Hormon Seks untuk Menjaga Kualitas Tulang

Hormon Seks untuk Menjaga Kualitas Tulang
Osteoporosis biasanya terjadi pada wanita pasca menopause. Meski begitu, bukan berarti para pria terbebas dari penyakit pengeroposan tulang ini. Sama seperti wanita, osteoporosis pada pria juga sering kali terjadi seiring dengan bertambahnya usia. Berbeda dengan wanita yang kehilangan tulang lebih cepat setelah masa menopause, derajat kehilangan tulang pada pria lansia berlangsung lebih lambat. Terlepas dari asupan kalsium dan vitamin D, jumlah hormon seks yang cukup juga dapat membantu menjaga kualitas tulang yang baik. Selain itu, kondisi yang menyebabkan peningkatan jumlah hormon tiroid atau paratiroid juga dapat menyebabkan kehilangan tulang. Kepadatan mineral tulang/bone mineral density (BMD) dapat diketahui dengan melakukan pemeriksaan X-ray dual absorptiometry tulang, suatu pemeriksaan X-ray sederhana dan non invasif yang dapat mendeteksi kualitas tulang seseorang dan dibandingkan dengan dewasa muda yang sehat. Hasil BMD dapat dikategorikan sebagai normal, atau osteopaenia (atau pre-osteoporosis, menurut istilah layman) atau osteoporosis. Namun bukan berarti bahwa penderita dengan osteopaenia memiliki resiko rendah mengalami fraktur. Faktor pendukung lainnya antara lain lemah, berbadan kecil, sering terjatuh, merokok, mengonsumsi alkohol, riwayat keluarga fraktur, hingga karena penggunaan obat-obatan tertentu, misalnya penggunaan steroid terlalu lama yang terdapat pada obat-obatan tradisional, serta penyakit seperti rheumatoid arthritis. Contoh kasus, seorang pria berusia 70 tahun, merokok hingga 20 batang per hari dan kemudian mengeluh nyeri pinggang. Meski telah meminum obat penghilang sakit namun nyeri tersebut datang kembali. Ia pun memutuskan ke dokter. Hasil pemeriksaan X-ray diketahui bahwa terdapat fraktur kompresi pada salah satu tulang belakang pinggangnya, dan hal itu yang menyebabkan rasa nyeri. Dokter menyarankannya melakukan pemeriksaan kepadatan mineral tulang, sebuah prosedur sederhana yang dapat memastikan apakah ia menderita osteoporosis pada tulang belakang. Menurut dr. Richard Yuan-Tud Chen, seorang konsultan dan endokrinologis di Glen Arden Endocrinology Specialist Clinic, Gleneagles Medical Centre Singapura, kondisi seperti yang dialami pria itu membuktikan bahwa si pria tadi memiliki kadar vitamin D dan testosteron, hormon seks pada pria yang rendah. Menurut dr. Chen, selain vitamin D, kualitas tulang yang baik juga ditentukan oleh kadar testosteron. Chen mengatakan, menurunnya hormon testosteron pada pria lansia memiliki risiko tinggi mengalami kehilangan tulang dan fraktur. Testosteron yang rendah juga menyebabkan terjadinya kehilangan kekuatan otot dan kelemahan, fungsi seksual dan kualitas hidup buruk (menjadi mudah lelah, stamina berkurang), terjadi diabetes dan mortalitas tinggi akibat penyakit jantung. Meski dari pemeriksaan kepadatan tulang diketahui bahwa si pria tersebut masih termasuk dalam kategori osteopaenik (yaitu belum mengalami osteoporosis namun jumlahnya telah berkurang), dia memiliki resiko mengalami fraktur kembali karena telah memiliki riwayat fraktur. Pada kasus tersebut, perawatan dilakukan dari berbagai sisi. Dimana sebagian besar penderita mengkonsumsi vitamin D3 dengan dosis 1000 unit per hari, dosis ini tidak cukup untuk mengatasi kekurangan ini. Pasien seperti contoh kasus tersebut, harus diberikan vitamin D2 dengan dosis 50.000 unit seminggu sekali selama 2 bulan. Sementara defisiensi testosteronnya ditangani dengan suntikan testosteron yang dapat bertahan selama 3 bulan. Jenis terapi ini memastikan bahwa tidak ada testosteron yang terbuang akibat penyerapan yang kurang baik. Peningkatan hasil BMD dapat diketahui setelah 6 bulan dimulainya terapi testosteron dan tetap terjaga selama terapi testosteron terus dilakukan. Terlepas dari peningkatan kualitas tulang, si pasien tersebut mengalami peningkatan kualitas hidup yang dramatis setelah kadar testosteronnya terjaga. Staminanya lebih baik, tidak lagi mengantuk di sore hari, dan ketertarikan seksualnya kembali lagi. Dia juga mengatakan bahwa garis pinggangnya berkurang. Walaupun terapi vitamin D dan defisiensi testosteron penting pada kasus osteoporosis pada pria, terapi standar osteoporosis seperti bisfosfonat juga harus dilakukan. Terapi bisfosfonat biasanya dilakukan secara oral setiap minggu. Namun hal itu tidak efektif karena penyerapan tubuh penderita yang buruk. Zoledronate, salah satu jenis bisfosfonat, tersedia dalam suntikan intravena sekali setahun yang dapat dilakukan di klinik. (Suci Yulianita/Men’s Obsession)