Komisi III DPR Puji Habis-Habisan Lapas Wanita Semarang

Semarang, Obsessionnews - Anggota Komisi III DPR RI Tjatur Sapta Edy memuji keberhasilan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Wanita Klas II dalam membina warga binaan mereka. Sebab, dalam kunjungan kerja anggota dewan ke Lapas wanita tersebut, ditemukan banyak hal kreatif yang patut untuk dicontoh Lapas lain. "Warga binaan disini menerima binaan ketrampilan, sebagai bekal nanti mereka terjun di masyarakat," jelas politisi PAN usai acara berlangsung, Selasa (22/12/2015). Bukan sekedar pemberian ketrampilan, pihak Lapas pun memfasilitasi para narapidana dengan menjual karya mereka, yang kemudian hasilnya diberikan kembali, untuk memenuhi kebutuhan keluarga mereka di luar Lapas. "Ini yang mungkin tidak didapat oleh warga binaan di tempat lain," terangnya lagi.
Memang, dari pengamatan obsessionnews.com, setidaknya terdapat lima ketrampilan diajarkan kepada warga binaan di Lapas yang pernah meyabet penghargaan Kementrian Aparatur Negara dan Komisi Pemberantasan Korupsi. Mulai dari tari-tarian, barang jadi berupa selimut dan boneka hingga kain batik dengan motif yang menawan. "Saya mewakili Komisi III, memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Kalapas, untuk kami minta prestasinya ditingkatkan lagi," tandas dia.
Sementara Kepala Lapas Wanita Bulu, Suprobowati mengaku seluruh hasil ketrampilan warga binaan biasanya dijual saat pameran ataupun kegiatan di instansi pemerintahan. "Mereka (warga binaan) langsung dibayar. Pokoknya begitu jadi, laku, preminya langsung dibayar," tutur wanita berhijab tersebut. Pihaknya mengggandeng sejumlah lembaga, seperti Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi. Selain itu, Suprobowati juga menjelaskan, saat ini Lapas Bulu tengah mengundang instruktur batik, yang mana akan mengajar selama 20 kali pertemuan, untuk mengasah ketrampilan warga binaan dalam membatik. Ia pun tetap memberi instruksi beberapa petugas Lapas agar ikut belajar membatik. "Setelah 20 kali, instrukturnya keluar, disini (Lapas) menciptakan kader-kader, ada petugas juga yang ikut belajar," ujar dia.
Pembinaan berupa ketrampilan ini hukumnya wajib untuk seluruh penghuni Lapas. Lapas Bulu sendiri menggunakan metode penilaian secara online. Bila warga binaan mengikuti kegiatan kerja, maka mendapat poin hijau, jika tidak merah. Pada akhir bulan, seluruh poin akan direkap seluruhnya. "Kalau lebih dari 70% dapat mengikuti program pembinaan yang berujung pada grasi dan sebagainya," ucapnya lagi. Sehingga, warga binaan merasa termotivasi, dan terus memacu diri mengikuti ketrampilan yang disediakan oleh Lapas. Kedepan, Suprobowati akan terus memberikan program-program lain, yang sekiranya dapat menambah nilai dukung, dari Pemasyarakatan itu sendiri. (Yusuf IH)
Memang, dari pengamatan obsessionnews.com, setidaknya terdapat lima ketrampilan diajarkan kepada warga binaan di Lapas yang pernah meyabet penghargaan Kementrian Aparatur Negara dan Komisi Pemberantasan Korupsi. Mulai dari tari-tarian, barang jadi berupa selimut dan boneka hingga kain batik dengan motif yang menawan. "Saya mewakili Komisi III, memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Kalapas, untuk kami minta prestasinya ditingkatkan lagi," tandas dia.
Sementara Kepala Lapas Wanita Bulu, Suprobowati mengaku seluruh hasil ketrampilan warga binaan biasanya dijual saat pameran ataupun kegiatan di instansi pemerintahan. "Mereka (warga binaan) langsung dibayar. Pokoknya begitu jadi, laku, preminya langsung dibayar," tutur wanita berhijab tersebut. Pihaknya mengggandeng sejumlah lembaga, seperti Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi. Selain itu, Suprobowati juga menjelaskan, saat ini Lapas Bulu tengah mengundang instruktur batik, yang mana akan mengajar selama 20 kali pertemuan, untuk mengasah ketrampilan warga binaan dalam membatik. Ia pun tetap memberi instruksi beberapa petugas Lapas agar ikut belajar membatik. "Setelah 20 kali, instrukturnya keluar, disini (Lapas) menciptakan kader-kader, ada petugas juga yang ikut belajar," ujar dia.
Pembinaan berupa ketrampilan ini hukumnya wajib untuk seluruh penghuni Lapas. Lapas Bulu sendiri menggunakan metode penilaian secara online. Bila warga binaan mengikuti kegiatan kerja, maka mendapat poin hijau, jika tidak merah. Pada akhir bulan, seluruh poin akan direkap seluruhnya. "Kalau lebih dari 70% dapat mengikuti program pembinaan yang berujung pada grasi dan sebagainya," ucapnya lagi. Sehingga, warga binaan merasa termotivasi, dan terus memacu diri mengikuti ketrampilan yang disediakan oleh Lapas. Kedepan, Suprobowati akan terus memberikan program-program lain, yang sekiranya dapat menambah nilai dukung, dari Pemasyarakatan itu sendiri. (Yusuf IH)




























