Jangan Pernah Mengkafirkan Orang!

Jakarta, Obsessionnews – Belum lama terpilih menjadi Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Agus Rahardjo menjadi ‘sasaran tembak’ orang-orang yang tak menyukainya. Beredar isu Agus adalah seorang nonmuslim. Anggota Fraksi Partai Nasden DPR RI Teuku Taufiqulhadi sebelumnya mengaku terkejut terhadap adanya isu tersebut. Untungnya, Taufiqulhadi mendapat mendapat penjelasan dari temannya melalui Whatsapp dalam menjawab isu. Jawaban tersebut lantas disampaikan oleh Taufiqulhadi kepada Obsessionnews.com sesuai bunyi aslinya, sebagai berikut: [caption id="attachment_85867" align="alignleft" width="357"]
Anggota Fraksi Nasdem DPR Teuku Taufiqulhadi.[/caption] “Emang Pak Agus non-muslim, Bah?” tanya istri saya. Agus yang dia maksud tak lain Agus Rahardjo, Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang baru. Tumben-tumbenan istri saya bertanya begitu. Biasanya dia cuek dan gak peduli dengan agama kolega atau kawan-kawan saya. Tapi kali ini dia merasa penasaran sehingga harus meluncurkan pertanyaan tsb, gegara sebuah tulisan berantai ttg profil Ketua KPK yang baru, lengkap dengan “peta agama” mereka, mampir ke Whatsapp-nya. Di situ ditulis Kristen sebagai agama Agus Rahardjo. “Tulisan sampah, itu. Buang-buang waktu saja baca begituan,” jawab saya enteng sambil terus membersihkan koleksi batu akik yang lama tidak saya sentuh. “Tapi rame banget dibahas di grup ibu-ibu,” ujarnya lagi. Saya hanya diam dan tetap asyik dengan akik saya. “Bukannya istri Pak Agus berhijab, ya Bah?” ujarnya penasaran, sembari mencari pembenaran tulisan berantai itu memang salah adanya. Istri saya memang pernah bertemu Bu Agus Rahardjo sewaktu kami kondangan ke pernikahan putrinya. *** Saya mengenal Pak Agus sekitar awal tahun 2000, tak lama setelah beliau naik haji. Waktu itu dia masih menjabat sebagai Direktur Sistem dan Prosedur Pendanaan Bappenas. Saya mengiranya menggunakan ONH plus, secara dia sudah pejabat eselon II. “Saya pake ONH biasa karena mampunya itu,” tandasnya. Clakep…saya terdiam. Semenjak itu saya sering bertemu Pak Agus, terutama sore hari, di ruang kantornya, lantai 6 Gedung Bappenas Taman Suropati. Kami ngobrol apa saja, mulai dari urusan ringan hingga diskusi urusan negara. Saya acap diajar tentang pendanaan pembangunan, celah-celah pendanaan pembangunan yg acap dimainkan pejabat dst. Dari dia juga saya tahu apa itu bluebook, sebuah buku yg isinya daftar proyek pemerintah. Kami ngobrol bisa sampai berjam-jam, dan hanya jeda waktu shalat Magrib maupun Isya. Kami shalat di ruang kantornya. Dia memang selalu menyediakan sajadah. Sekretaris dan office boy sudah paham akan kebiasaan kami, sehingga mereka acap berpamitan pulang lebih dulu selepas jam kantor. Mereka tahu obrolan kami bisa berjam-jam hingga malam. Diskusi kami biasanya selesai jika salah satu putra kembarnya yg kuliah di UI, datang ke kantornya untuk pulang bersama ke rumah mereka di Jatiasih, Bekasi. Jika pas hari Senin atau Kamis, saya disuguhi teh manis dan makan malam nasi bungkus. Itu adalah menu berbuka puasa Pak Agus. Dia memang taat menjalankan ibadah puasa Senin Kamis. *** Pak Agus itu Bapaknya Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP). Dia yang mengomandani kelahiran badan yg amat vital dalam rezim pelaksanaan tender proyek pemerintah itu. Mulai dari membuat embrio LKPP di tingkat kementerian, menyiapkan rancangan aturan pendirian LKPP, merancang organisasinya hingga tetek bengek lainnya. Saya ingat persis bagaimana dia serius membahas dan menyiapkan lembaga ini, bareng Pak Ikak, Mbak Sarah, dan Mas Susetyo. Mereka bisa dianggap sebagai kuartet LKPP. Dia juga berjibaku “melawan” sejumlah organisasi pengusaha yg merasa terancam akan kehadiran LKPP. Maklum saja, kehadiran LKPP ini membuat urusan cincai-cincai, main mata dan broker-brokeran di tender proyek pemerintah makin sulit dilakukan. Saat LKPP benar-benar lahir sekitar tahun 2005, Pak Agus didaulat sebagai Sekretaris Utama LKPP. Pikiran saya yg awam, sewajarnya posisi itu jatuh ke Pak Agus. Selain bidan kelahiran LKPP, dia juga ngelotok bin fasih abis tetek bengek urusan LKPP. Namun presiden waktu itu berkehendak lain. Yg jelas, tak pernah sekalipun terdengar nada gerutuan atau kekesalan meluncur dari mulutnya kendati dia tak menjadi pemimpin pertama LKPP. Barulah lima tahun kemudian, tahun 2010, Pak Agus benar-benar menakhodai lembaga yg dibidaninya, sampai awal tahun 2015 lalu. *** Semenjak Pak Agus menjabat Sekretaris Utama maupun Kepala LKPP, saya mulai jarang bertandang ke kantornya, karena kesibukan dan lain hal. Suatu ketika selepas dilantik menjadi Kepala LKPP, saya mengirimkan SMS, mengutarakan niat hendak bersilaturahmi ke kantornya. Saya mengurungkan rencana itu karena SMS tak juga berbalas. Berhari-hari kemudian, barulah datang balasan. “Maaf telat balas, saya baru pulang umroh kemarin,” tulisnya. Sekali waktu, sore hari sekitar tahun 2012-an akhir, saya bisa berkunjung ke kantornya, di Gedung Smesco lantai 18 (atau berapa, saya lupa), Jalan Gatot Subroto. Tak banyak yg berubah dari tabiat Pak Agus. Hanya satu yg berubah: Pak Agus sudah meninggalkan kebicasaan Shaum Senin-Kamis. Kok? “Saya sekarang puasa Dawud,” ucapnya. Sehari berpuasa, sehari tidak. Begitu seterusnya. Bahkan ibadah ini rutin dia jalani sampai sekarang. Subhanallah. Sebagai orang yg pernah enam tahun nyantri di pesantren, saya hanya melongo. Alih-alih puasa Dawud, shaum Senin-Kamis pun nyaris bisa dihitung dengan jari. Makan-makan dan wisata kuliner di hari Senin dan Kamis rupanya masih sering menggoda saya. Nah, kembali ke pertanyaan istri saya di atas, jawabannya sepele: Don’t judge a book by its cover!!! Jangan pernah mengkafirkan orang!!! Sudah mampukah Anda menjalankan puasa Dawud, minimal rutin Senin-Kamis? Nabi bersabda, ”Jauhilah olehmu sekalian sifat dengki, karena dengki itu memakan kebaikan seperti api melalap kayu bakar.” (HR Abu Dawud, No 4257). (arh)
Anggota Fraksi Nasdem DPR Teuku Taufiqulhadi.[/caption] “Emang Pak Agus non-muslim, Bah?” tanya istri saya. Agus yang dia maksud tak lain Agus Rahardjo, Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang baru. Tumben-tumbenan istri saya bertanya begitu. Biasanya dia cuek dan gak peduli dengan agama kolega atau kawan-kawan saya. Tapi kali ini dia merasa penasaran sehingga harus meluncurkan pertanyaan tsb, gegara sebuah tulisan berantai ttg profil Ketua KPK yang baru, lengkap dengan “peta agama” mereka, mampir ke Whatsapp-nya. Di situ ditulis Kristen sebagai agama Agus Rahardjo. “Tulisan sampah, itu. Buang-buang waktu saja baca begituan,” jawab saya enteng sambil terus membersihkan koleksi batu akik yang lama tidak saya sentuh. “Tapi rame banget dibahas di grup ibu-ibu,” ujarnya lagi. Saya hanya diam dan tetap asyik dengan akik saya. “Bukannya istri Pak Agus berhijab, ya Bah?” ujarnya penasaran, sembari mencari pembenaran tulisan berantai itu memang salah adanya. Istri saya memang pernah bertemu Bu Agus Rahardjo sewaktu kami kondangan ke pernikahan putrinya. *** Saya mengenal Pak Agus sekitar awal tahun 2000, tak lama setelah beliau naik haji. Waktu itu dia masih menjabat sebagai Direktur Sistem dan Prosedur Pendanaan Bappenas. Saya mengiranya menggunakan ONH plus, secara dia sudah pejabat eselon II. “Saya pake ONH biasa karena mampunya itu,” tandasnya. Clakep…saya terdiam. Semenjak itu saya sering bertemu Pak Agus, terutama sore hari, di ruang kantornya, lantai 6 Gedung Bappenas Taman Suropati. Kami ngobrol apa saja, mulai dari urusan ringan hingga diskusi urusan negara. Saya acap diajar tentang pendanaan pembangunan, celah-celah pendanaan pembangunan yg acap dimainkan pejabat dst. Dari dia juga saya tahu apa itu bluebook, sebuah buku yg isinya daftar proyek pemerintah. Kami ngobrol bisa sampai berjam-jam, dan hanya jeda waktu shalat Magrib maupun Isya. Kami shalat di ruang kantornya. Dia memang selalu menyediakan sajadah. Sekretaris dan office boy sudah paham akan kebiasaan kami, sehingga mereka acap berpamitan pulang lebih dulu selepas jam kantor. Mereka tahu obrolan kami bisa berjam-jam hingga malam. Diskusi kami biasanya selesai jika salah satu putra kembarnya yg kuliah di UI, datang ke kantornya untuk pulang bersama ke rumah mereka di Jatiasih, Bekasi. Jika pas hari Senin atau Kamis, saya disuguhi teh manis dan makan malam nasi bungkus. Itu adalah menu berbuka puasa Pak Agus. Dia memang taat menjalankan ibadah puasa Senin Kamis. *** Pak Agus itu Bapaknya Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP). Dia yang mengomandani kelahiran badan yg amat vital dalam rezim pelaksanaan tender proyek pemerintah itu. Mulai dari membuat embrio LKPP di tingkat kementerian, menyiapkan rancangan aturan pendirian LKPP, merancang organisasinya hingga tetek bengek lainnya. Saya ingat persis bagaimana dia serius membahas dan menyiapkan lembaga ini, bareng Pak Ikak, Mbak Sarah, dan Mas Susetyo. Mereka bisa dianggap sebagai kuartet LKPP. Dia juga berjibaku “melawan” sejumlah organisasi pengusaha yg merasa terancam akan kehadiran LKPP. Maklum saja, kehadiran LKPP ini membuat urusan cincai-cincai, main mata dan broker-brokeran di tender proyek pemerintah makin sulit dilakukan. Saat LKPP benar-benar lahir sekitar tahun 2005, Pak Agus didaulat sebagai Sekretaris Utama LKPP. Pikiran saya yg awam, sewajarnya posisi itu jatuh ke Pak Agus. Selain bidan kelahiran LKPP, dia juga ngelotok bin fasih abis tetek bengek urusan LKPP. Namun presiden waktu itu berkehendak lain. Yg jelas, tak pernah sekalipun terdengar nada gerutuan atau kekesalan meluncur dari mulutnya kendati dia tak menjadi pemimpin pertama LKPP. Barulah lima tahun kemudian, tahun 2010, Pak Agus benar-benar menakhodai lembaga yg dibidaninya, sampai awal tahun 2015 lalu. *** Semenjak Pak Agus menjabat Sekretaris Utama maupun Kepala LKPP, saya mulai jarang bertandang ke kantornya, karena kesibukan dan lain hal. Suatu ketika selepas dilantik menjadi Kepala LKPP, saya mengirimkan SMS, mengutarakan niat hendak bersilaturahmi ke kantornya. Saya mengurungkan rencana itu karena SMS tak juga berbalas. Berhari-hari kemudian, barulah datang balasan. “Maaf telat balas, saya baru pulang umroh kemarin,” tulisnya. Sekali waktu, sore hari sekitar tahun 2012-an akhir, saya bisa berkunjung ke kantornya, di Gedung Smesco lantai 18 (atau berapa, saya lupa), Jalan Gatot Subroto. Tak banyak yg berubah dari tabiat Pak Agus. Hanya satu yg berubah: Pak Agus sudah meninggalkan kebicasaan Shaum Senin-Kamis. Kok? “Saya sekarang puasa Dawud,” ucapnya. Sehari berpuasa, sehari tidak. Begitu seterusnya. Bahkan ibadah ini rutin dia jalani sampai sekarang. Subhanallah. Sebagai orang yg pernah enam tahun nyantri di pesantren, saya hanya melongo. Alih-alih puasa Dawud, shaum Senin-Kamis pun nyaris bisa dihitung dengan jari. Makan-makan dan wisata kuliner di hari Senin dan Kamis rupanya masih sering menggoda saya. Nah, kembali ke pertanyaan istri saya di atas, jawabannya sepele: Don’t judge a book by its cover!!! Jangan pernah mengkafirkan orang!!! Sudah mampukah Anda menjalankan puasa Dawud, minimal rutin Senin-Kamis? Nabi bersabda, ”Jauhilah olehmu sekalian sifat dengki, karena dengki itu memakan kebaikan seperti api melalap kayu bakar.” (HR Abu Dawud, No 4257). (arh)




























