Cara Efektif Cegah Radikalisme di Media Sosial

Cara Efektif Cegah Radikalisme di Media Sosial
Bogor, Obsessionnews  - Tidak disangka semakin canggih perkembangan teknologi informasi di media sosial banyak dimanfaatkan tidak hanya untuk kepentingan yang positif, tapi juga banyak yang disalahgunakan untuk hal-hal yang negatif dengan menyebar kebencian, teror, dan paham-paham yang radikal. Direktur Eksekutif Komunikonten, Institut Media Sosial dan Diplomasi, Hariqo Wibawa Satria mengatakan, media memang memilih pengaruh besar untuk mengarahkan pikiran para penggunanya. Apapun informasi di media sosial terkadang bisa diterima secara mentah, tanpa perlu melakukan konfirmasi kebanaranya. Cara ini, kata Hariqo, sudah mulai dicoba oleh sekelompok gerakan radikalisme untuk menanamkan pengaruhnya di Indonesia melalui media sosial. Banyak ‎situs-situs yang menampilkan bahwa Islam adalah agama teroris, agama yang keras dan radikal. "Apapun namanya, radikalisme punya tujuan untuk memecah belah masyarakat Indonesia yang majemuk. Ini harus diwaspadai dan dilawan," ujar Hariqo saat menjadi pembicara dalam diskusi publik 'Gotong Royong Menghadapi Radikalisme dan Memperjuangkan Kepentingan Nasional di Media Sosial' di Bogor, Senin (21/12/2015). Misalnya, Hariqo menyebut belakangan ada ‎nitizen atau pengguna media sosial yang menyebut Nabi Muhammad bukan Nabi, tapi Babi. Ini jelas menurut Hariqo,  informasi ini sangat membahayakan dan memicu konflik agama khususnya umat Muslim yang merasa  dihina keyakinanya. Alumnus Pasca Sarjana Universitas Paramadina ini menyarankan, gerakan radikalisme tidak perlu diladeni dengan cara-cara yang kasar. Menurut Hariqo cukup, dilawan dengan cara-cara yang positif. Misalnya, membuat tulisan yang ilmiah, berdasarkan data yang isinya memuat hal-hal yang positif. "Kalau ada orang bilang Islam itu agama Teroris. Ya kalian harus buat juga tulisan Islam bukan agama teroris. Bukan hanya diam saja. Tapi buat karya yang mencerahkan," tuturnya. Hariqo menjelaskan, gerakan radikalisme memang tidak bisa dilawan dengan cara kasar. Sebab, cara itu hanya membuat masyarakat terkotak-kotakan dan terpecah belah. Hariqo meminta, kemua semua peserta diskusi yang hadir, untuk aktif mengkampanyekan mengenai nilai-nilai Islam yang Rahmatan lilalamin. ‎Selain, melalui peran media, Hariqo menambahkan, gerakan radikalisme juga bisa dicegah melalui berbagai kegiatan positif, seperti seminar, diskusi, dan juga membuatan buku. Semua itu kata dia, dibutuhkan peran serta masyarakat, mahasiswa,  dan juga organisasi masyarakat, maupun organisasi ‎Keislaman seperti Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah. "Kita harap akan selalu ada kegiatan seperti ini, yang mengkampanyekan bahaya radikalisme dan bagaimana pencegahannya," jelas Hariqo. Acara diskusi yang diselenggarakan oleh Komunikonten ini juga dihadiri oleh narasumber lain yaitu Wali Kota Bogor, Bima Arya, pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng Salahuddin Wahid atau Gus Solah, Dahnil Anzar Simanjuntak (Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah), Emanuel Herdyanto (Mantan Sekjend PP Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia), dan dimoderatori oleh Edrida Pulungan (novelis dan blogger). (Albar)