Gerakan Radikalisme Ada yang Wajar, Ada yang Tidak

Gerakan Radikalisme Ada yang Wajar, Ada yang Tidak
Jakarta, Obsessionnews - Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah, Dahnil Anzar Simanjuntak, menuturkan, gerakan radikalisme Islam di Indonesia memang sudah terbangun cukup lama. Namun, keberadaannya mulai terlihat semenjak reformasi, dimana Indonesia sudah menganut sistem demokrasi. Gerakan radikalisme Islam ini adalah kiriman dari Timur Tengah. Mereka kata Dahnil, ingin mencoba menyebarkan pengaruhnya ‎di Indonesia yang mayoritas penduduknya adalah Muslim. Wacana yang sering dikampanyekan oleh kelompok ini adalah pembentukan negara Islam, seperti kelompok Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Mujahidin dan kelompok Islam yang lain. Meski demikian Dahnil menilai, ‎gerakan Radikalisme Islam di Indonesia ini dianggap wajar sepanjang itu masih masuk dalam tataran wacana, atau diskusi dikampus-kampus. Kecuali kata dia, jika gerakan radikalisme sudah masuk dalam wilayah politik, menurutnya tidak wajar dan harus dicegah. "Dalam konteks wacana, saya pikir tidak ada masalah. Dalam konteks diskursus, di kampus, di forum-forum seperti ini itu tidak ada masalah. Yang jadi masalah kalau kemudian, menjadi gerakan masif. Maksudya gerakan aktif menjadi gerakan politik yang mendorong perubahan itu yang menjadi masalah," katanya dalam sebuah diskusi Gerakan Radikalisme di Bogor, Senin (21/12/2015) Dahnil melanjutkan, ‎"Kalau itu sudah masuk dalam gerakan politik, saya pikir itu sudah sangat mengancam. Saya pikir dalam konteks hari ini ada yang wajar dan ada yang tidak wajar. Saya masih menghormati mereka yang masih kampanye, melalui diskusi. Tapi kalau kelompok yang represif misalnya, melakukan tindakan kekerasan, kemudian kampanye anti Pancasila, itu menjadi ancaman kita," imbuhnya. Namun demikian pihaknya mengatakan, ‎selama ini Muhammadiyah tetap menjadi organisasi yang konsisten mengawal dan menjaga Pancasila dan NKRI. Banyak hal yang sudah dilakukan oleh Muhammadiyah dalam memajukan bangsa ini. Muhammadiyah juga aktif menyampaikan dakwah yang Islami sebagai pencerahan umat. ‎"Muhammadiyah saya pikir sadar betul modal dasar Indonesia. Sampai kapan pun itu keberagaam itu menjadi kekuatan Indonesia. Kalau kemudian, keberagaam itu dirusak. Maka rusak indonesia," jelasnya. Tidak hanya Muhammadiyah, organisasi Islam yang lain seperti Nahdlatul Ulama (NU) kata Dahnil juga punya peran penting untuk menjaga bangsa ini dari gerakan radikalisme. Untuk itu, dakwah organisasi ini diharapkan tidak hanya melalui kegiatan yang konvensional, tapi juga harus melalui media sosial. Sebab, gerakan radikalisme sekarang aktif mengunakan media sosial sebagai kampanye. "Makanya dakwah-dakwah itu tidak hanya dalam bentuk dakwah konvensional. Tapi juga harus masuk dalam dakwah melalui media sosial. Karena kelompok radikal sangat aktif di media sosial," jelasnya. Diketahui, diskusi ini diselenggarakan oleh Komunikonten, Instititut Media Sosial dan Diplomasi dengan tema 'Gotong Royong Menghadapi Radikalisme dan Memperjuangkan Nasionalisme di Media Sosial' di Gedung Pusat Pengembangan Islam Bogor (PPIB) Bogor. ‎Acara tersebut juga dihadiri oleh narasumber lain yaitu Pengasuh Pondok Pesantren Tebu Ireng Salahuddin Wahid, Wali Kota Bogor, Bima Arya, Emanuel Herdyanto (Mantan Sekjend PP Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia), Hariqo Wibawa (KOMUNIKONTEN) dan dimoderatori oleh Edrida Pulungan (novelis dan blogger) (Albar)