Darurat Alam Jabar, Deklarasikan Seruan Pasir Impun

Bandung, Obsessionnews - Prihatin terhadap kondisi alam Jawa Barat (Jabar) yang memasuki katagori darurat, Gerakan Jabar Hejo segera deklarasikan seruan Pasir Impun. Acara tersebut menurut koordinator gerakan Jabar Hejo Eka Santosa, Senin (21/12) akan berlangsung Rabu (23/12) dengan diisi Saresehan Masyarakat Perikanan Jabar dalam mengonsumsi dan membangkitkan kembali ikal lokal atau endemik. Eka menjelaskan Gerakan jabar Hejo yang kelahirannya diinisiasi sesepuh Jawa Barat, Letjen TNI (purn) Solihin GP (90) mantan Gubernur Jabar (1970 – 1974), bersama Eka Santosa, mantan Ketua DPRD Jabar dan Ketua Komisi ll DPR RI (2004 – 2009) pada 25 November 2015 lalu di Alam Santosa Pasir Impun Kabupaten Bandung. Saresehan ini, jelas Eka akan digelar di Alam Santosa sebuah kawasan ekowisata dan budaya di Kabupaten Bandung (Bandung Timur). “Ya ini program bulan pertama kami. Nantinya Gerakan Hejo diharapkan setiap bulan melakukan program sejenis dengan muara menghijaukan Jabar dengan tema beraneka-ragam," kata Eka didampingi Ketua Panitia Saresehan Perikanan Jawa Barat Agus Warsito. Menurutnya dari data BPLHD Jabar tahun 2002 lalu, Sejak 1994-2000, hutan lindung di Jabar berkurang sekitar 106.851 ha (24%), hutan produksi berkurang sekitar 130.589 ha (31%). Selain itu, timpal Eka Persawahan pada periode ini berubah fungsi menjadi bukan lahan persawahan seluas kurang lebih 165.903 ha (71%). "Fenomena ini sudah lama menurunkan daya dukung lingkungan. Kerusakan lingkungan lebih parah, kini kita rasakan mulai dari hutan, sungai, pesisir, termasuk kekayaan bio diversity yang sejak dulu merupakan kekayaan kita," tandas Eka. Keprihatinan lain, jelasnya yang menjadi pemicu lahirnya Gerakan Hejo disebabkan fenomena kasat mata degradasi kawasan lindung Jawa Barat yang seharusnya 45%, tetap saja 20% atau stagnan, bahkan cenderung menurun. Lahan kritis, kini terhitung sekitar 600.000 hektar di Jawa Barat. Akibatnya, lanjut Eka, kondisi sungai, 50% tidaklah bersih, 95% kondisi sungai di pekotaan tercemar limbah. Ia menambahkan, alih fungsi lahan antara industrialisasi dan pertanian, 'pabaliut' atau kacau balau. Di lapangan terjadi perebutan antara peruntukan industri, pemukiman, pertanian serta perikanan yang tersisih. [caption id="attachment_84116" align="aligncenter" width="626"]
Husen Lauk[/caption] Jabar Darurat Kondisi lingkungan Jawa Barat (Jabar) dalam 10 tahun terakhir ini, sudah pada tahap darurat. Dijelaskan Eka melalui upaya mengugah pentingnya ikan endemik (lokal) diharapkan daya dukung lingkungan bisa kembali normal, seperti halnya 10 tahun lalu. Harapannya, tambah dia tumbuh the green farm fish untuk berkembangnya ikan endemik. "Memang perlu revolusi hijau untuk Jawa Barat ini jangan hanya sekedar jargon," tegas Eka. Eka mengaku melalui Gerakan Hejo dalam waktu dekat akan membuka wawasan baru untuk menghijaukan Jawa Barat. “Pada Saresehan lusa itu diperkirakan hadir 300 orang diantaranya para pakar dan pemerhati lingkungan hidup," ujar Agus Warsito panitia Saresehan. Pada kesempatan tersebut dijadwalkan hadir Ketua MAI (Masyarakat Aqua Kultur Indonesia)Prof. DR. Ir. Rokhmin Dahuri, Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan UNPAD DR. Ir. Iskandar, DR. Ir. Deny Indradjaja MS, Ketua Gabungan Pengusaha Makanan Ternak (GPMT) serta Drs. Jojo Subagja Msi dari Balai Penelitian Perikanan Budidaya Air Tawar. Para pakar perikanan ini akan membahas potensi, kondisi terkini dan masa depan yang penuh dengan berbagai keunggulannya. Beberapa diantara ikan endemik itu, nilem (Osteochilus hasselti), tambakang (Helostoma temmincki), tawes (Puntius gonionotus), gurami (Osphronemus gouramy) dan beureum panon (Puntius orphoides). ”Harus diingat keberadaan ikan asing yang bersifat invasive itu jangan membuat kita terlena," papar Agus. Sementara itu menurut Ir. H Mohammad Husen, pakar perikanan yang biasa disapa Husen Lauk yang akan menjadi moderator acara Saresehaan nanti menyebutkan ikan endemik jangan sampai terdesak ikan patin dan nila dari luar negeri. "Sejatinya ikan endemik itu punya keunggulan tersendiri, namun anehnya Pemerintah kita lupa akan hal itu," ucap Husen. Deklarasi Pasir Impun Pada kesempatan tersebut juga dijadwalkan pembacaan deklarasi Pasir Impun. Deklarasi berisi ajakan kepada Pemerintah, kalangan pembudi-daya ikan, pecinta lingkungan dan warga Jabar pada umumnya. “Deklarasi ini amat penting untuk mengawali kepedulian warga Jabar dan Indonesia, kembali memelihara, mengembangkan dan mengkonsumsi ikan endemik," ucap Husen. Keberadaan Alam Santosa di Pasir Impun Kabupaten Bandung menurut Husen cocok untuk dijadikan lokasi pembibitan ikan endemik Jabar yang nyaris punah. “Harusnya kita bangga seperti warga Tiongkok dengan Chinese Carp (Silver carp, Big head) dan warga India dengan Indian Carp (Mrigal, dan Rohu)," tegas Husen. Menurut Husen pihaknya akan serukan Indonesian Carp atau Indonesian Endemic Green Fish. (Dudy Supriyadi)
Husen Lauk[/caption] Jabar Darurat Kondisi lingkungan Jawa Barat (Jabar) dalam 10 tahun terakhir ini, sudah pada tahap darurat. Dijelaskan Eka melalui upaya mengugah pentingnya ikan endemik (lokal) diharapkan daya dukung lingkungan bisa kembali normal, seperti halnya 10 tahun lalu. Harapannya, tambah dia tumbuh the green farm fish untuk berkembangnya ikan endemik. "Memang perlu revolusi hijau untuk Jawa Barat ini jangan hanya sekedar jargon," tegas Eka. Eka mengaku melalui Gerakan Hejo dalam waktu dekat akan membuka wawasan baru untuk menghijaukan Jawa Barat. “Pada Saresehan lusa itu diperkirakan hadir 300 orang diantaranya para pakar dan pemerhati lingkungan hidup," ujar Agus Warsito panitia Saresehan. Pada kesempatan tersebut dijadwalkan hadir Ketua MAI (Masyarakat Aqua Kultur Indonesia)Prof. DR. Ir. Rokhmin Dahuri, Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan UNPAD DR. Ir. Iskandar, DR. Ir. Deny Indradjaja MS, Ketua Gabungan Pengusaha Makanan Ternak (GPMT) serta Drs. Jojo Subagja Msi dari Balai Penelitian Perikanan Budidaya Air Tawar. Para pakar perikanan ini akan membahas potensi, kondisi terkini dan masa depan yang penuh dengan berbagai keunggulannya. Beberapa diantara ikan endemik itu, nilem (Osteochilus hasselti), tambakang (Helostoma temmincki), tawes (Puntius gonionotus), gurami (Osphronemus gouramy) dan beureum panon (Puntius orphoides). ”Harus diingat keberadaan ikan asing yang bersifat invasive itu jangan membuat kita terlena," papar Agus. Sementara itu menurut Ir. H Mohammad Husen, pakar perikanan yang biasa disapa Husen Lauk yang akan menjadi moderator acara Saresehaan nanti menyebutkan ikan endemik jangan sampai terdesak ikan patin dan nila dari luar negeri. "Sejatinya ikan endemik itu punya keunggulan tersendiri, namun anehnya Pemerintah kita lupa akan hal itu," ucap Husen. Deklarasi Pasir Impun Pada kesempatan tersebut juga dijadwalkan pembacaan deklarasi Pasir Impun. Deklarasi berisi ajakan kepada Pemerintah, kalangan pembudi-daya ikan, pecinta lingkungan dan warga Jabar pada umumnya. “Deklarasi ini amat penting untuk mengawali kepedulian warga Jabar dan Indonesia, kembali memelihara, mengembangkan dan mengkonsumsi ikan endemik," ucap Husen. Keberadaan Alam Santosa di Pasir Impun Kabupaten Bandung menurut Husen cocok untuk dijadikan lokasi pembibitan ikan endemik Jabar yang nyaris punah. “Harusnya kita bangga seperti warga Tiongkok dengan Chinese Carp (Silver carp, Big head) dan warga India dengan Indian Carp (Mrigal, dan Rohu)," tegas Husen. Menurut Husen pihaknya akan serukan Indonesian Carp atau Indonesian Endemic Green Fish. (Dudy Supriyadi)




























