Marak Pengungsi, Penyelundup Manusia Untung Besar

Marak Pengungsi, Penyelundup Manusia Untung Besar
Jakarta, Obsessionnews - Saat gelombang pengungsi begitu besarnya memasuki daratan Eropa akibat perang, para penyelundup manusia justru meraup keuntungan belasan triliun rupiah. Sekedar catatan, pengungsi yang lari dari negaranya di Timur Tengah serta Afghanistan sudah lebih dari 1 juta orang. Ribuan di antaranya kudu meregang nyawa di tengah laut. Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) menyebutkan, dari 1 juta pengungsi yang hendak memasuki Eropa, 3.700 di antaranya meninggal di tengah laut saat menempuh perjalananan dengan perahu sangat sederhana. Semuanya, melintasi Laut Mediterania atau Laut Aegean. Data IOM seperti dilansir Reuters juga menyebutkan, dari 1 juta pengungsi tersebut, setengah di antaranya merupakan warga Suriah, 20 persen berasal dari Afghanistan dan 7 persen adalah orang Irak. Demi memasuki Eropa dengan perahu seadanya, para pengungsi meminta bantuan penyelundup manusia dan kudu membayar ongkos sebesar 2 ribu dolar AS sampai 6 ribu dolar AS. Ini, tergantung jumlah anggota keluarga yang turut serta. Menurut Kepala IOM William Lacy Swing, dengan tarif semahal itu, para penyelundup manusia malah meraup keuntungan hingga 1 miliar dolar AS atau lebih dari Rp 13 triliun untuk tahun ini saja. Sementara itu, jika diakumulasi, sejak tahun 2010 hingga 2015 penyelundup sudah mendulang untung mencapai 10 miliar dolar AS. Per 21 Desember 2015, menurut catatan IOM sudah ada 1.005.504 pengungsi yang tiba di Yunani, Bulgaria, Italia, Spanyol, Malta serta Siprus. Badan pengungsi PBB UNHCR menyebutkan, jumlah imigran gelap akibat konflik di seluruh dunia sudah menyentuh angka 60 juta jiwa. Konflik seperti perang Suriah, Ebola dan Boko Haram di Afrika Barat, gempa bumi di Nepal, kekerasan di Libya, Yaman, Sudan Selatan, Republik Afrika Tengah, Afghanistan serta Irak, merupakan pemicu gelombang pengungsi besar-besaran. Antonio Guterres, Kepala UNHCR menyerukan agar ara pengungsi segera direlokasi bahkan membaginya secara rata ke tiap negara Eropa sebab penampungan yang ada sudah tak sanggup lagi melayani. (Mahbub Junaidi)