atas berbagai upaya pemerintah dalam membenahi ekonomi nasional diantaranya keluarnya pekat kebijakan ekonomi yang terbit tiap pekan. Selain itu pada tahun 2016 akan menjadi momentum bagi kalangan dunia usaha untuk merevaluasi aset yang dimiliki sehingga akan berdampak positif bagi perekonomian nasional. Sebelumnya, pada tahun 2015 Jokowi mengakui sebagai periode yang penuh tantangan. Perekonomian nasional melambat seiring dengan gejolak ekonomi global. Kekhawatiran pelaku pasar juga dipicu oleh kemungkinan dampak negatif dari kebijakan bank sentral Amerika Serikat yang menaikan suku bunganya di akhir tahun 2015. Meski begitu, Jokowi mengklaim kinerja pemerintah tidak seburuk yang dikatakan sebagian kalangan. Ini tercermin dari pencapaian penerimaan pajak yang mencapai 83 persen dari target atau sebesar Rp 1.735,8 triliun. lalu penerimaan non pajak Rp 252,4 triliun atau 93,8 persen dari target Sementara, serapan belanja negara mencapai 91,2% dari APBN yakni Rp 1.810 triliun, dengan sisa perhitungan anggaran lebih (Silpa) mencapai Rp 10,8 triliun. “Ini menunjukan apa yang ditakutkan tidak terjadi,” ujarnya. Kendati begitu Presiden mengakui kemungkinan terjadi pelambatan ekonomi di tahun 2015 diprediksi sebesar 4,7%-4,8% atau turun dari tahun 2014 yang mencapai 5%. Meski begitu Presiden mengatakan penurunan 0,2 persen -0,3 persen tersebut lebih baik ketimbang negara lain yang sampai lebih dari 3 persen di tahun 2015. (Setkab/rez)