Mangrove Sekitar Tambak Atasi Pantura dari Polusi

Mangrove Sekitar Tambak Atasi Pantura dari Polusi
Bandung, Obsessionnews - Penanaman mangrove di sekitar tambak menjadi solusi untuk mengatasi kawasan pantai utara (Pantura) dari polusi. Demikian disampaikan Tim ahli Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Jawa Barat (Jabar) Dr Ir Iwang Gumilang MSi, Jumat (1/1). Menurut dosen Departemen Sosial Ekonomi Perikanan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran (Unpad) ini, kegiatan budidaya di kawasan pantura sudah harus berwawasan lingkungan. "Kalau budidayanya tidak berwawasan lingkungan, akan bertentangan dengan status Kawasan Strategi Propinsi masuk dalam RTRW Jabar 2009-2029," ujarnya. Adapun definisi berwawasan, jelasnya adalah terintegrasinya sektor ekologi dengan sosial dan ekonomi dalam suatu pembangunan. Maka, selain memperhatikan faktor sosial ekonomi, faktor lingkungan pun harus diperhatikan khususnya oleh pembudidaya. Guna menanggulangi hal tersebut, penerapan model penanaman mangrove disekitar tambak (silvofishery) sangat direkomendasikan. Menurut Iwang, model ini memadukan tanaman mangrove di dalam produksi tambak. Ada beberapa modifikasi yang harus diintroduksikan mengenai model ini, terutama oleh pemerintah dan Perguruan Tinggi. Berbicara mengenai silvofishery, menurutnya, masyarakat akan berpikir mengenai model penanaman mangrove di tengah tambak, tapi ternyata keliru. Model silvofisehry yang direkomendasikan olehnya yaitu mangrove ditanam di area sekeliling tambak. Ideal lokasi tambak menurutnya. berada pada jarak 100 – 150 meter dari bibir pantai. Dari jarak tersebut ditanami kembali tanaman mangrove yang berfungsi sebagai green belt. “Fungsi dari green belt itu banyak, berkaitan dengan kualitas air. Kualitas air yang ada di kawasan mangrove itu jauh lebih baik dengan kualitas air di luar mangrove. Karena mangrove di akarnya punya bulu yang bisa mengikat sedimen, sehingga zat pencemar itu diserap oleh akar mangrove,” jelasnya. Penanaman mangrove di tengah tambak justru tidak direkomendasikan olehnya. “Ketika panen otomatis mangrove yang ditanam di tengah harus dibabat. Membabat itu butuh waktu dan biaya yang lebih. Pada akhirnya akan berpengaruh kepada peningkatan biaya produksi,” katanya. Meski dinilai baik, penelitian yang dilakukan Dr. Iwang menunjukkan, produktivitas tambak model silvofishery menurun 0,5% dibanding tambak konvensional. Inilah yang menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah, balai penelitian, maupun peneliti perguruan tinggi untuk menghasilkan model tambak silvofishery namun dengan produktivitas yang setidaknya setara dengan tambak konvensional. Model silvofishery juga mendatangkan keuntungan lain. Kawasan tambak silvofishery bisa menjadi wahana pariwisata berbasis lingkungan. Jajaran kawasan mangrove bisa menjadi wahana wisata lingkungan, sementara tambak di sekitarnya bisa menjadi wahana edukasi efektif bagi generasi muda. (Dudy Supriyadi)